Belajar Sociopreneur dengan Monopoli Berbasis Kearifan Lokal Inovasi Mahasiswa UNY
Mar 4, 2016
Mari Berjaya Perempuan Indonesia!
Mar 28, 2016

Satu Jam Bersama: Penemu Nanoscope Dr. Ratno Nuryadi, M.Eng

Dr. Ratno Nuryadi saat menerima penghargaan Achmad Bakrie Award (2010)

Dr. Ratno Nuryadi saat menerima penghargaan Achmad Bakrie Award (2010)

Dr. Ratno Nuryadi saat menerima penghargaan Achmad Bakrie Award (2010)

Menginjak usianya yang hampir 43 tahun, ilmuwan yang lahir pada tanggal 17 Oktober 1973 di Bantul ini sudah memperoleh banyak penghargaan dan paten penelitian. Dr. Ratno Nuryadi, M.Eng, Doctor of Engineering dari University of Shizuoka Jepang ini namanya mencuat ketika menemukan alat pengukur nano (nanoscope) pertama di Indonesia pada tahun 2010 lalu. Selain itu, Pak Ratno (begitu ia biasa disapa) juga mendapatkan Achmad Bakrie Award sebagai Young Researcher di tahun yang sama.  Dibalik segala kesibukan penelitiannya, siapa sangka ia merupakan orang yang menerapkan prinsip sederhana dalam setiap aktivitas hidupnya.

Ditemui di laboratoriumnya di Pusat Teknologi Material, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Puspiptek, Tim Redaksi BerandaInovasi.com berhasil mendapatkan pelajaran yang berharga dari pengalaman dan prinsip hidup Pak Ratno. Setelah di ajak berkeliling melihat laboratorium penelitiannya, kami berkesempatan mewawancarai lebih dalam tentang sisi lain kehidupan ilmuwan yang juga merupakan pengurus Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI) ini.

Bapak Ratno saat ini sedang penelitian tentang apa?

Fokus penelitian saya saat ini adalah membuat sensor yang berbasis MEMs (Microelectromechanical Systems). Sensor yang saya kembangkan saat ini adalah sensor biokimia yang dapat mendeteksi objek kimia seperti gas beracun. Saya dan tim sedang mengembangkan peningkatan sensitivitas dan selektivitas sensor terhadap suatu objek. Jika saat ini banyak alat sensor yang berbasis konduktivitas, maka pengembangan sensor berbasis MEMs ini akan membuat sensor lebih sensitif menangkap objek yang telah ditentukan.

Melihat CV bapak, sepertinya bapak cukup lama tinggal di Jepang. Berapa tahun?

Total saya tinggal 15 tahun di Jepang. Berangkat tahun 1993 untuk menempuh pendidikan sarjana dan akhirnya pulang ke Indonesia pada tahun 2008 setelah menyelesaikan tugas sebagai asisten professor disana.

Bagaimana Bapak bisa sampai kesana?

Jadi, dahulu saya mempunyai cerita yang tinggi. Di desa saya (Imogiri), dulu tidak masuk listrik. Penerangan masih harus menggunakan lampu gantung. Mayoritas masyarakat di desa saya berprofesi sebagai petani dengan rata-rata tingkat pendidikan yang rendah. Paling tinggi setingkat SMP. Oleh karena itu, susah sekali menemukan panutan di desa saya. Berkaca pada hal itu, saya memutuskan untuk jauh lebih baik dari mereka baik dari segi pendidikan maupun hal lainnya agar nantinya bisa memberikan contoh yang baik untuk anak-anak lain di desa saya.

Hal pertama yang saya putuskan untuk mewujudkan cita-cita saya itu adalah melanjutkan SMA Negeri di Kota (Yogyakarta). Berhubung pada masa itu sekolah negeri masih menjadi primadona dan fasilitas sekolah di kota lebih baik daripada sekolah di desa. Bermodal NEM (Nilai Ebtanas Murni, Red.) tertinggi saat SMP dan di atas rata-rata sekolah teladan (favorit) se-Kota Yogyakarta. Saya mendapatkan kesempatan untuk masuk ke tiga sekolah dengan peringkat teratas di Kota Yogyakarta. Yaitu SMAN 1, SMAN 3, dan SMAN 8 Yogyakarta.

Dr. Ratno Nuryadi saat wawancara

Dr. Ratno Nuryadi saat wawancara

SMA 1 Yogyakarta adalah sekolah menengah atas paling favorit se-Yogyakarta. Namun, keinginan saya untuk masuk ke SMA tersebut mendapatkan penolakan dari orang tua. Letak SMAN 1 yang berada di ujung kota Yogyakarta membuat saya jauh dari rumah dan tidak mendapatkan izin orang tua. Beralih ke SMAN 3 yang terletak di pusat kota Yogyakarta, secara akses tidak terlalu jauh dari rumah orang tua. Namun orang tua saya kembali tidak mengizinkan. “nanti kamu minder masuk situ. Disana orang kota dan kaya semua, kita kan orang kampung” itu kata Ibu. Pak Ratno berseloroh seraya diiringi tawa tim redaksi BerandaInovasi.com

Akhirnya pilihan jatuh kepada SMAN 8 Yogyakarta. Secara akses lebih dekat dengan rumah di Bantul dan lingkungan juga mendukung. Lalu setelah lulus SMA saya mendaftar beasiswa Science and Technology for Industrian Development (STAID) BPPT III. Itu adalah program beasiswa yang dicetuskan oleh Pak Habibie. Bersaing dengan ribuan pemuda dari seluruh Indonesia. Untuk berjaga-jaga, saya juga mendaftar kuliah di UGM (Universitas Gadjah Mada)

Alhamdulillah, saya diterima di jurusan Teknik Mesin UGM pada tahun 1992. Namun, selang 2 bulan kemudian saya mendapatkan informasi jika saya lulus beasiswa STAID. Jadi saya memutuskan untuk keluar dari UGM. Saya menjatuhkan pilihan pertama pada Jerman dan kedua Jepang untuk destinasi negara yang ingin saya tuju. Setelah menunggu beberapa lama, saya diterima di Jepang bersama 18 orang Indonesia penerima beasiswa STAID lainnya. Belajar bahasa jepang dasar selama 6 bulan di Jakarta pada tahun 1992-1993, lalu berangkat ke jepang dan kembali belajar bahasa jepang satu tahun disana. Dan akhirnya memulai perkuliahan pertama di University of Shizuoka pada bulan April tahun 1994. Dan meneruskan S2-S3 di Universitas yang sama. Begitulah perjalanan saya menuju Jepang sampai akhirnya dapat kembali lagi ke Indonesia seperti sekarang.

Orang Tua Bapak tidak ingin Bapak sekolah SMA jauh dari rumah, Bagaimana respon mereka ketika bapak mendapatkan beasiswa S1 ke Jepang?

Hahaha. Orang tua saya guru, Alhamdulillah semuanya mendukung saya untuk melanjutkan pendidikan setinggi mungkin. Mereka sangat senang dan bersyukur ketika saya diterima beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Jepang.

Sebagian komponen penunjang sensor buatan Dr. Ratno Nuryadi

Sebagian komponen penunjang sensor buatan Dr. Ratno Nuryadi

Sejak masih sekolah, apakah bapak sudah suka dengan ilmu fisika dan elektronika?

Sewaktu SMA saya malah lebih suka matematika dibanding Fisika. Memulai fokus pada dunia fisika ketika kuliah S1 dan elektronika ketika kuliah S2 sampai sekarang. Dari 18 orang penerima beasiswa STAID yang ke jepang, hanya saya yang mengambil jurusan sains murni, sisanya mengambil jurusan teknik. Jadi saya diminta mengambil jurusan fisika dan akhirnya saya tekuni sampai saat ini.

Bagaimana pendapat awardee STAID lain melihat Pak Ratno satu-satunya orang yang mengambil jurusan sains murni saat itu?

“seperti biasa, anak sains murni selalu diledek sama anak teknik” (tim redaksi mengangguk sambil tak kuasa menahan tawa). Alasannya ya sama, sains murni tidak se-aplikatif teknik, katanya. Oleh karena itu saat S2 saya mengambil sains terapan, elektronika. “Tapi ternyata belajarnya tidak jauh dari fisika murni juga”

Beralih ke keluarga, bagaimana cerita pertemuan bapak dengan Ibu dengan kondisi bapak menempuh pendidikan 15 tahun di Jepang?

Saya bertemu di Bandung saat liburan semester awal menempuh S2. Ibu (istri pak Ratno, Red.) waktu itu masih kuliah semester akhir di UPI Bandung. Dengan sangat luar biasa Allah SWT mengatur segala prosesnya. Dari bertemu pertama kali hingga lamaran cepat sekali. Namun karena saya hanya diberi jatah libur 2 pekan dari kampus dan sudah pesan tiket pulang. Selain itu orang tua juga tidak mengizinkan jika terlalu cepat. Jadi kami baru menikah 6 bulan kemudian. Saat saya sedang libur musim panas, bulan September tahun 1999.

Apa sih sebenarnya prinsip hidup bapak selama ini?

IQ saya ketika SMA sebenarnya dibawah teman-teman satu sekolah. Saya hanya 112, sedangkan teman-teman yang lain itu rentangnya dari 120-140. Tapi saya selalu jadi juara kelas. Prinsip sederhana yang saya lakukan dalam belajar waktu itu adalah mencatat. Sejak SMP, saya mempunyai catatan rangkuman sendiri selain dari buku catatan wajib di sekolah. Ketika pulang sekolah jam 1, saya langsung membuat catatan kembali tentang apa saja yang saya telah pelajari di hari itu. Dan begitu seterusnya sampai saat ini saya masih melanjutkan budaya itu.

Ketika saya di jepang pun, budaya mencatat adalah budaya yang selalu ditanamkan kepada pelajar maupun pekerja disana. Hal yang sederhana namun membawa dampak yang besar. Beda dengan anak sekarang yang lebih suka memfoto dan merekam saat pelajaran berlangsung. Disamping buku catatan pribadi, saya juga punya buku catatan khusus dari potongan kertas A4 yang selalu saya bawa kemanapun. Bukankah Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “ikatlah ilmu dengan menuliskannya”?

Apa pesan Bapak untuk kita para pelajar Indonesia saat ini?

Apa yang saya capai selama ini dan saya lakukan sampai sekarang pada prinsipnya bukan lah hal yang spesial. Semuanya berawal dari hal-hal sederhana. Saya bisa ke jepang bukan karena IQ saya tinggi atau sudah di cap pintar sejak awal, tapi hanya karena saya rajin mencatat yang membuat saya selalu ingat apa yang saya pelajari. Prinsip sederhana dalam hidup juga saya pelajari di Jepang. Ketika slogan se “jangan ganggu orang lain” menjadi begitu melekat pada hidup saya.

Bayangkan dari hal-hal sederhana seperti menghargai waktu dengan datang tepat waktu ketika janji dengan seseorang, membuang sampah pada tempatnya, tertib berlalu lintas merupakan hal-hal sederhana yang membuat hidup kita lebih bermanfaat.

Pun dengan penelitian membuat suatu alat atau temuan. Membuat alat yang sederhana namun bermanfaat dan dapat digunakan dengan mudah oleh masyarakat. Jika suatu saat alat tersebut akan dikembangkan, maka jauh lebih mudah karena prisnip-prinsip membuat alat tersebut awalnya juga sederhana. Banyak hal besar muncul dari sesuatu yang sederhana.

Well sahabat Beranda, banyak sekali pelajaran dari prinsip dan pengalaman Bapak Ratno yang bisa kita ambil bukan? (NMY)

Nur Maulana Yusuf
Nur Maulana Yusuf

Lulusan Institut Pertanian Bogor yang tertarik dengan dunia media, teknologi, serta sosial ekonomi di Indonesia. Saat ini menjadi bagian dari Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI).

1 Comment

  1. huwaa, luar biasa baguus! <3

Leave a Reply