Facebook Kembangkan Pesawat Pemancar Akses Internet
Aug 3, 2015
Inilah Kemampuan yang Akan Dimiliki Lampu Penerang Jalan di Masa Depan!
Aug 5, 2015

Panen Raya HA IPB Subang (Sumber: alumniipb.org)

Panen Raya HA IPB Subang (Sumber: alumniipb.org)

Panen Raya HA IPB Subang (Sumber: alumniipb.org)

Fenomena El Nino di Indonesia menimbulkan dampak kemarau yang berkepanjangan. Beberapa daerah bahkan mengalami kekurangan pasokan air hingga banyak terjadi kekeringan yang berdampak pada produktivitas pertanian. Kondisi ini juga dirasakan oleh petani padi di Kabupaten Subang yang dikenal sebagai kawasan lumbung padi Jawa Barat. Lahan sawah seluas 3.000 hektare yang tersebar di Kecamatan Pamanukan, Legon Kulon, Pusakajaya, dan Pusakanagara tak terairi irigasi hingga tak bisa diolah, 1.500 hektare gagal panen karena kekurangan air, dan 2.450 hektare lainnya diairi dengan pompanisasi yang rentan gagal panen.

Ternyata kondisi seperti ini dapat diatasi dengan sebuah solusi dengan teknologi sederhana seperti yang diterapkan oleh Deni Nurhadiansyah di lahan sawah seluas 10,5 hektare di Desa Manyingsal, Kecamatan Compreng. Di daerah ini, pasokan air irigasi pada musim kemarau sangat kurang, sehingga banyak petani yang harus memompa air dari Sungai Cilamatan untuk mengairi sawahnya. Padahal pasokan air di sungai tersebut juga tidak menentu. Pada musim kemarau, air irigasi hasil pompanisasi hanya dapat bertahan kurang dari empat hari menggenang di sawah, hingga banyak gagal panen terjadi akibat sawah yang mengering karena petani tak mampu mempertahankan pasokan air tersebut.

Seperti dikutip dari kotasubang.com, Deni mengungkapkan bahwa teknologi yang ia gunakan cukup sederhana dan dapat dilakukan oleh petnai lainnya. “Padahal teknologinya sederhana, hanya memanfaatkan jerami sisa panen saja yaitu dengan mengomposkannya,” ungkap alumni Departemen Proteksi Tanaman IPB angkatan 40 itu, Sabtu (01/08), pada panen raya yang diselenggarakan Himpunan Alumni (HA) IPB di lahannya.

Deni menjelaskan bahwa jerami sisa panen tetap ia biarkan di sawah, bukan di bakar seperti petani lainnya. Kemudian jerami direbahkan dengan bajak dan ditambahkan dekomposer. Tunggu hingga sepuluh hari, lahan dapat dibajak lagi dan siap ditanami. Deni mengatakan bahwa dengan teknik pengolahan seperti ini kemampuan lahan untuk menyimpan air meningkat. Bila sebelumnya air yang pompanisasi yang masyarakat gunakan ganya bertahan empat hari saja, air di sawah Deni dapat bertahan hingga sepuluh hari. Selain itu, teknik pengomposan jerami dapat memberikan tambahan unsur Silika (Si) yang dibutuhkan oleh padi untuk proses resistensi terhadap kekeringan.

Usaha menghadapi kekeringan yang dilakukan Deni berbuah hasil tanaman yang terlihat sehat dan berbulir sangat baik. Teknik yang ia lakukan tidak hanya ia gunakan sendiri, namun ia tularkan ke petani-petani lainnya. Akrab di sapa ‘Kang Deni’, ia bercita-cita untuk mengubah yang kurang produktif di Subang menjadi lahan yang dapat menghasilkan untuk kepentingan masyarakat.

Musim Kemarau yang panjang, dampak dari El Nino, memang dirasakan oleh masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Upaya-upaya penanggulangan jangka panjang perlu dilakukan oleh pemerintah dengan melakukan pemetaan sumber daya air di tingkat Kabupaten. Tahun ini, kemarau panjang berpotensi menyebabkan lebih dari 6.000 areal lahan sawah kekeringan. Angka tersebut mencapai 20 persen dari total 3,44 juta hektare sawah yang ada di Pulau Jawa.

Deslaknyo Wisnu Hanjagi
Deslaknyo Wisnu Hanjagi
Deslaknyo Wisnu Hanjagi menunjukkan kecintaannya terhadap bidang pertanian sejak kecil. Lahir dari keluarga petani, lulusan Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat IPB ini semasa kuliahnya mengambil minor Agronomi dan Hortikultura. Karyanya telah diterbitkan dalam berbagai prosiding nasional maupun internasional. Dengan spesialisasi keilmuan di bidang pengembangan masyarakat, penyuluhan, kependudukan, sosiologi pedesaan, dan kajian agraria, Deslaknyo berharap dapat berkontribusi untuk memajukan pertanian Indonesia demi kedaulatan Bangsa.

Leave a Reply