Google dan Levi’s Segera Hadirkan Jaket Pintar yang Terkoneksi dengan Internet
May 24, 2016
Target Pembangunan Indonesia 2015-2019
May 27, 2016

Screening Method: Metode Baru Pengurangan Resiko Penularan HIV dari Ibu ke Anak

Ibu dengan HIV via Unicef

Ibu dengan HIV via Unicef

Ibu dengan HIV via Unicef

Siapa tidak mengenal penyakit HIV/AIDS? Penyakit yang menyerang ketahanan tubuh ini sampai sekarang belum ditemukan obatnya. Karena sifatnya yang tidak dapat disembuhkan, penyakit ini menjadi momok menakutkan bagi masyarakat. HIV dan AIDS sendiri adalah dua hal yang sering disandingkan bersama padalah keduanya memiliki diagnosis yang berbeda.

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang bisa menyebabkan suatu kondisi yang disebut AIDS. HIV menginfeksi manusia dan menyerang sistem kekebalan tubuhnya sehingga sistem kekebalan tubuh tidak dapat bekerja aktif dan efektif seperti seharusnya.

Jika HIV adalah virus, maka AIDS adalah suatu kondisi atau sindrom. Seseorang yang terkena HIV, maka ia bisa mengalami AIDS. AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) merupakan suatu sindrom/kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh Retrovirus yang menyerang sistem kekebalan atau pertahanan tubuh. AIDS terjadi ketika HIV menyebabkan kerusakan serius pada sistem imun.

Kondisi ini sangat kompleks dan bervariasi pada setiap orang. Gejala AIDS sangat terkait dengan infeksi yang seseorang alami sebagai akibat dari kerusakan sistem imun. Dengan rusaknya sistem kekebalan tubuh, maka orang yang terinfeksi mudah diserang penyakit-penyakit lain yang berakibat fatal, yang dikenal dengan infeksi oportunistik.

HIV ini dapat menular dengan berbagai cara, yakni melalui transmisi seksual dan transmisi non seksual. Transmisi seksual yang ditularkan melalui hubungan seksual baik pada homoseksual maupun heteroseksual merupakan penularan infeksi HIV yang paling sering terjadi. Penularan ini berhubungan dengan cairan vagina atau sperma. Infeksi dapat ditularkan dari setiap pengidap infeksi HIV kepada pasangan seksnya.

Kemudian untuk transmisi non seksual, salah satunya yaitu transmisi transplasental dari ibu yang HIV positif kepada anaknya. Transmisi transplasental dari ibu yang mengandung HIV positif ke anak mempunyai resiko sebesar 50%. Penularan dapat terjadi sewaktu hamil, melahirkan dan sewaktu menyusui. Penularan melalui air susu ibu termasuk penularan dengan resiko rendah.

Saat ini, untuk mencegah transmisi seksual, dilakukan berbagai kampanye kepada masyarakat seperti penggunaan kondom saat berhubungan intim, tidak berganti-ganti pasangan, dan lain-lain. Namun untuk transmisi transplasental masih sulit untuk dicegah karena masih kurangnya sosialisasi dan kasus yang paling sering terjadi adalah sang ibu tidak menyadari bahwa dirinya mengidap HIV sehingga tidak melakukan upaya untuk mencegah penularan kepada bayinya.

Penularan HIV dari ibu ke anak sudah jamak terjadi. Padahal resiko penularan ibu kepada bayinya sebesar 40 persen. Dan sebagian besar infeksi pada anak itu ditularkan saat masih dalam rahim sang ibu, sewaktu persalinan, dan saat menyusui.

Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan pada 2014 mencatat bahwa dari 76 persen kasus HIV/AIDS yang tersebar di Indonesia, 29 persen pengidap adalah perempuan dan 2,9 persen anak usia di bawah 15 tahun. Laporan Epidemi HIV Global UNAIDS 2012 menunjukkan bahwa terdapat 34 juta orang dengan HIV di seluruh dunia. Sebanyak 50% di antaranya adalah perempuan dan 2,1 juta anak berusia kurang dari 15 tahun.

Di Asia Selatan dan Asia Tenggara, terdapat kurang lebih 4 juta orang dengan HIV dan AIDS. Menurut Laporan Progres HIV-AIDS WHO Regional SEARO (2011) sekitar 1,3 juta orang (37%) perempuan terinfeksi HIV. Jumlah perempuan yang terinfeksi HIV dari tahun ke tahun semakin meningkat, seiring dengan meningkatnya jumlah laki-laki yang melakukan hubungan seksual tidak aman, yang selanjutnya akan menularkan pada pasangan seksualnya.

Infeksi HIV pada ibu hamil dapat mengancam kehidupan ibu serta ibu dapat menularkan virus kepada bayinya. Lebih dari 90% kasus anak terinfeksi HIV, ditularkan melalui proses penularan dari ibu ke anak atau mother-to-child HIV transmission (MTCT). Virus HIV dapat ditularkan dari ibu yang terinfeksi HIV kepada anaknya selama kehamilan, saat persalinan dan saat menyusui.

Kondisi yang ironis ini tentu membutuhkan perhatian yang serius dari pemerintah dan masyarakat. Jika tidak segera ditangani, maka penyebaran HIV akan semakin cepat dan meningkat. Oleh karena itu, Badan Kesehatan Dunia menerbitkan pedoman untuk mengetahui kemungkinan bayi tertular HIV dari sang ibu sedini mungkin. Tujuannya agar sang ibu dapat melakukan hal-hal preventif agar bayinya selamat dari HIV.  Jika diagnosis dilakukan secara cepat dan tepat, maka akan mengurangi jumlah bayi tertular virus yang menunjukkan gejala infeksi seperti keterlambatan pertumbuhan fisik dan mental, yang berujung pada kematian.

Selama ini, penegakan diagnosis biasanya dilakukan lewat tes polymerase chain reaction. Tes ini baru bisa dilakukan pada bayi berusia 4-6 minggu. Namun sayangnya pemeriksaan ini tidak bisa dilakukan di semua klinik kesehatan karena membutuhkan peralatan khusus dan tenaga ahli terlatih. Berawal dari masalah ini, Debbie Latupeirissa yang merupakan seorang dokter spesialis anak, mencoba membuat metode sederhana untuk melakukan screening pada bayi yang bisa dilakukan di manapun oleh semua tenaga kesehatan, termasuk bidan desa. Ide Debbie untuk melakukan screening ini merupakan penelitian disertasinya di Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia.

Metode screening dimulai dengan mengumpulkan faktor resiko yang bisa menularkan HIV dari ibu hamil pada janinnya, seperti konsumsi ARV ibu, infeksi tuberkulosis, jenis kelamin bayi, dan cara persalinan. Semua faktor resiko ini diamati oleh Debbie pada 100 bayi dan ibunya yang terinfeksi HIV di tujuh rumah sakit, diantaranya Rumah Sakit Fatmawati, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, RSPI Sulianti Saroso, RSUP Persahabatan, Puskesmas Kecamatan Tebet, RSUD Tarakan, dan RS Budi Kemuliaan Batam pada 2006-2015. Berdasarkan hasil pengamatannya terhadap faktor-faktor risiko ini, ditemukan tiga faktor yang paling mempengaruhi penularan adalah pengobatan ARV ibu, cara persalinan, dan infeksi tuberkulosis (TB) paru.

Setelah dihitung, ternyata ibu yang menderita TB paru dan HIV secara bersamaan bisa menyebabkan kemungkinan infeksi HIV naik 5,1 kali lipat dibanding ibu yang hanya terinfeksi HIV tanpa TB paru. Hal ini disebabkan karena jenis daya tahan tubuh yang menyerang TB paru sama dengan imun yang memerangi HIV. Saat ibu hamil dengan TB paru terinfeksi HIV, daya tahan tubuh justru akan membuat jumlah virus semakin banyak. Untuk memudahkan penilaian, Debbie memberikan skor pada ibu yang menderita TB paru yaitu 1 poin.

Selain faktor TB paru, faktor lainnya yang berperan yaitu faktor cara persalinan. Jika ibu melakukan proses persalinan normal, kepala bayi akan berusaha keluar dengan menerobos vagina ibu. Gesekan dari kepala bayi yang menerobos keluar ini beresiko menimbulkan luka-luka kecil di kepala. Jika proses keluarnya lambat, maka risiko bayi mengalami luka juga akan meningkat. Kemudian, darah ibu yang terinfeksi HIV bisa mengenai luka tersebut sehingga virus ikut masuk ke dalam tubuh bayi.

Oleh karena itu, dari hasil penelitiannya, Debbie menemukan bahwa bayi yang dilahirkan dengan cara normal beresiko 9,2 kali tertular dibandingkan dengan bayi yang dilahirkan lewat bedah Caesar. Sama seperti faktor TB paru, Debbie juga memberikan skor 1 pada faktor cara persalinan.

Faktor terakhir yang berpengaruh pada penularan ibu ke anak yaitu faktor konsumsi ARV. Faktor konsumsi ARV memang menjadi faktor yang paling tinggi dalam menentukan penularan dari ibu ke anak. Bahkan dari hasil penelitian Debbie menunjukkan bahwa ibu yang tidak mengkonsumsi ARV bisa menulari anaknya 33,6 kali lipat dibandingkan ibu yang mengkonsumsi ARV. Debbie kemudian memberikan skor 3 jika ibu tidak mengkonsumsi obat ini. Jika ibu taat meminum obat itu minimal enam bulan sebelum melahirkan, angka kemungkinan penularannya bisa menurun drastis.

Namun kasus yang sering terjadi yaitu sang ibu tidak menyadari dirinya mengidap HIV atau telat menyadari, sehingga mereka baru mengetahui saat menjelang persalinan. Pentingnya faktor ARV ini sehingga Debbie memberikan skor 3 jika ibu tidak mengkonsumsi obat ARV ini.

Setelah ketiga faktor dikumpulkan, skor-skor yang diperoleh berdasarkan indikator-indikator yang telah dijelaskan sebelumnya akan dikalkulasikan. Jika setelah dikalkulasi jumlahnya melebihi 2, kemungkinan besar bayi akan tertular HIV. Sedangkan jika nilainya kurang dari 2 berarti kemungkinan tertularnya rendah. Namun hal ini harus lebih dipastikan dengan menguji darah bayi dengan PCR. Atau jika alat uji PCR tidak ada, maka harus segera diberi ARV pencegahan.

Setelah dilahirkan, bayi dengan ibu positif HIV akan diberi ARV pencegahan selama enam pekan. Sesudah itu, dia akan diperiksa untuk melihat status HIV nya. Jika positif, pengobatannya akan dilanjutkan. Kemudian tes akan kembali dilakukan setelah bayi berumur 4-6 bulan. Hal yang menarik adalah jika ibu rajin minum ARV, kondisinya sehat, persalinannya lancar, dan sang bayi juga diberi ARV pencegahan selama enam minggu pertama, maka kemungkinan tertular menjadi kecil. Yang semula 40 persen turun menjadi 1 persen.

Screening method ini bisa menjadi salah satu cara untuk mendeteksi penularan HIV dari ibu ke anak. Namun demikian, untuk lebih memastikan hasil sebaiknya dilakukan juga tes darah dan PCR. Hal yang terpenting sebenarnya adalah sang ibu harus segera memeriksakan kondisi kesehatannya sejak awal kehamilan agar bisa segera mendapatkan penanganan yang tepat.

Sebagian besar kasus penularan HIV dari ibu ke anak terjadi karena ibu telat memeriksakan kondisi kesehatannya. Perhitungan melalui ketiga faktor yaitu TB paru, cara persalinan, dan konsumsi ARV, hanya membantu mendeteksi kemungkinan penularannya saja. Yang terpenting bukan hanya mendeteksi, tetapi juga memeriksakan dan mencegah sejak dini.

 

Daftar Referensi:

Majalah Tempo Edisi 29 Februari-6 Maret 2016

Pedoman Nasional Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak, Kementerian Kesehatan Edisi Kedua, Tahun 2012, diakses dari http://spiritia.or.id/dokumen/pedoman-ppia2012.pdf

http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-fazidah4.pdf

http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/12/apa-beda-antara-hiv-dan-aids

Syadza Alifa
Syadza Alifa
Syadza Alifa adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial UI dengan peminatan Kemiskinan, Community Development, dan Corporate Social Responsibility. Selain memiliki minat di bidang akademis seperti penelitian sosial dan tulis-menulis, Syadza yang akrab dipanggil Ifa juga memiliki minat di bidang kehumasan dan public speaking. Dengan motto “Learn, Earn, Return”, Ifa bercita-cita ingin menjadi akademisi, policy maker, dan social worker, serta mendirikan yayasan yang bergerak di bidang kemiskinan, kesejahteraan anak, kesejahteraan perempuan, dan penanggulangan bencana.

Leave a Reply