Apakah Bioremediasi Aman Bagi Lingkungan?
Mar 18, 2014
cover majalah beranda edisi 2
Preview Majalah Beranda Edisi 2
Apr 24, 2014

Save Our Water: Dari Limbah Untuk Penanganan Limbah

Berbagai aktivitas manusia di Bumi sedikit banyak berdampak pada kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati. Terbilang masih minim orang yang sadar akan pelestarian lingkungan dan keberlanjutan Bumi dimasa depan. Salah satu problematika dari padatnya aktivitas manusia terhadap alam adalah limbah cair yang mencemari air. Pencemaran air dapat menjadi masalah regional maupun masalah global. Meskipun air merupakan sumber daya alam yang dapat diperbahrui, tetapi air mudah terkontaminasi oleh aktivitas manusia sehingga dengan mudah dapat tercemar (Darmono, 1995). Contohnya adalah aktivitas manusia di bidang industri. Pencemaran hasil aktivitas industri cukup mengganggu dan mengancam ekosistem lingkungan sekitar.

river-gettyimages

Sumber ilustrasi: gettyimages.com

Salah satu industri yang tergolong banyak menghasilkan limbah adalah industri tekstil. Industri ini menghasilkan polutan pewarna yang menjadi sumber utama pencemaran lingkungan (Magalhães dkk, 2013). Dalam industri tekstil, zat warna merupakan salah satu bahan baku utama, sekitar 10-15% dari zat warna yang sudah digunakan tidak dapat dipakai ulang dan harus dibuang (Mathur, 2005; Husni, 2013). Pembuangan limbah ini biasanya ke badan air atau aliran air yang mengalir seperti sungai dan sebagainya. Zat warna yang dikandung limbah industri tekstil dapat mengganggu kesehatan, misalnya iritasi kulit dan mata hingga menyebabkan kanker (Mathur, 2005). Selain itu, zat warna juga dapat menyebabkan terjadinya mutagen. Salah satu kandungan dalam limbah cair tekstil adalah pewarna metilen biru. Pewarna azo seperti metilen biru yang paling sering digunakan dalam industri tekstil (Daneshvar, 2003). Diketahui hampir 50% pewarna yang digunakan di industri adalah pewarna azo (Ganesh dkk., 1994).  Sehingga dapat membayangkan jika kegiatan industri dalam setiap prosesnya menghasilkan limbah dan mencemari lingkungan perairan maka akan dapat dipastikan lingkungan perairan menjadi rusak. Hal ini akan mengganggu kehidupan makhluk hidup karena dampak negatif dari pencemaran air oleh aktivitas industri.

Lain hal dengan pencemaran limbah industri tekstil, Indonesia sebagai negara agraria yang kaya akan hasil pertaniannya memilki potensi berupa limbah sekam padi yang jika diolah mampu meminimalisir pencemaran limbah cair tekstil seperti metilen biru. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Nasional tahun 2013 mendata lahan pertanian padi di Indonesia sekitar 13.769.913 Ha dengan total produksi tahunan 70.866.571 ton. Setiap 50 juta ton padi yang diproduksi dihasilkan 13 juta ton sekam padi per tahun dengan pemanfaatan yang masih sangat minimal (Purwaningsih, 2009). Dan hal ini akan terus bertambah mengingat kebutuhan akan bahan pangan beras semakin meningkat dimana produksi tahun 2013 naik dari tahun sebelumnya yang hanya berkisar 69.056.126 ton berdasarkan data BPS tahun 2013. Begitu banyak sekam padi yang dihasilkan namun kurang dapat dimanfaatkan secara optimal sehingga menjadi limbah. Penanganan sekam padi yang kurang tepat akan menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan (Putro dan Prasetyoko, 2007). Sehingga perlu dimanfaatkan secara optimal melalui pemanfaatan abu sekam padi hasil pembakaran untuk meminimalisir limbah cair tekstil.  Hal ini berkaitan dengan ketersediaan limbah sekam padi yang cukup banyak di segala tempat maupun waktu serta pemanfaatan limbah tersebut yang masih terbatas (Danarto dan Samun, 2008).

Sekam padi merupakan lapisan keras yang meliputi kariopsis yang terdiri dari dua belahan yang disebut lemma dan palea yang saling bertautan (Putro dan Prasetyoko, 2007). Penelitian sebelumnya telah dilaporkan bahwa sekitar 13-29 % dari komposisi sekam adalah abu sekam yang selalu dihasilkan setiap kali sekam dibakar (Hara, 1996; Krishnarao, dkk., 2000). Komposisi abu sekam padi yakni 94,4% SiO2; 0,61% Al2O3; 0,03% Fe2O3, 0,83% CaO; 1,21% MgO; 1,06% K2O; 0,77 Na2O (Fulleto, 2006). Abu sekam padi apabila dibakar secara terkontrol pada suhu tinggi (500 – 600°C) akan menghasilkan abu silika yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai proses kimia (Putro dan Prasetyoko, 2007). Komposisi silika (SiO2) tersebut memungkinkan dijadikan bahan baku alternatif pembuatan beberapa senyawa berbasis silika seperti silika gel dan natrium silikat (Kammath, 1998). Natrium silikat dari abu sekam padi ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengolah air limbah (Breuer, 1998). Pengolahan air ini didasarkan pada teknik absorbsi/penyerapan. Teknik ini lebih menguntungkan daripada teknik yang lain dilihat dari segi biaya yang tidak begitu besar serta tidak adanya efek samping zat beracun (Blais dkk, 2000). Abu sekam padi dapat digunakan sebagai adsorben karena selain merupakan material berpori juga mempunyai gugus aktif yaitu Si-O-Si dan Si-OH (Siriluk dan Yuttapong, 2005). Gugus aktif ini berperan lebih terhadap penyerapan kandungan dalam limbah cair. Selain itu, memiliki porositas tinggi dan luas permukaan yang luas karena merupakan kerangka dan struktur seluler (Mahvi dkk. 2004). Penelitan mengenai penggunaan sekam padi sebagai adsorben sudah banyak dilakukan dan menunjukkan hasil yang menjanjikan sebagai material adsorben terlebih untuk penanganan limbah cair tekstil.

Melalui berbagai kelebihan sekam padi sebagai adsorben limbah cair didukung dengan ketersediaannya yang melimpah hampir 13 juta ton maka pemanfaatan limbah sekam padi untuk meminimalisir limbah tekstil menjadi solusi yang patut diperhitungkan untuk dianalisis, diteliti dan diaplikasikan lebih lanjut dalam kehidupan. Khususnya dalam upaya pengembangan dan penerapannya dalam penanganan limbah cair industri tekstil. Penggunaan adsorben sekam padi untuk meminimalisir dampak limbah tekstil seperti metilen biru merupakan bentuk solusi kecil yang patut diaktualisasikan di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang kurang tersentuh oleh informasi seputar sains dan teknologi, sehingga diharapkan masyarakat tidak memiliki pandangan yang sempit mengenai limbah terutama limbah sekam padi. Peran serta pemerintah sebagai pihak yang berwenang dalam mengorganisasikan antar sektor juga dirasakan penting. Selain itu, diharapkan kepada para pelaku industri tekstil untuk lebih memahami kembali peran lingkungan hidup serta mengedepankan aspek industri yang bersahabat dengan alam. Salah satu caranya dapat melalui pengolahan limbah tekstil memanfaatkan limbah sekam padi. Upaya dan sinergitas diantara ketiganya ditambah dengan dukungan masyarakat akan membentuk lingkungan yang selaras dan tentunya mampu menyelamatkan air dan bumi dari kerusakan karena bumi adalah amanah untuk dikelola dan dijaga keberlanjutannya.

Febiyanto

Mahasiswa Studi Kimia, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Jenderal Soedirman

Referensi:

Blais, J.F., Dufresne, B., dan Mercier, G., 2000, State of The Art of Technologies for Metal Removal from Industrial Effluents, Rev, Sci, Eau, 12[4]:687-711.

Breuer, W., 1998, Silicate Based Builders and Their Use in Detergent and Multicomponent Mixture for Use in This Field (online), diunduh dari http://www.freepatensonline.com/5780420.html, diakses tanggal 25 Februari 2014.

Danarto, Y.C., dan Samun T., 2008, Pengaruh Aktivasi Karbon Dari Sekam Padi Pada Proses Adsorpsi Logam Cr(VI), Ekuilibrium, 7[1]: 13-16.

Daneshvar, N., 2003, Photocatalytic Degradation of Azo Dye Acid Red 14 in Water: Investigation of the Effect of Operational Parameters. J,. Photochemistry and PhotobiologyA. Chemistry, 157: 111-116.

Fulleto, E.L., G. Ederson, H. O. Leonardo, J. Sergio, 2006, Conversion of Rice Hull Ash Into Sodium Silicate, Material Research, 9[3]: 335-338.

Ganesh, R., G. D. Boardman, and D. Michelson, 1994, Fate of Azo Dyes in Sludge, J. Wat. Res, 28:1367 – 1376.

Hara, 1986, Utilization of Agrowaste for Building Material, International Research and Development Cooperation Division, AIST, MITI, Japan.

Husni, H., K. Pontas, Y. Nadya, 2013, Fotokatalitik Degradasi Metilen Blue Pada Katalis Natrium Tantalum Oksida, Prosiding SNYuBe, 2013, Darussalam Banda Aceh, Indonesia, hal. 198-204.

Kamath, S., dan A. Proctor, 1998, Silica Gel from Rice Hull Ash, Preparation and Characterization, Cereal Chemistry, 75[4]: 484-487.

Krishnarao R. V., Subrahmanyam J., Kumar, T. J., (2000), “Studies on the formation of black in rice husk silica ash”, J. Ceramic Society, 21:99-104.

Kristanto, P., 2002, Ekologi Industri, Ando Offest, Yogyakarta.

Magalhães, F., F.C.C. Moura, R.M. Lago, 2011, TiO2/LDPE composites: A new floating photocatalyst for solar degradation of organic contaminants, Desalination, 276:266-271.

Mahvi, A.H, A. Maleki dan A. Eslami, 2004, Potential of Rice husk and Rice husk Ash for Phenol Removal in Aqueous System, American Journal of Applied Sciences, 1(4), 321-3226.

Mathur, N., P. Bhatnagar, P. Bakre, 2005, Assessing Mutagenicity of Textile Dyes From Pali (Rajasthan) Using Ames Bioassay, Applied ecology and environmental research, 4(1): 111-118.

Purwaningsih, D., 2009, Adsorpsi Multi Logam Ag(I), Pb(II), Cr(III), Cu(II) dan Ni(II) Pada Hibrida Etilendiamino-Silika dari Abu Sekam Padi, Jurnal Penelitian Saintek, 14[1]:59-76.

Putro, A., dan D. Prasetyoko, 2007, Abu Sekam Padi Sebagai Sumber Silika Pada Sintesis Zeolit ZSM-5 Tanpa Menggunakan Templat Organik, Akta Kimindo, 3[1]: 33-36.

Siriluk, C. dan Yuttapong, S. 2005. Structure of Mesoporous MCM-41 Prepared from Rice Husk Ash. The 8th Asian Symposium On Visualization, Chiangmai, Thailand, 23-27 May 2005, hal. 1-7.

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi
BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply