Daya Saing Indonesia di Mata Dunia
Feb 7, 2013
10 Bahan Pangan Indonesia Masih Impor
Feb 11, 2013

Technopreneurship: Kunci Sukses Membangun Indonesia Yang Madani Dan Berdayasaing Global

rcdc-pleretProduktivitas suatu negara sangat ditentukan oleh kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam mengelola potensi Sumber Daya Alam (SDA) yang dimilikinya. Salah satu SDM yang mempunyai potensi tinggi dalam berkarya, berkreasi dan berinovasi adalah pemuda.

Jumlah pemuda yang mencapai 27 % dari jumlah penduduk Indonesia, memiliki peran yang strategis bagi pertumbuhan dan perkembangan budaya inovasi. Namun di lain pihak, tingkat pengangguran terdidik yang sebagian besar adalah pemuda, semakin meningkat setiap tahunnya. Menurut data BPS tahun 2008,  jumlah penganggur terdidik sebanyak: 8.12 juta orang dengan presentase sebesar 24% adalah sarjana dan diploma. Dengan perbandingan data sebagai berikut: Sarjana 409.900 (2007) menjadi 626.200 (2008), Diploma 330.300 (2007) menjadi 519.900 (2008) dan terus meningkat tiap tahunnya seiring semakin sempitnya lapangan pekerjaan di negeri ini. Untuk itu, diperlukan upaya yang berkesinambungan dalam pengembangan potensi pemuda di Indonesia. Salah satunya melalui kegiatan technopreneurship sebagai wujud konkret kreativitas, kepedulian dan inovasi pemuda terhadap bangsa ini.

Mengingat pentingnya hal tersebut, Kabinet Indonesia Bersatu II, dalam program Pembangunan Nasional telah menetapkan 11 prioritas, dimana prioritas ke-11 adalah “Kebudayaan, Kreativitas dan Inovasi Teknologi”. Dengan adanya dukungan dari pemerintah terkait budaya berinovasi tentu hal ini menjadikan pelecut semangat yang luar biasa bagi para pemuda terbaik bangsa untuk berinovasi dan mempersembahkan karya yang terbaik untuk bangsa.

Kemampuan pemuda dalam berinovasi akan menjadi kurang sempurna apabila tidak dikemas dengan kemampuan bisnis yang didasarkan atas pemahaman mengenai identifikasi kebutuhan masyarakat. Mampu menyentuh lapisan paling bawah dalam tatanan  masyarakat sehingga tercipta konsep technopreneurship yang akan menjadi solusi dalam pembangunan ekonomi. Oleh karena itu, pemuda sebagai aktor utama technopreneurship mutlak mempunyai modal seperti keberanian, pengetahuan, kecerdikan dan ketekunan, keterampilan serta pengalaman kewirausahaan dalam kurikulum pendidikan secara sistematis.

Namun hal yang paling mendasar yakni mengubah cara pandang atau mindset pemuda menjadi technopreneurship mindset. Technopreneurship mindset yakni cara pandang untuk menjadi penyedia lapangan pekerjaan dengan memanfaatkan sumber daya IPTEK.

Kemudian setelah itu, maka langkah selanjutnya adalah menggali daya inovasi yang dimiliki oleh pemuda tersebut. Ada 10 jenis  inovasi yang dapat dikembangkan untuk technopreneurship semuanya adalah Model Bisnis (Business Model), Jaringan (Networking), Proses Inti (Core Process), Proses hingga barang jadi (Enabling Process), Kinerja Produk (Product Performance), Sistem Produk (Product System), Layanan (Service), Media (Channel), dan  Pelayanan  pelanggan (Customer Experience).

Berbekal 10 jenis inovasi tersebut kemudian disusunlah roadmap yang harus dimiliki oleh seorang technopreneur sukses yakni bermula dari inovasi teknologi yang dimiliki kemudian melakukan proses inkubasi teknologi (technology) dan rekayasa teknologi. Proses tersebut bertujuan ke arah komersialisasi hasil karya inovasi yang kadang terlupakan oleh banyak calon pelaku technopreneur sehingga mengalami kegagalan (valley of death). Hal ini diindikasikan oleh beberapa faktor seperti teknologi yang kurang aplikatif, tidak profitable, dan tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Walaupun banyak juga pemuda yang mampu melewati hambatan tersebut dan mampu menciptakan teknologi tepat guna yang aplikatif dan profitable.

Iklim technopreneurship bangsa Indonesia saat ini masih jauh tertingal dibandingkan dengan negara lain bahkan dengan  negara tetangga sendiri, Malaysia. Hal ini berkaitan dengan daya saing Indonesia di mata dunia. Dalam World Economic Forum (WEF), yang merilis Global Competitiveness Index, daya saing Indonesia menempati urutan ke-44 pada 2010, menurun menjadi 46 pada 2011 dan bahkan pada tahun 2012 peringkat Indonesia anjlok menjadi 50. Penilaian ini juga menunjukkan daya saing Indonesia masih lebih rendah dibandingkan Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Menurunnya daya saing diakibatkan oleh banyak hal seperti rendahnya kualitas pelayanan birokrasi, tidak efisiennya bisnis, meningkatnya biaya buruh, rendahnya kualitas infrastruktur, dan tingginya biaya investasi di Indonesia. Oleh karena itu, harapannya pemuda sebagai agen pembawa solusi dan garda terdepan pelaku utama technopreneur mampu mendongkrak daya saing bangsa dengan cara mengangkat kearifan lokal (local wisdom) dari potensi sumber daya daerah yang kemudian dipadukan dengan inovasi teknologi dan sentuhan bisnis. Dengan demikian, maka akan menjadi konsep technopreneurship yang mampu meningkatkan daya saing bangsa di kancah internasional.

“Kampung Biogas Gunung Kidul” yang mengoptimalkan potensi sumber daya peternakan sapi yang dimiliki masyarakat di Gunung Kidul dapat menjadi salah satu konsep technopreneurship. Kegiatan tersebut mampu membentuk badan usaha bersistem eco-education system yang akhirnya membawa dampak manfaat yang besar hingga menjangkau elemen masyarakat.kelas bawah. Kini saatnya Indonesia menunggu kontribusi nyata para pemuda bangsa untuk menjadi pelaku technopreneur handal yang mampu membawa bangsa ini menjadi bangsa yang madani dan berdaya saing global.

Oleh: Ari Akbar Devananta, Mahasiswa UGM, Anggota RCDC Pleret Yogyakarta

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply