RABIASA Solusi Penyembelihan Sapi Syariah
RABIASA, Solusi Penyembelihan Sapi Syariah
May 8, 2015
Polemik Tanaman Transgenik (Bagian 2)
May 12, 2015

Smartpackaging, Cara Kurangi Susut Pascapanen

Smartpackaging Cara Kurangi Susut Pascapanen

Smartpackaging Cara Kurangi Susut PascapanenProduk pertanian, khususnya bahan baku pangan, sebut saja sektor hortikultura (buah-buahan dan sayuran) rentan akan susut pascapanen. Penyebabnya bukan sekadar gangguan hama dan penyakit tanaman, tetapi juga penanganan mulai dari pengangkutan dari lahan hingga penyaluran produk ke konsumen. Susut pascapanen berkorelasi dengan tingkat produktivitas panen. Susut yang tinggi akan membuat produktivitas rendah. Dalam buku Teknologi Penanganan Pascapanen Buah-buahan dan Sayuran, Usman Ahmad menyampaikan berdasarkan laporan kajian di Negara berkembang khususnya di wilayah tropis, susut penanganan pascapanen mencapai 5% sampai 15 %.

Di lain sisi, penanganan pascapanen sangat menentukan mutu produk. Mutu tinggi diperoleh bila produk sampai ke konsumen dengan keadaan baik secara fisik, kualitas, maupun harga yang layak. Faktanya, produk pertanian, khususnya bahan baku pangan rentan mengalami penurunan kualitas akibat adanya perubahan lingkungan. Perubahan lingkungan ini berlanjut selama proses penanganan pascapanen mulai dari pemetikan, pembersihan, pengumpulan, pengemasan, hingga pengangkutan menuju konsumen secara individu maupun industri.

Dalam proses pengemasan, susut dapat terjadi akibat kontak secara fisik, biologis, maupun kimia. Kontak fisik terjadi karena perlakuan mekanis seperti benturan produk dengan kemasan. Secara biologis terjadi akibat kemasan gagal menghambat pertumbuhan mikroorganisme seperti jamur dan cendawan. Sedangkan secara kimia susut dapat terjadi akibat reaksi enzimatik atau pelayuan dan pembusukan produk.

Pengemasan yang dilakukan dengan keliru akan membuat produk cacat dan rusak. Selain menurunkan produktivitas karena adanya produk yang hilang akibat pelayuan dan pembusukan, kondisi ini akan menurunkan kualitas produk. Kualitas yang buruk akan berimbas pada harga jual yang rendah. Ironisnya, pengemasan produk hortikultura masih kerap dilakukan secara tradisional dan keliru. Misalnya, pengemasan buah-buahan dengan tekstur lembek seperti tomat dilakukan dengan menumpuk produk melebihi batas toleransi rheologi. Contoh lain adalah pengemasan sayuran yang salah sehingga sayuran menjadi layu, kering, dan rusak saat sampai ke konsumen.

Penerapan teknologi dalam penanganan pascapanen, khususnya dalam proses pengemasan tentu menjadi jawaban. Penerapan teknologi tak hanya mencegah susut, namun juga dapat meningkatkan mutu produk sampai ke konsumen. Salah satu model penerapan teknologi tersebut melalui smartpackaging.

Lebih jauh penerapan smartpackaging dapat dilihat dengan munculnya teknologi Modified Atmosphere Packaging (MAP) serta Controlled Atmosphere Storage (CAS). Kedua teknologi ini melakukan kendali terhadap kadar oksigen dan karbondioksida dalam kemasan dengan memanfaatkan perbedaan permeabilitas keduanya. Oksigen yang berperan dalam respirasi produk diturunkan kadarnya dengan meningkatkan kadar karbondioksida sehingga laju respirasi terhambat. Dengan menghambat laju respirasi ini, maka akan memperlambat proses penurunan mutu produk berupa pembusukan dan pelayuan.

Penerapan smartpacking dalam proses pengemasan, jelas menjadi salah satu upaya strategis mengurangi kemungkinan susut dan meningkatkan mutu produk sampai ke konsumen. Berkurangnya susut akan meningkatkan produktivitas, sedangkan meningkatnya mutu produk akan membuat harga jual ikut meningkat. Pada akhirnya, keuntungan yang diterima petani akan lebih besar dari sebelumnya. Terlepas dari keunggulannya, teknologi ini membutuhkan biaya yang cukup mahal. Oleh sebab itu, dalam penerapannya tetap diperlukan analisis biaya agar biaya produksi ini tidak melebihi pendapatan dari total penjualan produk.Smartpackaging Cara Kurangi Susut Pascapanen

David Pratama
David Pratama

Mahasiswa tingkat akhir Departemen Teknik Mesin dan Biosistem IPB. Aktif menulis jurnalistik dan sastra.

Leave a Reply