Beranda MITI Artikel Siapkah (Masyarakat) Indonesia Dengan Nuklir ?
Siapkah (Masyarakat) Indonesia dengan Nuklir?
May 15, 2015
Theofilin Bantu Uji Mutu Teh Hitam Ortodox
Theofilin, Bantu Uji Mutu Teh Hitam Orthodox
May 19, 2015

Transportasi Memprihatinkan, BBM Mengkhawatirkan

Beranda MITI Artikel Transportasi Memprihatinkan, BBM Mengkhawatirkan

Peningkatan Kendaraan belum seimbang dengan Infrastruktur

Beranda MITI Artikel Transportasi Memprihatinkan, BBM Mengkhawatirkan

Peningkatan Kendaraan belum seimbang dengan Infrastruktur

Dari tahun ke tahun jumlah penduduk Indonesia sebagai salah satu negara berkembang di dunia terus mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan tersebut menimbulkan berbagai dampak terhadap aspek kehidupan manusia. Salah satu aspek yang cukup terpengaruh dengan adanya pertambahan jumlah penduduk adalah penggunaan energi untuk menunjang kebutuhan hidup yang meliputi sektor industri, transportasi, dan rumah tangga. Semakin banyak penduduk yang berada di sebuah negara, semakin banyak pula energi yang dibutuhkan dan digunakan oleh negara tersebut. Pola konsumsi di negara lain, di mana konsumsi bahan bakar minyak (BBM) sebagian besar digunakan untuk keperluan industri. Namun berbeda dengan di Indonesia, sebanyak 76 persen BBM digunakan untuk sektor transportasi yang didominasi oleh kendaraan pribadi.

Sektor transportasi terutama transportasi darat merupakan sektor dengan konsumsi energi terbesar ketiga di Indonesia (277 juta BOE), setelah sektor industri (320 juta BOE) dan sektor rumah tangga (360 juta BOE) pada tahun 2011 . Sektor transportasi mengkonsumsi lebih dari 76% dari minyak bumi Indonesia dimana lebih dari 70% dari ini dimanfaatkan oleh transportasi darat. Konsumsi energi di sektor transportasi diprediksi akan terus meningkat sejalan dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk sebesar 8.5 % ( 2.7 juta orang ) per tahun yang berarti kebutuhan akan transportasi (kendaraan) akan meningkat. Meningkatnya konsumsi bahan bakar minyak untuk transportasi yang diperburuk dengan semakin menurunnya produksi minyak bumi menyebabkan isu kritis karena meningkatnya beban fiskal dan kekurangan pasokan. Penurunan produksi Indonesia dilevel 800 ribu barrel/day akan sangat berat dalam penyediaan sumber bahan bakar setiap harinya. Hal ini terbukti ketika pemerintah harus impor minyak sebesar 700 ribu barrel/day. Oleh karenanya, reformasi terhadap kebijakan energi nasional yang efektif terutama untuk sektor transportasi perlu dirancang oleh pemerintah bersama kalangan akademisi.

Beranda MITI Artikel Transportasi Memprihatinkan, BBM Mengkhawatirkan

Permintaan BBM untuk Transportasi Skenario Dasar dan MP3EI

Reformasi kebijakan energi bukanlah suatu hal yang mudah karena kebijakan energi yang efektif harus mampu mendukung tercapainya kedaulatan energi baik dalam hal kemandirian, keamanan, dan ketahanan energi. Selain itu, dengan berkembangnya masalah lingkungan global, kebijakan energi nasional juga harus mempertimbangkan aspek lingkungan dikarenakan sektor transportasi di Indonesia adalah penyumbang terbesar gas pencemar (70% dari total gas pencemar) .

Transportasi darat masih terus mendominasi kebutuhan energi di sektor transportasi untuk jangka panjang. Oleh karena itu transportasi darat perlu mendapat perhatian serius dalam program efisiensi penggunaan energi untuk jangka panjang. Berbagai model dapat dikembangkan untuk menganalisis dampak program efisiensi terhadap perbaikan lingkungan hidup. Program efisiensi dapat dicapai melalui penggunaan teknologi yang lebih efisien dan substitusi penggunaan bahan bakar. Hal-hal tersebut perlu dibahas lebih lanjut dalam studi yang komprehensif secara bersama.

Untuk mengurangi konsumsi bahan bakar minyak dan beban fiskal karena subsidi, pemerintah bisa memaksimalkan pencanangan program yang telah dibuat yaitu konversi BBM ke BBG pada sektor transportasi sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM No. 19 Tahun 2010 tentang Pemanfaatan Gas Bumi untuk Bahan Bakar Gas yang digunakan untuk Transportasi. Secara bertahap, pemerintah bisa menerapkan bahan bakar ini untuk kendaraan umum terlebih dahulu yaitu bus dan taksi. Alternatif kebijakan lain misalnya peningkatan proporsi penggunaan alternatif bahan bakar yang ramah lingkungan seperti bioetanol atau biodiesel, pembatasan umur kendaraan, dan pembatasan jumlah atau kepemilikan kendaraan harus diselidiki lebih jauh secara bersama. Pada akhirnya, bauran energi optimal ditinjau dari aspek konsumsi (people), aspek fiskal (profit), dan aspek lingkungan (planet) menuju sistem transportasi berkelanjutan (sustainable transportation system) dapat dirumuskan.

Referensi :

Badan Pusat Statistik (BPS). Penduduk Indonesia menurut Provinsi 1971, 1980, 1990, 1995, 2000 dan 2010 2013; Available from: http://www.bps.go.id/

Center for Transportation and Logistics Studies of Gadjah Mada University and South South North Project, The Green House Gases Emission Reduction Program for Urban Buses in Yogyakarta 2003: Yogyakarta.

Sugiono,Agus.2012.Data Historis Konsumsi Energi dan Proyeksi Permintaan-Penyediaan Energi di Sektor Transportasi. Buku Energi Outlook Indonesia 2012: Jakarta.

Leave a Reply