Mimpi Universitas Riset dan SPP Mahasiswa S3
Jan 15, 2015
Pentingnya Standarisasi Restoran Fast Food
Jan 27, 2015

Stop Konsumsi Daging demi Atasi Pemanasan Global? Mari Kaji Kembali!

dac3b71bf9eebbd393f9f19d9c9789e0

Pemanasan global atau global warming merupakan bagian permasalahan yang mengakibatkan perubahan iklim (climate change). Gas rumah kaca (GRK) atau green house gases (GHGs) merupakan salah satu objek utama yang sangat berpengaruh terhadap fenomena terjadinya pemanasan global.

Peternakan merupakan salah satu sumber penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia. Berdasarkan laporan yang dirilis Watch Magazine edisi November/Desember 2009  menyatakan bahwa peternakan bertanggung jawab atas sedikitnya 51% dari gas rumah kaca yang memicu terjadinya pemanasan global per tahunnya akibat terdapatnya populasi hewan ternak yang diperkirakan sebanyak 21.7 miliar pada tahun 2002 di seluruh dunia[1]. Metana adalah salah satu senyawa kimia yang bila dalam wujud gas dapat memberikan efek rumah kaca yang menyebabkan terjadinya peningkatan suhu bumi. Profesor Barry Brook  menyatakan, gas metana memiliki karakteristik berupa dampak yang 25 kali lebih besar dari CO2 tetapi ketika metana sudah berada di atmosfer dan bereaksi dampaknya menjadi 72 kali lebih berbahaya terhadap lingkungan dibandingkan CO2 yang dapat memerangkap panas sehingga tidak dapat kembali dipantulkan ke atmosfer[1][2].

Berdasarkan perhitungan FAO terbaru, persentase tersebut dapat meningkatkan potensi pemanasan dengan nilai konservatif yang pada tahun 2006 hanya sebesar 18%[2], meningkat menjadi 23% ditahun 2009[1]. Peternakan merupakan sektor yang memiliki potensi sebagai penghasil sumber pangan hewani dengan nilai gizi yang tinggi. Susu, telur, dan daging merupakan komoditas pangan yang memiliki peranan penting sebagai penyuplai protein hewani. Pentingnya protein yang berasal dari hewani disebabkan karena terdapat beberapa asam amino esensial yang diperlukan tubuh namun tidak dimiliki oleh produk nabati, sehingga kebutuhan asam amino tersebut tidak dapat terpenuhi jika seseorang memutuskan untuk mejadi seorang vegetarian. Ikan merupakan produk hewani lain yang dinilai dapat menggantikan peran produk peternakan karena dinilai memiliki nilai gizi yang lebih tinggi serta lebih ramah lingkungan. Namun, ikan hanya memenangkan peranan sebagai pensuplai protein hewani dan asam lemak yang lebih baik tetapi tidak dengan peranannya sebagai pensuplai kalsium atau pun ferritin yang baik seperti yang terdapat pada susu dan daging merah. Selain itu, jika ikan khususnya ikan laut dijadikan komoditas pangan hewani utama, dikhawatirkan akan terjadi over eksplorasi yang mengakibatkan krisis dan penurunan populasi ikan secara signifikan di dunia. Cost yang tinggi juga menjadi permasalahan lain bagi negara-negara yang jauh dari wilayah laut sehingga biaya akomodasi lebih tinggi untuk dapat mengonsumsi ikan untuk memenuhi asupan nutriennya. Preferensi masyarakat juga umumnya lebih tinggi terhadap produk peternakan dibandingkan produk perikanan yang sering mengakibatkan alergi akibat tingginya kandungan protein yang dimilikinya. Keunggulan lain dari  produk peternakan yang belum dapat tersubstitusi adalah telur. Telur merupakan produk hewani yang dijadikan standar segala jenis produk hewani lainnya yang hingga kini belum dapat tersubstitusi posisinya sebagai sumber protein hewani dengan kandungan nutrien terlengkap dan harganya terjangkau untuk berbagai kelompok ekonomi. Jika dibandingkan dengan dengan komoditas perikanan, telur yang merupakan produk peternakan ini memiliki keunggulan dari segi daya simpan dalam suhu ruang yang dapat disimpan begitu saja tanpa dilakukan perlakuan khusus sebelumnya.

Berbagai komentar, saran, atau pun rekomendasi dari beberapa kaum elite dunia yang tidak berkecimpung di dunia nutrisi kini mulai latah melakukan gerakan menjadi vegetarian dengan tujuan mengurangi dampak lingkungan yang dihasilkan oleh produk peternakan. Namun, mereka tidak berpikiran panjang mengenai kelangsungan mata pencaharian para penggelut dunia peternakan serta kebutuhan nutrien untuk tubuhnya dalam jangka waktu panjang. Jika gerakan ini terus dilakukan lambat laun maka suatu mata pencaharian akan termatikan seiring dengan defisiensi nutrisi marginal yang akan diderita oleh tubuh mereka akibat pola makan yang tidak dapat menyediakan nutrien-nutrien tertentu[7]. Dr. Rajendra Pachauri, kepala Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim atau Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) berkomentar dalam pidato yang beliau berikan pada bulan September 2008 mengenai pengurangan konsumsi daging dalam menghadapi pemanasan global[2]. Lalu, Dr. Daniel Johansson, seorang ekonom lingkungan, Universitas Teknologi Chalmers Swedia, Dr. James Hasen, Direktur Goddard Institut Studi Luar Angkasa NASA, Al Gore, mantan Wakil Presiden Amerika Serikat,  Lord Stern, mantan ketua ahli ekonomi World Bank, serta Yvo de Boer, sekretaris eksekutif Konvensi Kerangka Kerja Urusan Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa juga menyarankan hal serupa[3][4]. Asumsi untuk mengurangi jumlah konsumsi daging sebagai cara untuk menyelamatkan lingkungan bukanlah keputusan yang bijak. Solusi yang perlu dicari adalah tetap mengonsumsi produk peternakan sebagai salah satu sumber asupan protein hewani dan lingkungan tetap terselamatkan. Gerakan menjadi vegetarian dan mengurangi bahkan melakukan gerakan anti-produk peternakan dinilai sangat tidak bijak jika kegiatan tersebut dilakukan dengan alasan melindungi lingkungan. Gerakan tersebut justru cenderung memperlihatkan ketidakpedulian terhadap lingkungan karena seperti meninggalkan bukan memperbaiki permasalahan.

IMG_20150117_071011Menanggapi isu tersebut tentu tidak membuat para ahli peternakan hanya berdiam diri tanpa mencarikan solusi. Beberapa manipulasi teknologi pakan telah diaplikasikan pada hewan ternak, khususnya ruminansia sebagai ternak penghasil metana tertinggi. Pada tahun 1988, pembahasan mengenai manipulasi pakan untuk mengurangi produksi metana telah dibahas pada Simposium of Plant Animal Interactions di Universidade Estadual de Campinas, Brazil[5]. Gas metana yang dihasilkan oleh hewan ruminansia disebabkan oleh proses metabolisme dalam sistem pencernaannya yang melibatkan proses fermentasi anaerob dengan mikroorganisme metanogen yang dapat meningkatkan produksi metan sebagai residu dari proses pencernaannya. [box type=”shadow” align=”alignleft” ]Para ahli peternakan mulai menerapkan konsep manajemen pemeliharaan ternak dengan meminimalisir eruptasi gas metana yang dihasilkan serta melakukan pengolahan limbah padat dan cairnya.[/box]Oleh karena itu, para ahli peternakan mulai menerapkan konsep manajemen pemeliharaan ternak dengan meminimalisir eruptasi gas metana yang dihasilkan serta melakukan pengolahan limbah padat dan cairnya. Defaunasi merupakan upaya menurunkan populasi protozoa di dalam rumen ternak ruminansia sebagai penghasil gas H2. Metana dihasilkan di dalam rumen akibat adanya reaksi antara senyawa karbondioksida pada kondisi anaerobdengan gas H2 yang dihasilkan oleh protozoa. Pembentukan metana tersebut juga berlangsung akibat adanya simbiosis antara protozoa dan arkea metanogen untuk melakukan proses metanogenesis. Namun, setelah berbagai penelitian baru ditemukan, rupanya defaunasi dinilai tidak bersifat walfare bagi ternak itu sendiri. Hal tersebut disebabkan karena rumen merupakan suatu ekosistem kompleks yang jika dilakukan pengubahan terhadap suatu populasi maka populasi lainnya akan terkena dampaknya pula[6].

Gas metan hasil eruptasi kini memang belum dapat termanfaatkan karena sulit untuk diatasi dan belum ada pengolahan yang tepat. Oleh karena itu, diperlukan penanganan yang terintegrasi dari beberapa bidang ahli untuk mengatasi permasalahan gas rumah kaca yang dihasilkan oleh peternakan. Melihat permasalahan sebagai peluang inovasi sangat berpeluang besar untuk menangani isu global ini. Sehingga  perlu adanya pemfokusan penyelesaian permasalahan gas rumah kaca yang dihasilkan oleh sektor peternakan dengan membentuk pola pikir baru dari orang-orang dari luar peternakan untuk mendukung penyelesaian masalah tersebut. Bahan bakar lain jika ditelusuri juga memiliki biaya yang tinggi untuk mengolah sumber daya alamnya yang masih mentah dari alam. Sedangkan, belum adanya perhitungan yang spesifik mengenai biaya pemanenan untuk mengolah metana fase gas menjadi fase cair. Pengubahan fase metana dapat dilakukan dengan pendinginan suhu sekitar -120 ºC. Dengan adanya teknologi pengolahan metana hasil eruptasi, permasalahan lingkungan yang disebabkan oleh sektor peternakan dapat diatasi dengan menghasilkan satu solusi baru untuk permaslahan lingkungan lainnya yaitu krisis energi tanpa harus mengurangi asupan pangan hewani asal peternakan.

Referensi:

[1]Robert Googland and Jeff Anhang. 2009. Livestock and Climate Change.    World Watch (November/December 2009). www.worldwatch.org.
[2]www.pemanasanglobal.net/vegetarian/pengaruh-pola-makan-terhadap-iklim. htm.
[3]http://www.timesonline.co.uk/tol/news/environment/article6891362.ece.
[4]http://www.bbc.co.uk/blogs/newsnight/2008/06/is_it_time_to_turn_vegetarian.h tml.
[5]Galleti M, Dirzo R. 2013. Ecological and evolutionary consequences of living in a defaunated world. Biological Conservation. 163: 1–6. California(US).
[6]Gebeyehu A, Mekasha Y. 2013. Defaunation: effects on feed intake, digestion, rumen metabolism, and weight gain. Wudpecker Journal of Agricultural Research.  2(5): 134-141. Ethiophia.
[7]Krebs C. 2006. Nutrition for the Brain. Melbourne (AU): Michelle Anderson Publishing Pty. Ltd.

Isma Firliani
Isma Firliani
Mahasiswa Program sarjana, Institut Pertanian Bogor 2012, Departemen Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan yang hobi menggambar sketsa (sketching). Saat ini, menjadi bagian dari Staff of Community Development di UKM Forum for Scientific Studies (Forces IPB) dan Staff of Internal Divison dari Local Commite Indonesian Green Action Forum (IGAF) IPB. Tertarik mengenai penyelamatan lingkungan, pengembangan peternakan, dan sumber energi terbarukan.

7 Comments

  1. Kepada admin, harap gambarnya dikasih sumber, agar tidak dibilang membajak gambar org lain. JIka gambar sendiri, maka bisa dituliskan juga. trims… hehehe
    tulisannya menarik..

    • Kalo yang gambar kepala sapi, itu hasil jepretan ku asli. Hasil moto subuh-subuh nganter mama ke pasar hehe.Kalo yang gambar dari tim redaksinya juga udah dicantumin kok sumbernya. Coba cek kiri bawah dari gambar. Di situ tertulis
      learningfundamental.com.au hehe 🙂

  2. Kalo yang gambar kepala sapi, itu hasil jepretan ku asli. Hasil moto subuh-subuh nganter mama ke pasar hehe.

  3. Kalo yang gambar dari tim redaksinya juga udah dicantumin kok sumbernya. Coba cek kiri bawah dari gambar. Di situ tertulis
    learningfundamental.com.au hehe 🙂

  4. Kenapa sarannya harus stop konsumsi daging?
    kalau menurut saya, itu cuma isu yang digunakan agar negara2 berkembang yang mayoritas penghasilannya dari pertanian dan peternakan mengurangi produksinya sehingga kegiatan perekonomian mereka melemah.
    Seharusnya yang dikurangi adalah aktifitas produksi pabrik2 yang mayoritas dilakukan negara2 yang lebih maju. Coba pikirkan kembali, dahulu sebelum adanya revolusi industri di 'Barat', peningkatan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) tidak sedrastis sebelumnya.
    Tetapi untuk peternakan, sebelum mengenal industri, manusia sudah melakukan kegiatan peternakan sejak lama dan tidak hanya dari peternakan yang dilakukan manusia, tetapi hewan-hewan liar yang hidup bebas di alam juga menghasilkan feses yang nantinya dapat menambah konsentrasi metana di udara.
    Dan pertanyaannya lagi, apakah dahulu sebelum adanya kegiatan industri, peningkatan GRK sedrastis saat ini?
    Sehingga benar menurut pendapat beberapa ilmuan di atas yang menyatakan "Asumsi untuk mengurangi jumlah konsumsi daging sebagai cara untuk menyelamatkan lingkungan bukanlah keputusan yang bijak."

    • makasih atas reviewnya hehe. Wes ora mudeng nih masnya. Baca sejali lagi deh, hehe. Saya ndak nyaranin stop konsumsi daging -_- justru dlm tulisan ini, saya sebagai orang peternakan menentang gerakan stop makan daging dgn alasan yg sudah saya paparkan sebelumnya. mas bisa add fb saya dan lihat penjelasan saya mengapa peeternakan bisa menjadi sektor utama yang disalahkan 🙂 O iya btw bagian terakhir dr komentarnya mas itu bukan pendapat bbrp ilmuwan, tp itu pandangan saya mas, coba kembali telaah deh mas -_- hehe 🙂 terimakasih telah membaca

  5. Rizal says:

    Bukan gitu maksud saya,
    Kalau isi dari tulisannya saya setuju, setuju banget karena anda memaparkan dan memberikan gambaran bahwa “Stop konsumsi daging demi mengatasi pemanasan global” itu bukan solusi yang bijak. selain itu, aktifitas ini hanya meninggalkan masalah tanpa membuat solusi.
    Kemudian kan di situ juga anda menyampaikan bahwa sebenarnya perlu ada pengelolaan lebih lanjut untuk mengatasi penyebab dari metana yang dihasilkan dari aktifitas peternakan. Ya memang seperti itu salahsatu saran yg baiknya.

    Nah kalau saya itu hanya memberikan gambaran lain terhadap tindakan stop konsumsi daging yang dilakukan oleh beberapa pihak yg anda jelaskan di artikel di atas. Jadi bentuknya hanya tambahan berupa dukungan saran aja dengan memberikan gambaran lain terhadap kondisi isu tentang GRK yang selama ini digembor-gemborkan.

Leave a Reply