Energi Angin untuk Masa Depan
Sep 9, 2013
Mengenal Biodiesel
Sep 11, 2013

Sustainable Development, Sebuah Pengantar

SD Gmb

Selama ribuan bahkan jutaan tahun manusia hidup di bumi menggunakan segala sumber daya yang terkandung didalamnya untuk bertahan hidup. Aktivitas ekonomi manusia tumbuh dan berkembang seiring dengan berkembangnya peradaban manusia itu sendiri. Berburu dan meramu dikenal sebagai model yang paling sederhana, hingga akhirnya manusia mulai mengenal sistem bercocok tanam. Eksploitasi terhadap alam pun meningkat ditandai dengan revolusi industri di Inggris yang menandai sebuah era baru, industrialisasi. Dalam tahap ini, manusia tidak lagi sekedar bertahan hidup, namun mulai menumpuk sebanyak mungkin kapital.

Industrialisasi memang mampu meningkatkan intensitas produksi barang dan jasa dalam skala besar. Bahkan kegiatan produksi ini telah membentuk wajah dunia saat ini. Manusia tidak lagi terpuaskan hanya dengan pemenuhan kebutuhan dasarnya saja. Maka eskalasi produksi pun semakin meningkat seiring dengan permintaan dari sisi konsumsi. Bumi dan segala isinya adalah bahan bakunya.

Proses pembangunantersebut  yang hampir seragam di seluruh muka bumi selama 250 tahun ini membawa dampak ikutan yang sudah mulai terasakan. Proses produksi dalam skala besar ini membutuhkan energi yang besar pula. Kebutuhan energi ini sebagian besar disupply oleh bahan bakar fosil. Akibatnya terjadi emisi gas rumah kaca yang mengarah pada pemanasan global. Dampaknya jelas terlihat pada perubahan iklim yang akan mengancam ekosistem secara keseluruhan, tidak terkecuali manusia. (United Nations Framework Convention on Climate Change)

Salah satu isu yang mengemuka dalam menghadapi tantangan global tersebut adalah perubahan paradigma pembangunan yang lebih ramah lingkungan. Konsep ini dikenal dengan sustainable development atau pembangunan yang berkelanjutan. Sebuah  definisi menarik mengenai pembangunan berkelanjutan ini diberikan oleh Brundtland Report (1987) yang menyatakan bahwa proses pembangunan yang berlangsung saat ini tidak boleh mengganggu kebutuhan hidup generasi mendatang, sebuah konsep tentang keberlanjutan.

“..development that meets the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs” Brundtland Report (1987)

Pembangunan berkelanjutan ini bukanlah sesuatu yang tunggal. Namun sebuah sistem yang terintegrasi dari semua aspek. Sustainable development menyatukan 3 pilar, yaitu pembangunan ekonomi (economic development), pembangunan social (Social development) dan environmental protection. Tiga pilar ini harus berjalan beriringan bukannya saling berlawanan. Pembangunan ekonomi harus mengedepankan keberlangsungan lingkungan serta dampak sosial bagi masyarakat. (A Pocket Guide to Sustainable Development Governance, 2011)

Gagasan mengenai sustainable development ini mengemuka dalam sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh PBB. Konferensi yang bertajuk Conference on Sustainable Development (UNCSD) ini dilaksanakan di Rio De Janeiro pada tahun 2012. Konferensi ini juga dikenal dengan nama  ‘Rio+20’ atau ‘Earth Summit 2012’. Konferensi ini merupakan tindak lanjut dari UN Conference on Environment and Development, atau  ‘Rio Earth Summit’ pada tahun 1992. Salah satu tema dalam UNCSD ini adalah membangun kerangka kelembagaan untuk pembangunan berkelanjutan atau The Institutional Framework For Sustainable Development. Institusional framework ini mengacu pada tata kelola pembangunan berkelanjutan dalam semua level, baik global, regional, nasional maupun lokal. Didalamnya juga ditentukan konsep mengenai peran dari tiap institusi, proses, struktur, prinsip-prinsip yang menjadi petunjuk, serta proses komunikasi dan koordinasi yang akan mendukung pelaksanaan komitmen pembangunan berkelanjutan ini. (Guide to Sustainable Development Governance, 2011)

Meskipun telah menjadi konvensi global, perjalanan menuju pembangunan berkelanjutan ini menemui sejumlah kendala dalam pelaksanaannya. Dua diantara sekian hambatan yang paling signifikan adalah sinkronisasi ketiga pilar pembangunan serta masalah finansial. Tiga pilar yang seharusnya berjalan sinergis justru mengarah sebaliknya. Seringkali pembangunan ekonomi harus dibenturkan dengan regulasi internasional yang memang sudah mapan terlebih dahulu seperti World Trade Organization (WTO). Agenda yang diusung oleh konsep pembangunan berkelanjutan bisa jadi memang berlawanan dengan operasi bisnis kesepakatan perdagangan dunia tersebut. Selain itu, bagi negara-negara yang sedang berkembang masalah pendanaan menjadi hambatan tersendiri dikarenakan adanya sumber pendanaan yang terbatas dengan akses yang tidak semua mampu menjangkau. (A Pocket Guide to Sustainable Development Governance, 2011)

Mengubah tatanan dunia yang sudah ratusan tahun berlangsung pastilah bukan perkara mudah. Akan banyak kelompok yang terusik dengan hadirnya kesadaran akan pembangunan yang lebih adil dan berkelanjutan ini. Sekali lagi dibutuhkan keberanian dari para pemimpin dunia untuk menjalankan komitmen yang sudah disepakati ini, demi keberlangsungan kehidupan generasi selanjutnya. (NI)

Referensi :

Stakeholder Forum Commonwealth Secretariat. 2011. A Pocket Guide to Sustainable Development Governance. Stakeholder Forum Commonwealth Secretariat

United Nations Framework Convention on Climate Change. Tanpa Tahun. Climate Change on Glance. Diunduh dari http://unfccc.int/files/meetings/cop_13/press/application/pdf/sekilas_tentang_perubahan_iklim.pdf

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply