Tidak banyak media yang memberikan informasi positif kepada masyarakat. Bila diamati, media-media di Indonesia yang ada saat ini masih terus berorientasi pada bisnis meski berjalan dengan prinsip bad news is a good news. Media hanya diisi dengan kabar politik, kriminalitas, gosip, yang pada akhirnya tidak mendidik masyarakat. Jarang yang mengabarkan kemajuan teknologi dan inovasi di dalam negeri.

Padahal, sepanjang sejarah, penguasaan dan kemajuan teknologi selalu menjadi tolok ukur sebuah bangsa yang berdaya. Tak hanya dapat memanfaatkan teknologi yang ada, tetapi juga mampu mencipta dan mengembangkannya. Sebuah bangsa menjadi berdaya, bukan semata karena faktor keberlimpahan sumber daya alam-nya, tapi lebih disebabkan oleh kebijakan yang ditempuh sumber daya manusia-nya.

Menurut World Economic Forum dalam Global Competitiveness Index 2014 terdapat faktor pendorong produktivitas yang dikelompokkan ke dalam 12 pilar daya saing.  Ke-12 pilar daya saing itu adalah institusi, infrastruktur, makro ekonomi, kesehatan dan pendidikan dasar, pendidikan tinggi, efisiensi pasar barang, efisiensi pasar tenaga kerja, pasar keuangan, kesiapan teknologi, ukuran pasar, kecanggihan bisnis, dan inovasi. Selanjutnya ke 12 pilar itu dikelompokkan ke dalam 3 kelompok pilar, yaitu: kelompok persyaratan dasar (Basic Requirements), kelompok penopang efisiensi (Efficiency Enhancers), dan kelompok inovasi dan kecanggihan bisnis (Innovation and Sophistication Factors).




Daya saing nasional berkaitan dengan institusi yang terdapat di dalamnya dan daya saing instansi berkaitan dengan sumber daya manusia (SDM). Hal ini saling berhubungan satu sama lain, jika daya saing SDM meningkat akan berpengaruh kepada daya saing institusi, dan begitu pula jika daya saing institusi meningkat maka juga akan mempengaruhi daya saing nasional. Oleh karena itu, pentingnya peran daya saing dari hal yang paling mendasar yaitu SDM.

Global Innovation Index 2014 untuk Asia Tenggara dan Asia Pasifik (Sumber : Global Innovation Index 2014)

Global Innovation Index 2014 untuk Asia Tenggara dan Asia Pasifik (Sumber : Global Innovation Index 2014)

SDM IPTEK inilah yang harus ditingkatkan sebagai salah satu motor penggerak industri dalam negeri. Kondisi Indonesia sebagai negara incaran para produsen luar negeri, Indonesia akan selalu tumbuh menjadi negara yang nyaman menikmati sebagai konsumen. Dampak inilah yang mestinya dibaca oleh industri tanah air. Bagaimana mampu menciptakan produksi dalam negeri dengan kualitas yang tidak kalah dengan produk luar negeri. Tentu ini bukan permasalahan yang mudah untuk dijawab. Apalagi menurut Global Innovation Index 2014, Indonesia menempati rangking ke-87 dari 142 Negara. Jauh tertinggal dari Singapura yang menempati rangking ke-7.

Salah satu usaha  besar yang dilakukan oleh negara-negara yang mendapat ranking tertinggi GII adalah proses transfer teknologi dan pengetahuan (knowledge and technology transfer) secara masif dan terfokus. Mereka mampu mengadopsi sekaligus beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi di negara-negara maju seperti Amerika dan Eropa. Sumber daya yang mampu menyerap serta mengaplikasikan ilmu yang mereka dapat dari pelajaran sebuah negara maju.

Inovasi menjadi kunci yang mampu menggerakkan anak-anak bangsa dalam mencapai terwujudnya kedaulatan pangan, berdikari dalam pengelolaan energi, dan menciptakan kelestarian lingkungan di negeri ini. Karena itu kami menyediakan ruang, menghadirkan beranda bagi pembaca yang ingin memberikan informasi serta menyampaikan ide dan gagasannya tentang inovasi teknologi hingga inovasi kebijakan di bidang pangan, energi, dan lingkungan. Berandainovasi.com  adalah sebuah tempat untuk berbagi dan berkontribusi. Bentuk ikhtiar untuk menciptakan media online yang hanya menyajikan berita positif, kredibel dan berisi. Berandainovasi.com dibuat untuk menjadi portal informasi seputar inovasi. Berandainovasi.com menghadirkan nuansa baru bagi masyarakat Indonesia dalam memahami inovasi, menjadi informasi yang bersifat inklusif, bukan hanya milik sebagian orang saja.