Ciptakan Pasta Gigi dari Cangkang Telur, Mahasiswa Brawijaya Raih Medali Emas di Ajang Internasional
Mar 29, 2016
Ilmuwan BPPT Kembangkan Sensor dengan Metode Terbaru
Mar 30, 2016

Tradisi Berburu Paus Masyarakat Lamalera NTT

Perburuan Paus di Lamalera

Sumber Ilustrasi: florestisland.weebly.com

Lamalera, sebuah pesisir kecil di Pulau Lembata NTT yang meliputi beberapa dusun dan pantai, terkenal dengan adat berburu paus yang telah menyebar hingga ke dunia internasional. Perburuan paus ini telah menjadi adat yang turun-temurun diwariskan oleh nenek moyang warga Lamalera. Uniknya, warga Lamalera mengkhususkan untuk memburu ikan-ikan besar saja, seperti paus, pari, lumba-lumba, dan hiu. Kondisi alam di Lamalera yang kering dan berbatu menjadikan laut sebagai satu-satunya tumpuan hidup. Di luar musim berburu, kaum pria banyak menganggur atau bekerja di ladang yang kurang subur. Selain itu, kaum pria juga membuat kerajinan miniatur perahu pledang (Tulatena), kerajinan dari tulang paus (Tulakila), atau membuat kerajinan daun lontar untuk dijadikan anyaman. Sementara itu, kaum wanita menenun tenunan khas Lamalera yang berciri gambar paus, pledang, atau ritual adat.

Menurut sejarah, kegiatan perburuan paus di Desa Lamalera, Kabupaten Lembata, NTT, telah berlangsung sejak abad ke-16.  Masyarakat setempat percaya bahwa nenek moyangnya bisa menempati desa tersebut karena dibawa oleh ikan paus biru. Masyarakat Lamalera berburu paus pada musim Lefanua atau musim laut tenang untuk berburu. Sebelum berburu, masyarakat Lamalera melaksanakan Tabunamafata (upacara adat sebelum berburu) yang bertujuan untuk membersihkan diri dan memaafkan satu sama lain sebelum melaut. Selain itu juga mereka memohon izin kepada leluhur dan memohon hasil tangkapan yang banyak.

Tidak sembarang paus yang dapat diburu, hanya paus sperma yang jumlahnya lebih banyak dan tidak dilindungi yang bisa diburu. Masyarakat Lamalera juga tidak berburu paus yang sedang hamil atau paus yang baru saja melahirkan. Ini sudah menjadi aturan yang turun-temurun mereka terapkan. Dalam cara penangkapan, mereka menggunakan cara tradisional untuk berburu paus, bukan dengan peralatan modern yang dapat membunuh paus secara kejam. Hal yang menarik dari perburuan paus di Lamalera ini yaitu masyarakat tidak berburu paus untuk tujuan komersil, melainkan untuk dibagi-bagikan kepada warga.

lamalera2

Sumber Ilustrasi: kaskus.co.id

Ada yang memanfaatkan minyak paus untuk bahan lentera pada lampu; mengeringkan dagingnya dan dijadikan alat barter dengan komoditas lain; menjadikan tulangnya sebagai bahan kerajinan; ataupun hanya sekedar memasaknya saja untuk dimakan bersama anggota keluarga. Pembagian daging paus ini menjadi tradisi turun-temurun yang ditaati oleh semua orang Lamalera, sehingga dipastikan tidak ada rebutan saat daging itu dipotong.

Itulah sebabnya, masyarakat Lamalera menganggap tradisi ini layak dipertahankan, karena tetap mementingkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi untuk masyarakat. Walaupun masih menuai kritik dari beberapa kalangan, tradisi berburu paus masyarakat Lamalera diberi izin oleh lembaga konservasi dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Bahkan aktivitas berburu paus ini juga diakui sebagai tradisi secara internasional. Menariknya lagi, tradisi menangkap paus merupakan cara warga untuk menyambung hidup, bukan untuk kebutuhan komersil (subsistence economy). Secara kultural, ini menyangkut eksistensi masyarakat Lamalera turun-temurun. Lebih jauh lagi, proses penangkapan paus berpotensi menjadi daya tarik pariwisata NTT yang berdampak bagi peningkatan kesejahteraan Lamalera dan Lembata.

Berburu paus sebagai bentuk kearifan lokal masyarakat Lamalera ini menjadi modal sosial penting bagi masyarakat Lamalera untuk menyambung hidup. Kondisi lingkungan yang kurang subur dan keterasingan dari dunia luar menjadi bagian dari deprivation trap masyarakat Lamalera yang menyebabkan mereka berada di bawah garis kemiskinan. Oleh karena itu, tradisi berburu paus ini memiliki makna penting bagi masyarakat Lamalera. Tradisi berburu paus merupakan upaya warga Lamalera untuk mempertahankan kehidupan mereka di tengah kondisi lingkungan yang kurang memungkinkan untuk menggantungkan hidup di sektor lain sambil melestarikan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun. Sejatinya, kearifan lokal memang merupakan nilai asli dari masyarakat yang pasti memiliki makna dan manfaat baik secara eksplisit maupun implisit terhadap kehidupan mereka. Yang terpenting adalah menjaga tradisi ini agar tetap lestari sambil berupaya mengembangkan masyarakat sesuai dengan kondisi dan potensi yang ada. (SA)

 

Referensi :

Sachs, Jeffrey D. 2008. Common Wealth : Economics for A Crowded Planet. New York : The Penguin Press.

Suyanto, Bagong. 2013. Anatomi Kemiskinan dan Strategi Penanganannya. Malang : Intrans Publishing.

http://www.lembatakab.go.id/index.php/tradisi-penangkapan-ikan-paus-di-lamalera

Syadza Alifa
Syadza Alifa
Syadza Alifa adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial UI dengan peminatan Kemiskinan, Community Development, dan Corporate Social Responsibility. Selain memiliki minat di bidang akademis seperti penelitian sosial dan tulis-menulis, Syadza yang akrab dipanggil Ifa juga memiliki minat di bidang kehumasan dan public speaking. Dengan motto “Learn, Earn, Return”, Ifa bercita-cita ingin menjadi akademisi, policy maker, dan social worker, serta mendirikan yayasan yang bergerak di bidang kemiskinan, kesejahteraan anak, kesejahteraan perempuan, dan penanggulangan bencana.

Leave a Reply