Anak Muda dan Fenomena E-Commerce di Indonesia: Antara Kewirausahaan dan Konsumerisme
Oct 15, 2014
Eco Splash Tank: Belajar Berinovasi untuk Bantu Petani
Oct 29, 2014

Tanivolusi: Menuju Era Pertanian Kreatif

1Sektor pertanian masih menjadi andalan dalam pembangunan perekonomian Indonesia (Daryanto, 2011), meskipun sektor ini hanya berkontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 14,43% (BPS, 2014a). Kontribusi yang cukup rendah terhadap PDB menunjukkan bahwa sektor pertanian tidak produktif, padahal sektor ini menyerap tenaga kerja hingga 40 % (BPS, 2014b). Hal tersebut terjadi karena pembangunan sektor pertanian dibiarkan saja untuk ditopang oleh para pelaku utama berpendidikan rendah (BPPSDMP, 2011).

Tingkat pendidikan mayoritas petani yang rendah menjadi alasan terhambatnya transfer teknologi pertanian (Mulyandari et al. 2010). Selain itu, masyarakat berpendidikan tinggi juga umumnya kurang tertarik bekerja sebagai petani, karena sektor pertanian masih dipandang kurang bergengsi (Herwibawa, 2014). Berbagai pandangan negatif tersebut tercipta dan dibiarkan menjadi gambaran tentang pertanian di Indonesia selama bertahun tahun. Oleh sebab itu, perlu diupayakan peran aktif masyarakat ilmuwan dan teknolog Indonesia untuk meningkatkan citra sektor pertanian nasional.

Citra sektor pertanian dapat ditingkatkan melalui perbaikan sistem perekonomian, sehingga menggeser kecenderungan perilaku ekonomi pertanian konvensional menjadi modern. Kegiatan pertanian sudah seharusnya tidak hanya terbatas pada pelestarian tradisi budidaya, namun harus mampu mengikuti perkembangan era ekonomi. Optimalisasi peran industri pertanian yang berorientasi pada teknologi informasi perlu dikemas secara kreatif, sehingga mampu membidik target sesuai dengan segmentasinya untuk mendapatkan posisi pasar yang menguntungkan.

2Menurut Amaliya (2014a), pemasaran yang berorientasi pada sudut pandang penjual berdasarkan prinsip 4P (product, price, place dan promotion), di era ekonomi informasi seperti sekarang ini telah digantikan oleh prinsip ABCDE (anyplace, brand, communication, discovery, dan experience). Penerapan prinsip ABCDE dalam kegiatan pertanian merupakan terobosan kreatif dengan mengintensifkan ide dan informasi sebagai faktor produksi utama. Produksi pertanian diharapkan dapat bersaing untuk menciptakan kapitalisasi pasar, sehingga mampu menguasai perekonomian dan memperbaiki perilaku ekonomi pertanian saat ini.

Masa depan perilaku ekonomi pertanian nasional sangat bergantung pada generasi muda berpendidikan tinggi. Namun menurut Amaliya (2014b), generasi muda saat ini memiliki karakter yang pantas dikritik oleh generasi tua, seperti tidak mampu bekerja dalam kelompok, tidak realistis, tidak konsisten, rendahnya motivasi dan etos kerja, serta enggan memulai karir dari bawah. Berbagai hal tersebut merupakan tantangan dan pertanyaan perihal kemampuan generasi muda untuk meningkatkan citra sektor pertanian di Indonesia.

Perlu disadari bahwa generasi muda saat ini merupakan sumber daya kepemimpinan selama tiga dasawarsa mendatang (Hansen, 2008). Oleh sebab itu, berbagai strategi, kebijakan, dan prosedur kerja konvensional harus segera dirubah, untuk mengoptimalkan kinerja generasi yang sangat fasih teknologi ini. Generasi muda diharapkan mampu mengakomodir permasalahan klasik seputar kegiatan pertanian, seperti terjaminnya kualitas, kuantitas, dan kontinuitas produksi, serta kestabilan harga. Pemecahan masalah pertanian yang terintegrasi melalui penerapan teknologi budidaya pertanian secara kreatif, bukanlah hal yang sulit untuk diwujudkan. Beberapa produk aplikasi kreatif teknologi budidaya pertanian yang berhasil meningkatkan citra sektor pertanian di Indonesia, antara lain sebagai berikut.

  • Mungil Culture (http://mungil-culture.blogspot.com/)

3

Mungil culture merupakan produk kreatif kultur jaringan dalam botol yang dikomersialkan sebagai suvenir, antara lain berupa gantungan kunci, hiasan meja, dan hiasan tempel (Mungil-Culture, 2014). Kreasi mungil culture membuktikan bahwa komersialisasi produk pertanian tidak harus menunggu hingga panen, bahkan perawatannya cukup dengan menjaga tanaman pada kondisi sejuk (maksimal suhu kamar). Oleh sebab itu, segmentasi pasar mungil culture akan terus membidik konsumen yang menyukai tanaman, namun tidak ingin repot dengan perawatannya.

  • Terrarium Indonesia (http://terrariumindonesia.wordpress.com/)

4

Terrarium Indonesia merupakan produk kreatif arsitektur lanskap yang berhasil memadukan sains dan seni miniatur dalam wadah kaca, sehingga dapat dikomersialkan sebagai suvenir dan eksklusif display (Terrarium-Indonesia, 2014). Biosfer buatan ini sering dikatakan mampu memberikan relaksasi bagi penggemarnya. Selain itu, bentuknya yang unik dan mampu mempercantik ruangan, ternyata tidak memerlukan perawatan yang rumit, cukup tiga hari hingga seminggu sekali disemprot dengan larutan nutrisi.

  • Goodplant Indonesia (Fanpage Facebook: Goodplant “Hidroponik” Indonesia; Twitter: @Goodplant)

5

Goodplant Indonesia merupakan produk kreatif berupa paket teknologi hidroponik yang dikomersialkan melalui pelatihan disertai diskusi, konsultasi, dan berbagi pengalaman seputar hidroponik (Goodplant-Indonesia, 2011). Budidaya tanaman secara hidroponik ini terbukti mampu menghilangkan kesan bahwa menjadi seorang petani adalah pekerjaan yang menjijikkan, kotor, dan kurang menjanjikan. Selain itu, hidroponik juga merupakan jembatan dalam pengembangan teknologi budidaya pertanian konvensional menuju modernitas yang didukung oleh konsep otomatisasi.

Melalui penerapan teknologi budidaya pertanian berbasis industri, dan berorientasi pada teknologi informasi serta dikelola secara kreatif, bukan tidak mungkin sektor pertanian akan semakin diminati oleh generasi muda. Perbaikan paradigma menuju era pertanian kreatif, tentu akan berdampak bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

 

 

Daftar Referensi:

Amaliya, U. 2014a. Generasi Y Indonesia: Menduniakan Batik dengan ABCDE (online). http://berandainovasi.com/generasi-y-indonesia-menduniakan-batik-dengan-abcde/. Diakses Oktober 12, 2014

Amaliya, U. 2014b. Bekerja Menyenangkan ala Generasi Y (online). http://berandainovasi.com/bekerja-menyenangkan-a-la-generasi-y/. Diakses Oktober 12, 2014

BPPSDMP (Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian). 2011. Rencana Strategis Tahun 2010-2014 Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian. Kementerian Pertanian, Jakarta.

BPS (Badan Pusat Statistik). 2014a. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia. Berita Resmi Statistik No.16/02/Th.XVII : 1-9

BPS (Badan Pusat Statistik). 2014b. Penduduk 15 Tahun ke Atas yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama 2004 – 2013. (online). http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=1&tabel=1&daftar=1&id_subyek= 06%20&notab=2. Diakses Oktober 12, 2014

Daryanto, A. 2011. Memposisikan secara Tepat Pembangunan Pertanian dalam Perspektif Pembangunan Nasional. Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional dengan tema “Petani dan Pembangunan Pertanian” di Ruang Konvensi Bogor Botani Square, Bogor, 12 Oktober 2011. p.26-46.

Goodplant-Indonesia. 2011. Goodplant Hydroponic Farm : Tentang Kami (online). http://pelatihanhidroponik.blogspot.com/. Diakses Oktober 12, 2014

Hansen, R.S. 2008. How to Recruit, Hire, and Retain Best of Generation Y : 10 Workplace Issues Most Important to Gen Y. Quintessential Careers QuitZine, 9 (5), April 21 (online). http://www.quintcareers.com/recruit_retain_Gen-Y.html. Diakses Oktober 12, 2014

Herwibawa, B. 2014 Terobosan Cerdas Penunjang Kerja Petani (online). http://berandainovasi.com/terobosan-cerdas-penunjang-kerja-petani/. Diakses Oktober 12, 2014

Mulyandari, R.S.H., Sumardjo, N.K. Pandjaitan, dan D.P. Lubis. 2010. Pola Komunikasi dalam Pengembangan Modal Manusia dan Sosial Pertanian. Forum Penelitian Agro Ekonomi 28 (2): 135-158.

Mungil-Culture. 2014. Mungil Culture (online). http://mungil-culture.blogspot.com/. Diakses Oktober 12, 2014

Terrarium-Indonesia. 2014. Terrarium, Paduan Seni dan Sains. (online). http://terrariumindonesia.wordpress.com/. Diakses Oktober 12, 2014

Bagus Herwibawa
Bagus Herwibawa

Bagus Herwibawa, S.P., M.P. merupakan Aktivis Sadar Kelestarian Lingkungan, yang berprofesi sebagai Petani Ramah Lingkungan, Praktisi Pertanian Kota, dan Pemulia Tanaman Padi.

3 Comments

  1. […] Herwibawa, B.2014. Tanivolusi : Menuju Era Pertanian Kreatif. Beranda Inovasi, 21 Oktober 2014. [access] […]

  2. hebat perlu di kembangkan lebih luas

Leave a Reply