Beranda Inovasi -- Potensi Ekonomi Kelautan Indonesia
Potensi Ekonomi Kelautan Indonesia
Apr 15, 2015
Biomassa Saatnya Jadi Primadona
Biomassa, Saatnya Jadi Primadona
Apr 17, 2015

Singa, Rusa, dan Kepiting

“Every morning in Africa, a Gazelle wakes up. It knows it must run faster than the fastest lion or it will be killed. Every morning a lion wakes up. It knows it must outrun the slowest Gazelle or it will starve to death. It doesn’t matter whether you are a lion or a gazelle. When the sun comes up, you’d better be running”

c767a6962caa675cc194c20234adae1b

Persaingan. Ya, poem afrika di atas adalah bentuk persaingan di dunia ini dalam mempertahankan hidup. Jika kita telisik lebih dalam itu bukan sekadar persaingan dalam kehidupan antara singa dan rusa saja. Itu hanya satu bentuk persaingan yang memang sudah diciptakan secara alami dalam mempertahankan kehidupan sebuah ekosistem. Bersaing, konfrontasi, berebut, saling memangsa adalah hal yang lumrah dalam kehidupan seluruh makhluk. Memang nampak kejam, namun jika dipahami lebih dalam akan nampak bagaimana semua itu diciptakan untuk menjaga keseimbangan kehidupan itu sendiri.

Dalam dunia hewan, dikenal adanya predator. Jika salah satu jenis hewan kehilangan predatornya selemah apapun hewan itu akan menjadi berbahaya. Contoh, sejak jaman dahulu wereng sudah ada, namun predatornya (burung, katak pemakan wereng), tetap utuh di habitatnya masing-masing, sehingga wereng menjadi tidak berbahaya. Ketika manusia sudah merusak habitatnya, rusaklah keseimbangan alam. Munculah hama wereng yang justru merugikan manusia itu sendiri.

Dalam dunia bisnis persaingan adalah hal yang biasa. Setiap perusahaan saling bersaing dan berlomba-lomba menjadi nomor satu dibandingkan dengan perusahaan yang lain. Dulu kita melihat persaingan antara apple dan windows. Pada saat windows tidak mampu lagi memunculkan inovasi baru lainnya, apple mengeluarkan ipad. Dalam beberapa saat apple berjaya, namun tak lama berselang, muncul samsung menjadi pesaing apple yang menggunakan sistem open source yang dibuat oleh google. Dari sana akhirnya muncul berbagai macam inovasi lain yang saat ini menemani kehidupan sehari-hari kita.

Persaingan mereka adalah persaingan yang sehat, persis seperti persaingan antara singa dan rusa. Rusa berusaha berlari lebih cepat dari singa yang berlari paling cepat. Begitu juga dengan singa yang berusaha berlari lebih cepat dari rusa yang paling lambat. Sayangnya tanpa disadari tidak sedikit persaingan muncul karena sebab lain, seperti kisah petani dengan kepiting.

Singa Rusa Kepiting Beranda MITISaat petani mencari dan menangkap kepiting, petani cukup membawanya dalam wadah terbuka seperti baskom atau ember (tanpa penutup), karena petani sudah tahu karakter dari kepiting itu. Saat dikumpulkan dalam wadah, setiap kepiting akan berusaha untuk keluar dengan memanjat dinding wadahnya. Namun bisa dipastikan bahwa tidak akan ada kepiting yang dapat berhasil keluar dari ember. Kenapa? Karena tiap kali ada kepiting yang hampir berhasil keluar dari wadah, kepiting lain pasti akan menariknya hingga kembali ke dalam wadah. Alhasil, meski kepiting memiliki tampilan fisik yang kuat dengan capit yang tajam, tidak akan ada satupun kepiting yang berhasil keluar dari wadah.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita akan menjadi singa, rusa atau kepiting?

————————————————————————————————————————————

Rubrik SerSan, -Serius tapi Santai-, merupakan rubrik terbaru di berandainovasi.com yang berisikan catatan ringan nan menginspirasi pembaca.

Ayo tuliskan komentar Anda untuk menanggapi tulisan SerSan periode 16-30 April 2015: ‘SINGA, RUSA, DAN KEPITING’, komentar terpilih akan mendapatkan buku “The Innovation Killer: How What We Know Limits What We Can Imagine –and What Smart Companies Are Doing About It” karya Cynthia Barton Rabe!

 

Selamat berkontribusi melalui tulisan dan komentar yang membangun!

Dr. Edi Sukur
Dr. Edi Sukur

Teknopreneur, Direktur PT. Edwar Healthcare.

5 Comments

  1. “The world has enough for everyone's need, but not enough for everyone's greed.”
    – Gandhi

  2. Jadi terfikirkan apakah orang indonesia seperti kepiting, ketika ada sebagian dari kita akan maju, beberapa yang lain tak akan dengan rela semua itu akan menjadi keberhasilan yang lebih jauh

    • SELAMAT, Okta Suryani! Anda menjadi pembaca Beranda yang komentarnya terpilih sehingga bisa mendapatkan buku “The Innovation Killer: How What We Know Limits What We Can Imagine –and What Smart Companies Are Doing About It” karya Cynthia Barton Rabe.

      Redaksi Beranda Inovasi akan segera menghubungi Anda.

      Semoga kita termasuk generasi yang saling mendorong untuk dapat maju dan berkembang sama-sama, demi kebaikan bersama, dan untuk membangun bangsa.
      Kami tunggu kontribusi selanjutnya di Beranda Inovasi!

  3. Ada dua tafsir untuk kepiting;
    1) Kepiting yang menarik ‘temannya’ saat hendak keluar, berpikir tentang kesetiakawanan. Tak mau si doi yang keluar sendiri dapat masalah; saat sudah keluar malah dibunuh petani. Atau paling untung, dimasukkan lagi ke dalam ember.

    Kata kepiting dalam ember, “*Sambil menarik* Sia-sia sajalah kau keluar. Sudah di sini saja. Kita pikirkan strategi yang lebih kerjakerja.”

    2) Kepiting yang menarik ‘temannya’ memang licik, melakukan segala cara agar si doi tidak bisa keluar ember.

    Dapat ditarik sebuah simpulan,
    bahwa, setiap persaingan itu sehat-tidaknya –menurut saya- adalah dari bagaimana seseorang memandang persaingan itu. Kita dapat menjadi orang yang mudah tersulut cara licik orang lain, sehingga kita turut serta melakukan cara licik; atau kita tetap kokoh dalam cara bersaing kita yang sehat dan yakin, jika kita melakukan dengan sehat, maka yang ‘sakit’ akan tertular. Tertular penyehat! Bukan penyakit. Ayo maju terus kepiting!

    Mungkin kepiting yang meninggalkan ‘temannya’ pun berpikiran, “Ayo, dong, contoh aku! Mari bersatu kerja-kerja. Kalau kita berusaha keluar semua, petani pun akan kewalahan.”

    Lebih dari itu,
    Saya memilih menjadi petani. he he

Leave a Reply