6 Fakta Menarik Tentang Dex Lite, BBM Jenis Baru di Indonesia
Apr 14, 2016
Brigade Siaga Bencana: Inovasi Pelayanan Kesehatan Kabupaten Bantaeng
Apr 19, 2016

Yuk, Berkenalan dengan Maskot-Maskot Menggemaskan dari Jepang

Penduduk Jepang memang terkenal kreatif dan ekspresif. Belakangan ini prefektur-prefektur di Jepang memiliki maskot untuk daerahnya masing-masing. Pemerintahan lokal memiliki mekanisme tertentu (mengadakan sayembara online mengenai desain-desain karakternya, dsbg) untuk memiih maskot daerah. Kemudian di tingkat nasional, maskot-maskot daerah akan dikompetisikan sehingga masyarakat dapat mengenal dan memilih mana maskot daerah favorit.

Produk-produk yang dijual dengan bergambarkan maskot daerah (biasanya berupa merchandise, notes, alat tulis, tas, casing hp, kemasan makanan dan minuman ringan, hingga kendaraan) harus membayarkan royalti atas hak cipta terhadap maskot tersebut. Royalti dibayarkan kepada pemerintah dan masuk sebagai salah satu pos pendapatan daerah.

Mikyan

mikyan parade-71

Mikyan merupakan maskot dari daerah Ehime, sebuah prefektur yang berada di barat Pulau Shikoku, Jepang. Ehime terkenal sebagai penghasil ‘mikan’, sejenis buah jeruk. Karena itu Mikyan berwarna oranye dengan kepala bulat dan telinga hijau daun.

Kumamon

20140624_kumamon_naruo_article_main_image
Selain Mikyan, ada pula karakter Kumamon dari prefektur Kumamoto. Maskot Kumamon diciptakan tahun 2010 dalam rangka promosi wisata melalui saat jalur kereta Shinkanshen ke wilayah Kyushu baru saja dibuka. Di tahun 2011, Kumamon terpilih menjadi maskot yang paling popular di Jepang. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah daerah Kumamoto mendapatkan pemasukan mencapai 10 milyar per tahun dari royalti atas penggunaan maskot Kumamoto di sejumlah produk.

Sejak tahun 2014, larangan penjualan barang internasional Kumamon dihapuskan. Maskot Kumamon diurus perizinannya secara resmi agar dapar pula digunakan dalam produk-produk yang dijual di sejumlah department store di Hongkong, Cina, Korea, Selatan, Taiwan, Singapura, Thailand, Uni Eropa, hingga Amerika Serikat. Ya, karena begitu popular, penggemar Kumamon berasal dari mancanegara!

Funassyi
funassyi

Dari salah satu daerah di prefektur Chiba, Funabashi, terdapat pula maskot yang diberi nama Funassyi. Nama Funassyi merupakan gabungan dari nama wilayah (FUNAbashi) dan nama buah khas dari daerah tersebut (NASHI, yang berarti buah pear). Menariknya, desain funasyi sempat dianggap jelek oleh kepala daerah sehingga hak cipta dari maskot tersebut akhirnya dipegang oleh individu (bukan pemerintah prefektur seperti pada umumnya). Karena kontroversial, masyarakat Jepang justru mencari-cari produk dengan maskot funassyi sehingga produk bergambar funassyi laku keras di pasaran. Pemegang hak cipta menjadi kaya raya, dan kepala daerah perlahan mengakui funassyi sebagai maskot dari prefektur yang dipimpinnya.

Barii-san

IMGP7087

Ketika berkunjung ke daerah Imabari, maskotnya bernama Barii-san yang merupakan karakter anak ayam. Adanya maskot-maskot membuat tiap daerah di Jepang memiliki daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Maskot-maskot daerah tersebut secara tidak langsung telah menjadi duta wisata di tiap wilayah. Kini, orang tak lagi hanya mengenal Tokyo, Kyoto, atau Hokaido. Keberadaan maskot Mikyan tentu saja meningkatkan minat masyarakat untuk berkunjung ke Ehime, begitu pula dengan keberadaan Kumamon. Berada di tengah-tengah Pulau Kyushu, wilayah Kumamoto kini mulai popular sebagai tujuan wisata. Tiga destinasi utama yang menjadi daya tarik Kumamoto ialah Kumamoto Castle, kastil bersejarah berusia ratusan tahun, Kaldera terbesar dunia di Pegunungan Aso serta Pulau Amasuka yang indah.

Adanya maskot-maskot daerah merupakan salah satu bentuk inovasi kebijakan yang dilakukan pemerintah Jepang. Banyak faktor sosial yang mendukung efektifitas keberadaan maskot daerah sebagai penunjang perekonomian prefektur-prefektur di Jepang. Masyarakat Jepang menghormati adanya hak cipta, dan pada dasarnya mereka juga menyukai adanya karakter-karakter yang unik dan lucu.

Apakah inovasi kebijakan seperti ini bisa dan cocok untuk diadaptasi di Indonesia?

Ulya Amaliya
Ulya Amaliya
After studying International Relations in Gadjah Mada University, she dedicated herself as NGO's officer of Social Research and Data Analysis in Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI).

Leave a Reply