Pendekatan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development) untuk Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar di Indonesia
Feb 6, 2014
Investasi Pohon Jati sebagai Langkah Pengurangan Emisi CO2
Feb 10, 2014

Taman Pengolah Limbah Cair Skala Rumah Tangga

Limbah cair domestik merupakan permasalahan lingkungan karena secara kuantitas maupun kualitas, dapat mengganggu kesehatan manusia, mencemari lingkungan, dan mengganggu kehidupan makhluk hidup. Peningkatan jumlah limbah cair domestik mengakibatkan jumlah limbah dalam badan air penerima melebihi daya tampung maupun daya dukung lingkungannya. Sehingga akan menimbulkan dampak negatif dan memperburuk kualitas lingkungan (Widayat, 2009). Berdasarkan pendekatan konsep kesetimbangan massa, air limbah domestik dari hasil kegiatan rumah tangga berkontribusi positif meningkatkan beban pencemaran pada badan air penerima (Cordova, 2008). Selain itu peningkatan kebutuhan air bila tidak diimbangi dengan ketersediaan sumber air baku yang cukup, akan menimbulkan kelangkaan air (Cantrell et al., 2008). Padahal apabila air limbah dapat diolah, maka akan menghasilkan air baku cadangan yang dapat digunakan kembali untuk kebutuhan rumah tangga (Jefferson et al., 2004).

Kecenderungan wilayah pemukiman kota besar di Indonesia relatif terkonsentrasi dalam komplek perumahan. Kondisi tersebut pada satu sisi dapat memberikan kemudahan dalam upaya pengelolaan air limbah secara terpadu. Pada sisi lain, banyak teknologi pengolahan air limbah yang kurang berjalan efektif karena mahalnya biaya operasional dan rumitnya sistem pengoperasian. Sehingga diperlukan sistem pengolahan dan pengelolaan yang lebih efektif dengan penerapan skala rumah tangga.

Karakteristik air limbah domestik pada umumnya mengandung bahan organik, oleh karenanya alternatif sistem pengolahan limbah secara biologis dirasa tepat untuk dijadikan pilihan utama. Salah satu alternatif sistem pengolahan air limbah secara biologis adalah dengan menerapkan Taman Pengolah Limbah (TPL). Selain digunakan sebagai instalasi pengolah limbah, TPL ditanami tanaman air hias, sehingga menambah nilai estetika taman di halaman rumah (Gopal, 1999 dalam Armis, 2006). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Suhardjo (2008) diperoleh bahwa penggunaan TPL pada limbah cair usaha catering dapat menurunkan konsentrasi parameter COD sebesar 40,81%, TSS 89,12% dan Fosfat sebesar 99,73%.

Pengelolaan Limbah RT 1

Bangunan struktur TPL terdiri dari settling tank sebagai pengumpul dan pre-treatment yang akan mengendapkan dan mencairkan bahan padat organik. Kemudian bahan padat organik akan diproses secara anaerobik dan dilarutkan ke dalam air yang mengalir secara gravitasi ke petak taman air atau wetland cell. Wetland cell merupakan kolam yang dibuat dari saluran batu semen dengan ukuran volume tertentu dan dilapisi anti bocor. Wetland cell diisi substrat berupa batu kerikil berukuran 10 – 15 mm dan ditanami tumbuhan air beraneka ragam. Pada filter gravel-bed wetland cell ini terjadi proses pembersihan air limbah secara fisik, kimia dan biologis (Jefferson et al., 2004). Penetapan komposisi tanaman ini perlu dilakukan dan menjadi faktor penting dalam TPL sebab hal ini bertujuan untuk mendapatkan hasil air olahan yang baik dan nilai estetika yang tinggi.

Pengelolaan Limbah RT 2

Berdasarkan fungsi umumnya, tanaman Hydrophyta dapat digunakan pada treatment pertama karena jenis yang mengapung sehingga berkemampuan langsung menyerap hara. Akar tanaman yang berfungsi sebagai filter, mampu mengadsorpsi padatan tersuspensi, dan sebagai habitat mikroorrganisme penghilang unsur hara (Reddy, 1985 dalam Syafrani, 2007). Treatment kedua dapat berupa jenis yang mencuat di permukaan air maupun yang mengambang dalam air. Tanaman jenis ini mampu menurunkan kadar BOD, COD, TDS dan TSS hasil pengolahan dari treatment pertama. Tanaman yang bisa digunakan setelah proses filter sampai treatment kedua, antara lain: Eichornia crassipes, Pistia stratoites dan Scirpus grossus, Echinodorus paleafolius, Nymphaea firecres, Typha angustifolia, Cyperus alternifolius, dan Equisetum hyemale (Kusumawardani dan Rony, 2013). Kompisisi tanaman tersebut akan menghasilkan air olahan dengan fisik yang baik, yaitu bening dengan TDS dan TSS sangat rendah. Beberapa dari tanaman tersebut juga memiliki bunga dan bentuk daun yang indah, sehingga dapat menambah nilai estetik dari sebuah taman. Selaian itu air olahan (output) dari TPL dimanfaatkan untuk menyiram tanaman, mencuci kendaraan dan sebagai cadangan air rumah tangga.

Yustika Kusumawardani

Mahasiswa Magister Teknik Lingkungan ITS Surabaya

 

Referensi 

Armis, M. Fauzi. 2006. Tingkat Penyerapan Nitrat dan Fosfat dari Limbah Cair Pabrik Tahu dengan Menggunakan Tanaman Kangkung Air pada Sistem Constructed Wetlands. Tugas Akhir. Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

Cordova, Muhammad Reza. 2008. Kajian Air Limbah Domestik di Perumnas Bantar Kemang, Kota Bogor dan Pengaruhnya pada Sungai Ciliwung. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Cantrell, K.B., Ducey, T., Ro, K.S., Hunt, P.G., 2008. Livestock waste-to-bioenergy generation opportunities. Bioresource Technology 99, 7941–7953.

Jefferson, B; A. Palmer; P. Jeffrey; R. Stuetz; dan S. Judd. 2004. Grey Water Characterisation and its Impact on The Selection and Operation of Technologies for Urban Reuse. Water Science and Technology, Vol. 50, No.2, page. 157-164.

Kusumawardani, Y. dan Rony Irawanto. 2012. Study of Plants Selection in Wastewater Garden for  Domestic Waste Water Treatment. Procedding “The Third Basic Science International Conference”. Brawijaya University. Malang

Suhardjo, Dradjat. 2008. Penurunan COD, TSS dan Total Fosfat pada Septic Tank Limbah Mataram Citra Sembada Catering dengan Menggunakan Wastewater Garden. Jurnal Manusia dan Lingkungan, Vol. 15, No.2, hal. 79-89

Syafrani. 2007. Kajian Pemanfaatan Media Penyaring dan Tumbuhan Air Setempat untuk Pengendalian Limbah Cair pada Sub-DAS Tapung Kiri, Propinsi Riau. Disertasi. Institut Pertanian Bogor. Bogor

Widayat, Wahyu. 2009. Daur Ulang Air Limbah Domestik Kapasitas 0,9 m3 per jam Menggunakan Kombinasi Reaktor Biofilter Anaerob Aerob dan Pengolahan Lanjutan. JAI Vol. 5, No. 1

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

3 Comments

  1. selamat pagi, kalau boleh tau kepanjangan dari BOD, COD, TDS dan TSS apa ya ? terimakasih.

  2. CV Biotirta Kreasindo adalah agen dan distributor untuk berbagai macam peralatan dan pengolahan untuk air dan kami juga merupakan kontraktor rancang bangun untuk pembuatan fasilitas unit pengolahan air bersih (Water Treatment) dan pengolahan air limbah (Waste Water Treatment) – http://www.biotirta-kreasindo.com

  3. BOD (Biological Oxygen Demand), COD (Chemical Oxygen Demand), TSS (Total Suspended Solid), TDS (Total dissolved solids)

Leave a Reply