Era Bagasse dari Lokal untuk Pembangkit Listrik Nasional
Sep 24, 2013
Potensi Limbah Ikan Sebagai Energi Alternatif yang Menjanjikan
Sep 26, 2013

Smart Grid: Strategi Jitu Pengoptimalan Sumber Energi Terbarukan di Masa Depan

SG_HP_image

Sumber ilustrasi: solutions.3m.com

Saat ini sekitar sebagian besar pembangkit listrik yang beroperasi di dunia menggunakan bahan bakar fosil seperti batubara sebagai bahan bakarnya. Padahal, cadangan bahan bakar fosil sudah semakin menipis dan diperkirakan akan segera habis dalam waktu yang tidak lama lagi. Pada World Economic Forum 2010, terungkap bahwa pembangkit listrik berbahan bakar batubara di Amerika Serikat menyumbang 40% emisi karbon di negara tersebut. Ketersediaan energi listrik yang mencukupi merupakan hal mutlak untuk menjaga keberlangsungan hidup manusia. Tanpa energi listrik, maka akan ada banyak masalah yang muncul.

Masalah besar diatas memaksa untuk segera ditemukannya solusi terbaik yang masuk akal. SMART GRID menjadi jawaban sejak 3 tahun terakhir ini. SMART GRID merupakan suatu konsep tata kelola energi listrik yang mampu mengakomodir peran pembangkit listrik kecil berbahan bakar energi terbarukan (renewable energy) secara optimal.

Dunia ini memiliki banyak sekali sumber energi terbarukan yang sangat potensial seperti cahaya matahari dan angin. Hampir semua sumber energi terbarukan tersebut tersebar dan berada sangat dekat dengan konsumen serta tidak terkonsenterasi pada satu lokasi. Logika awal dari pengembangan teknologi SMART GRID adalah berusaha semksimal mungkin memberdayakan apapun yang tersedia di bumi ini.

Secara umum teknologi SMART GRID bisa menghasilkan beberapa keuntungan diantaranya meningkatnya efisiensi penggunaan energi listrik, meningkatnya kehandalan sistem tenaga listrik, mengurangi emisi karbon dan mendukung pemanfaatan sumber energi terbarukan dengan lebih optimal.

SMART GRID terdiri atas 3 unsur penting, yakni teknologi informasi (information technology), telekomunikasi (telecommunication) dan listrik (power system). Ketiga unsur tadi bekerja sama untuk memungkinkan adanya komunikasi dua arah antara perusahaan penyedia listrik (utility company) seperti PLN dengan konsumen. Dengan SMART GRID, transfer energi listrik yang terjadi tidak hanya dari perusahaan penyedia listrik ke konsumen, namun bisa juga sebaliknya.

Jika ternyata konsumen memiliki solar cell yang dapat menghasilkan energi listrik dari cahaya matahari, maka ketika energi listrik dari solar cell itu melebihi dari apa yang dibutuhkan oleh konsumen itu, konsumen bisa mengirim energi listrik ke jaringan listrik (power grid) yang ada. Konsumen bisa mendapatkan uang dari perusahaan penyedia listrik (utility company) atas hal tersebut.

Dengan teknologi SMART GRID pula, konsumen akan mempunya kendali penuh untuk mengatur pemakaian energi listrik mereka. Teknologi sensor dan kendali otomatis pada SMART GRID memungkinkan pengaturan pengaktifan peralatan listrik konsumen secara otomatis dengan mempertimbangkan jumlah enegri listrik yang ada.

Contohnya, ketika siang hari dimana bisa dihasilkan energi listrik yang cukup besar dari cahaya matahari, maka mesin cuci dan beberapa peralatan berat lainnya bisa diaktifkan. Dan ketika suplai cahaya matahari mulai menurun, maka kendali otomatis akan mengurangi pemakaian energi listrik yang tidak terlalu vital seperti penyejuk ruangan.

Teknologi sensor dan kendali otomatis tidak hanya akan diletakan pada sisi konsumen tapi juga pada jaringan listrik (power grid). Jika terjadi kerusakan atau masalah pada sebuah jalur pengiriman energi listrik, maka rute pengiriman energi listrik akan diubah melalui jalur lain yang tersedia sehingga pemadaman listrik bisa diminimalisir. Semua data yang terekam pada sensor tersebut akan dikirim ke perusahaan penyedia listrik (utility company) untuk diolah guna menetukan strategi dan prediksi dimasa yang akan datang.

Banyak negara maju seperti China, Jerman dan Amerika yang mulai menerapkan teknologi SMART GRID ini. World Economic Forum 2010 juga mengungkapkan bahwa SMART GRID ini mampu mengurangi emisi karbon sebesar 25% di negara itu atau setara dengan menghilangkan 130 juta mobil. Sudah saatnya dunia lebih intensif menerapkan dan mengembangkan teknologi ini demi mengurangi dampak pemanasan global.

I Nyoman Yuliarsa

Mahasiswa Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, Universitas Gajah Mada

Daftar Referensi :

http://www.youtube.com/watch?v=N8jqbKd8hVg

http://www.youtube.com/watch?v=-8cM4WfZ_Wg

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply