Fitness Tracker Modis Perpaduan Fashion dan Teknologi dalam Berolahraga
Jun 5, 2016
Makanan dan Minuman Ini Sangat Dianjurkan Bagi Kamu yang Sedang Berpuasa!
Jun 6, 2016

Satu per Satu Kejahatan terhadap Perempuan dan Anak Mencuat, Mungkinkah Adanya Perlindungan Sistemik?

Menolak Kejahatan Perempuan via sbmidpn.blogspot.co

Menolak Kejahatan Perempuan via sbmidpn.blogspot.co

Menolak Kejahatan Perempuan via sbmidpn.blogspot.com

Bangsa Indonesia sepertinya sedang mengalami krisis moral besar-besaran. Satu persatu kasus kejahatan kemanusiaan mencuat di publik yang membuat kita mengelus dada. Sejak kasus Yuyun terungkap dan memancing perhatian publik sehingga timbul gerakan sosial masyarakat, berbagai kasus lainnya terungkap satu persatu. Perlu diingat, kasus Yuyun sebenarnya bukan kasus kejahatan luar biasa pertama yang terjadi di awal tahun ini. Namun, setelah kasus Yuyun muncul, seolah menjadi momentum bagi masyarakat dan pemerintah untuk lebih aware terhadap masalah perlindungan anak dan perempuan.

Perlindungan terhadap anak dan perempuan sudah sepantasnya menjadi upaya yang didorong oleh berbagai pihak. Baik dari keluarga, lingkungan terdekat, masyarakat, pemerintah, bahkan dunia internasional perlu mendukung upaya ini. Bukan tanpa sebab, Indonesia tahun ini mengalami krisis moral besar-besaran yang notabene korbannya adalah perempuan dan anak-anak. Ironisnya, pelaku kejahatan ternyata adalah orang terdekat korban, bahkan keluarga sendiri.

Sekitar akhir Mei 2016 ini, terungkap kasus kehamilan seorang perempuan yang ternyata menjadi korban pelampiasan nafsu dari bapak kandungnya sendiri. Pepatah lama yang menyebutkan sebuas-buasnya harimau, tidak akan pernah memangsa anak sendiri, sepertinya tidak berlaku pada kasus ini. Sukendar (47) mengaku khilaf telah menghamili anak kandungnya AA yang berusia 19 tahun, asal Kampung Areman, Kelurahan Tugu, Cimanggis, hingga hamil dua bulan.

Di hadapan penyidik, pria yang berprofesi sebagai sopir pribadi ini mengaku khilaf. Anehnya, perbuatan bejat ini dilakukan pelaku sudah dalam kurun waktu sembilan tahun terakhir, atau saat korban masih duduk di bangku kelas IV SD. Sukendar mengaku jika selama ini kurang bergaul dengan istrinya. Ini dikarenakan jam kerja sang istri sangat padat. Sebagai buruh, sang istri bisa bekerja sampai tiga shift dalam sehari.

Lebih lanjut, dia tak menampik bahwa aksi tak bermoralnya ini ada pengaruhnya dari video porno yang sering ia tonton. Ditambah kurangnya berhubungan dengan istri, membuat pria bertubuh kecil ini melampiaskan hasratnya ke anak. Korban sempat menolak diajak berhubungan. Namun karena di bawah ancaman, ia pun mesti merelakan kegadisannya direnggut oleh ayahnya sendiri.

Akibatnya, kini anak perempuannya sedang mengandung. Ironisnya lagi, Sukendar memaksa korban untuk menggugurkan kandungan. Sebagai barang bukti yaitu empat bungkus jamu, termasuk dalam bentuk tablet sebanyak tujuh butir yang dipakai untuk menggugurkan kandungannya.

Kemudian berlanjut pada kasus lainnya yang lebih harus mengelus dada. Yaitu pembunuhan Eno Farihah (19), di mess pabrik tempatnya bekerja, oleh tiga orang pemuda. Polisi mengatakan, motif ketiga pembunuh Eno Farihah diduga karena sakit hati. Tiga tersangka itu adalah Imam alias IH, 24 tahun, Arif alias Rar, 24 tahun, dan RAI, 16 tahun. Diantara ketiga orang itu, ada yang masih duduk di bangku sekolah pertama yaitu RAI.

Motif Arif adalah sering disebut jelek atau pahit oleh korban, RAI karena ditolak bersetubuh, sedangkan Imam karena sudah pendekatan berkali-kali tapi tidak direspons korban. Ketiganya tidak sengaja bertemu dan saling mengobrol, kemudian secara mendadak memutuskan untuk memperkosa dan membunuh korban.

Belum cukup sampai disana, lagi-lagi kasus perkosaan terhadap puluhan anak perempuan terjadi di Kota Kediri. Dan tidak tanggung-tanggung korbannya berjumlah 58 orang. Kali ini, seorang kontraktor asal Kediri Sony Sandra (63) alias koko, disebut telah memperkosa 58 anak perempuan yang masih di bawah umur. Kejadian yang berlangsung di Kota Kediri dan Kabupaten Kediri tersebut terjadi sejak tahun 2013.

Menurut penuturan salah satu korban yaitu AK, pelaku dan keempat gadis berada di satu tempat saat kejadian berlangsung. Selain dipaksa minum obat, keempat korban juga dipaksa menyaksikan video porno. Menurut Ketua Lembaga Perlindungan Anak dan Perempuan Brantas, Habib Umar Alhamid, 12 korban diduga diancam oleh pelaku. Hal itu, terindikasi dari pesan singkat pelaku kepada orang tua korban. Korban dijanjikan uang sebesar Rp 60 juta dan satu buah motor jika tidak melaporkan perbuatan pelaku kepada kepolisian.

Dari keseluruhan kasus diatas ini, setidaknya ada 3 hal yang patut disoroti : 1) Adanya hasrat seksual yang tidak mampu dikendalikan akibat dari seringnya menonton video pornografi. Contohnya pada kasus kehamilan anak kandung oleh bapak kandungnya sendiri dan pembunuhan Eno Farihah. Perkembangan teknologi membuat semakin mudahnya akses ke berbagai sumber informasi, termasuk informasi yang terkait dengan pornografi. Pornografi ini dapat mengarah ke terjadinya perzinaan, pemerkosaan, prostitusi, pelecehan seksual pada anak kecil, dan lain-lain.

2) Keamanan Lingkungan yang rendah. Keamanan lingkungan juga menjadi faktor penting dalam faktor terjadinya kejahatan. Dan perlu digarisbawahi bahwa lingkungan disini dimulai dari keluarga sebagai unit terkecil sampai masyarakat luas.

3) Rendahnya atau bahkan krisisnya moral masyarakat Indonesia. Yang membuat tidak habis pikir, misalnya pada kasus pembunuhan Eno Farihah, para pelaku memperkosa dan membunuh korban dengan begitu kejam karena alasan sakit hati akibat cinta. Para pelaku tanpa berpikir panjang langsung membalas dendam pada korban. Namun nahas, meskipun korban sudah memohon, para pelaku tetap melanjutkan aksi jahatnya. Atau seorang bapak yang tega memperkosa anaknya selama 9 tahun karena istrinya sibuk bekerja dan sulit melayaninya. Para pelaku aksi kejahatan ini seolah tidak memiliki kesadaran moral, atau mungkin kesadaran moralnya ada namun tertutupi oleh nafsu.  

Jadi , benang merah yang dapat diambil dari keseluruhan ini yaitu kondisi perlindungan anak dan perempuan di Indonesia yang masih buruk. Kasus-kasus diatas mungkin hanya segelintir dari banyak kasus lainnya yang tidak terungkap di publik. Pada intinya, telah terjadi masalah sosial yang berdampak buruk bagi masyarakat Indonesia, baik di masa kini maupun di masa yang akan datang.

Masalah sosial adalah semua tingkah laku yang melanggar norma-norma dalam masyarakat dan dianggap mengganggu, merugikan, serta tidak dikehendaki oleh masyarakat. Jelas, kasus-kasus diatas telah menjadi masalah sosial yang sangat meresahkan. Masalah sosial ini akan berkembang menjadi kriminalitas.

Kriminalitas secara formal dapat diartikan sebagai suatu tingkah laku yang melanggar norma sosial dan undang-undang pidana, bertentangan dengan moral kemanusiaan, serta bersifat merugikan sehingga ditentang oleh masyarakat. Secara psikologis, kriminalitas adalah manifestasi kejiwaan yang terungkap pada tingkah laku manusia, yang bertentangan dengan norma-norma yang berlaku dalam suatu masyarakat.

Secara sosiologi, kriminalitas diartikan sebaga semua bentuk ucapan dan tingkah laku yang melanggar nroma-norma sosial, serta merugikan dan mengganggu keselamatan masyarakat, baik secara ekonomis, politis, maupun sosial-psikologis.

Masalah sosial dan kriminalitas ini menjadi satu mata rantai. Terutama faktor-faktor penyebab masalah sosial dan kriminalitas yang ternyata juga seperti satu rangkaian. Dimulai dari kondisi keluarga yang kurang mendidik dan mengawasi anak-anak, serta kondisi kemiskinan yang menjerat. Kemudian berlanjut pada tahap pornografi dan minuman keras, yang kemudian dapat berkembang menjadi penyalahgunaan narkoba. Dan pada akhirnya melakukan tindakan kriminal seperti pemerkosaan dan pembunuhan. Hampir pada setiap kasus kejahatan yang terjadi selalu dipicu oleh faktor-faktor ini yang ternyata saling terikat satu sama lain.

Lalu bagaimana dan apa yang harus kita lakukan untuk menangani ini? Yang jelas kita harus melakukan pengarusutamaan perlindungan anak dan perempuan pada setiap hal. Sejauh ini, pemerintah lewat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Kementerian Sosial telah melakukan berbagai upaya untuk melindungi anak-anak dan perempuan, seperti misalnya lewat hukuman kebiri kepada pelaku kejahatan seksual.

Namun, perlindungan terhadap anak dan perempuan seharusnya dilakukan secara sistemik. Sistem mikro, mezzo, makro dari seorang anak atau perempuan harus dipertimbangkan dan dilibatkan. Kita tidak lagi memikirkan bagaimana hukuman diberikan kepada pelaku kejahatan, tetapi bagaimana agar tidak terjadi lagi permasalahan yang sama.

Salah satunya yaitu harus adanya upaya pencerdasan dan pengarahan kepada masyarakat karena masyarakat sebagai polisi sosial yang dapat mengawasi kondisi di sekitarnya. Keluarga dan masyarakat sekitar perlu diberdayakan untuk mengontrol perlindungan terhadap anak dan perempuan. Perlindungan menyeluruh kepada anak-anak dan perempuan akan dapat berhasil, jika semua pihak terlibat dan tidak menunggu kasus muncul terlebih dahulu. (SA/Dari berbagai sumber)

Syadza Alifa
Syadza Alifa

Syadza Alifa adalah mahasiswa Pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial UI dengan peminatan Kemiskinan, Community Development, dan Corporate Social Responsibility. Selain memiliki minat di bidang akademis seperti penelitian sosial dan tulis-menulis, Syadza yang akrab dipanggil Ifa juga memiliki minat di bidang kehumasan dan public speaking. Dengan motto “Learn, Earn, Return”, Ifa bercita-cita ingin menjadi akademisi, policy maker, dan social worker, serta mendirikan yayasan yang bergerak di bidang kemiskinan, kesejahteraan anak, kesejahteraan perempuan, dan penanggulangan bencana.

Leave a Reply