Menimbang Kebijakan Subsidi Energi Pemerintah
Nov 26, 2014
Metode Wolbachia Bisa Kurangi Jangkitan DBD
Dec 1, 2014

Satu Jam Bersama: Energi Positif Dr. Haznan Abimanyu

Minyak Bumi

statik.tempo_.co_1Konon katanya, persediaan minyak bumi di negeri ini sudah menipis. Banyak ahli memperkirakan bahwa jika tidak ditemukan cadangan minyak baru, maka Indonesia akan mengalami kelangkaan minyak dalam belasan tahun ke depan. Sayangnya, minyak bumi merupakan sumber energi utama yang digunakan masyarakat untuk menjalankan kendaraan bermotor di negeri ini. Keputusan pemerintah untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) selalu diiringi keriuhan, mulai dari aksi protes yang disuarakan kalangan mahasiswa hingga jerit lemah kaum dhuafa yang harus menghadapi kenyataan bahwa harga-harga sejumlah bahan pokok dan tarif angkutan umum akan turut meninggi seiring kenaikan harga BBM.

Kebijakan untuk menaikkan harga BBM demi mengurangi subsidi yang selama ini sudah kadung tinggi selalu diiringi dramatisasi: teriakan pro dan kontra yang sama-sama berdasarkan argumentasi logis. Tak ada yang betul-betul benar dan salah…hanya barangkali, bangsa ini belum benar-benar memikirkan penyelesaian masalah.

Bahan bakar minyak (BBM) merupakan sumber energi yang tak terbarukan. Demikian yang tertera dalam buku teks pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam siswa-siswa SD pada Bab Energi. Sedari kecil masyarakat telah dipahamkan untuk mengetahui kenyataan tersebut. Tapi berapa orang yang pada akhirnya berusaha mencari jalan keluar atas ketergantungan bangsa ini pada minyak bumi?

***

Energi

Haznan Abimanyu, lahir pada bulan Mei 1967. Semasa kanak-kanak, acara Lomba Karya Ilmiah Remaja di TVRI yang saat itu sempat booming dan ngetrend, menjadi tayangan favoritnya. Sejak saat itu ia mulai mengenal Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan bercita-cita menjadi peneliti.

Bisa dibilang, ia tak memiliki ‘darah peneliti’. Ibunya seorang Ibu Rumah Tangga dan Ayahnya seorang tentara. Selain karena pengaruh tayangan di televisi, Haznan ingin menjadi peneliti karena tertarik dengan teknik kimia. Dari teknik kimia, ia banyak mempelajari proses pembuatan sesuatu. Dari teknik kimia pula, ia berusaha menuntaskan rasa penasarannya terhadap bidang energi. Tugas akhirnya pada saat menyelesaikan jenjang S1 Teknik Proses di Technische Universität Braunschweig, Jerman, mengambil tema tentang konversi energi. Terinspirasi dari tugas akhirnya, ia mengambil jurusan Konversi Energi untuk jenjang S2nya di universitas yang sama. Studi doktoralnya di University of Science and Technology, Korea Selatan yang mendalami bidang Green Process and System Engineering diselesaikan lewat sebuah disertasi mengenai katalis untuk energi.

Siang itu, saya berkesempatan untuk mengunjungi tempat kerja Dr. Haznan Abimanyu di Pusat Penelitian Kimia LIPI, PUSPIPTEK Tangerang Selatan. Di belakang meja kerjanya, tersimpan rak-rak penuh buku khas ruang kerja peneliti. Beberapa kertas dan dokumen bertumpuk di pinggir meja kerja. Foto-foto keluarga Dr. Haznan yang dipajang di meja menarik perhatian saya. Senyuman orang-orang dalam foto itu seakan menjadi sumber energi bagi Dr. Haznan dalam meneliti dan menjalankan pekerjaannya sehari-hari. Di foto tersebut, Dr. Haznan dan istrinya berdiri di tengah dengan seorang bayi laki-laki di gendongan sang istri, di samping kanan-kirinya terdapat tiga puteri dengan wajah cantik khas Sumatera barat dan seorang putera.

Keluarga Dr. Haznan

Keluarga Dr. Haznan

Isteri Dr. Haznan, Dessy Gumilan Sari, merupakan lulusan Tekik Mesin UI yang tertarik dengan dunia arsitektur. Dari pernikahannya dengan wanita padang tersebut, Dr. Haznan dikaruniai lima orang anak: dua putera dan tiga puteri. Tiga puteri pertamanya sedang berkuliah. Meneladani sosok Ayahnya, Shofiyah, puteri sulung Dr. Haznan, mengambil jurusan Teknik Kimia di Fukushima College of Technology, Jepang. Terinspirasi dari Ibunda mereka, puteri kedua Dr. Haznan, Aisyah, mengambil jurusan Arsitektur di Universitas Indonesia. Sedangkan Khodijah, puteri ketiga Dr. Haznan mempelajari Ilmu Kedokteran Gigi di Universitas Padjadjaran. Putera keempat Dr. Haznan, Musthofa, masih kelas 3 SMP, dan si bungsu Faiz belum genap dua tahun.

Saat mengobrol di ruang kerjanya, beberapa orang sempat mendatangani ruangan untuk meminta Dr. Haznan membubuhkan tanda tangan di beberapa lembar pengesahan. Dr. Haznan menjelaskan bahwa mereka ialah mahasiswa yang menyelesaikan tugas akhir lewat penelitian di laboratorium pusat penelitian kimia LIPI dengan dibawah bimbingannya. Saat mahasiswa bimbingannya menyalami untuk pamit, Dr. Haznan mengucapkan doa agar sidang tugas akhir yang akan mereka tempuh berjalan lancar.

Dari setengah jam pertama yang dihabiskan di ruang kerja Dr. Haznan, saya memahami bahwa energi bukan hanya soal cadangan minyak. Semangat positif dari sebuah acara televisi merupakan energi yang menggerakkan mimpi dan cita-cita seorang anak untuk menjadi peneliti di kemudian hari. Senyuman isteri dan anak-anak, merupakan energi yang membuat seorang Ayah bergiat dan tak lelah dalam bekerja. Bahkan, ucapan doa dari doktor pembimbing seakan memberi energi tersendiri bagi mahasiswa sehingga ia dapat melangkah yakin menempuh ujian.

Energi adalah sesuatu yang menggerakkan kehidupan kita. Tanpanya, semua akan berhenti”, ungkap Dr. Haznan.

***

Bioethanol

Setelah berbincang di ruang kerjanya, saya dibuat tercekat kagum ketika diberi kesempatan menengok laboratorium tempat kerja Dr. Haznan. Karena dasarnya ‘anak sosial’, jadi laboratorium seukuran lapangan basket yang dipenuhi alat pengolah limbah menjadi bioethanol tersebut bagi saya sungguh menakjubkan. Dalam benak saya, yang dinamakan laboratorium ialah tempat sebesar ruang kelas dengan beragam tabung-tabung reaksi di sepanjang meja. Tapi laboratorium Dr. Haznan di Pusat Penelitian Kimia LIPI ini berbeda, sungguh luar biasa.

DSC_0292Dr. Haznan dipercaya untuk mengembangkan proyek sebesar US$ 3,000,000 yang merupakan implementasi kerjasama LIPI dengan Korea International Cooperation Agency (KOICA). Proyek Pendampingan dalam Membangun Laboratorium Riset untuk Energi, Lingkungan dan Zat Alami tersebut ditandai dengan berdirinya Demo Pilot Plant untuk bioethanol dari lignoselulosa sekaligus pendirian sebuah laboratorium berisikan peralatan lengkap di dalamnya. Proyek yang berlangsung pada 2010 hingga 2012 ini diresmikan oleh Menteri Riset dan Teknologi, Kepala LIPI, Duta Besar Korea untuk Republik Indonesia, Presiden Korea Institute of Science and Technology dan Wakil Presiden KOICA.

Bioethanol dari lignoselulosa digunakan sebagai bahan pembuatan Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Pengembangan EBT oleh LIPI sesuai dengan Instruksi Presidan Nomor 01 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati atau Biofuel sebagai alternatif bahan bakar. Biofuel adalah bahan bakar yang berasal dari bahan organik. Biofuel yang paling populer selain bioethanol ialah biodiesel. Terdapat tiga generasi biofuel, generasi pertama terbuat dari gula, tepung, minyak makan atau lemak hewan; generasi kedua terbuat dari tanaman non-pangan; dan generasi ketiga terbuat dari alga/ganggang. Dibanding Bahan Bakar Minyak, Bahan Bakar Nabati ini dianggap jauh lebih ramah lingkungan.

Salah satu dilema dalam pengembangan biofuel ialah kebermanfaatan bahan bakunya yang juga merupakan komoditas pangan bagi umat manusia. Karena itulah, Dr. Haznan beserta rekan-rekannya di LIPI melakukan pengembangan biofuel generasi kedua lewat Demo Pilot Plant untuk bioethanol dari lignoselulosa. Bioethanol yang dihasilkan berasal dari lignoselulosa pohon dengan memanfaatkan limbah kelapa sawit sehingga bukan merupakan bahan pangan. “Saat ini, semua negara maju concern terhadap pengembangan bioethanol. Bahkan Brasil yang merupakan negara berkembang telah berhasil mengembangkan bioethanol generasi pertama, yakni yang berasal dari tebu, sebagai bahan bakar kendaraan sejak tahun 70-an”, jelas Dr. Haznan.

Bagaimana dengan pemerintah negara Indonesia? Di tengah banyaknya tanggapan atas kenaikan harga BBM, apakah biofuel benar-benar dapat diaplikasikan sebagai alternatif bahan bakar pengganti minyak bumi (BBM)?

Menurut Dr. Haznan, pemerintah Indonesia sebenarnya juga sangat concern dengan pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Namun, sangat disayangkan porsi dana untuk penelitian dan pengembangan di bidang EBT sangat minim.

Laboratorium tempat Dr. Haznan bekerja

Laboratorium tempat Dr. Haznan bekerja

Sebagai pengganti BBM, biomassa saat ini menjadi primadona untuk EBT di Indonesia, baik untuk aplikasi langsung dengan membakarnya demi memperoleh energi listrik maupun dengan diolah terlebih dulu agar menjadi bahan bakar cair. Bahan bakar cair dari biomassa ada yang dapat diaplikasiakan langsung ke mesin, ada yang harus dengan pencampuran. Selain biomassa, biodiesel juga relatif mudah untuk diaplikasikan langsung ke mesin kendaraan. Sedangkan bioethanol seperti yang dikembangkan oleh Dr. Haznan dan rekan-rekannya di Pusat Penelitian Kimia LIPI, penggunaannya harus dengan pencampuran hingga perbandingan tertentu. Bila tanpa pencampuran dengan bensin, penggunaan bioethanol murni harus disertai dengan modifikasi mesin.

Meski demikian, bioethanol dikembangkan karena memiliki banyak keunggulan. Jika minyak bumi terbentuk dari timbunan senyawa organik yang dipengaruhi tekanan dan temperatur alam selama jutaan tahun, bioethanol terbentuk dari pengaruh enzim dan mikroba dalam waktu yang jauh lebih singkat. Selain dapat diperbarukan dan ramah lingkungan, bioethanol memiliki kadar emisi gas yang rendah dan nilai oktan yang tinggi. Premium adalah BBM dengan nilai oktan 88 Nilai oktan pertamax 92; Sedangkan nilai oktan bioethanol mencapai 129. Proses pembakaran bioethanol lebih sempurna sehingga penggunaannya akan lebih efisien.

Selama ini saya berpikir bahwa ketergantungan yang besar terhadap minyak bumi disebabkan karena memang tak ada lagi sumber energi lain yang dapat menyamai keunggulan Bahan Bakar Minyak. Kalaupun ada sumber-sumber energi alternatif, -disamping teknologi untuk mengaplikasikannya yang belum dipersiapkan sempurna-, kualitasnya pun tidak akan dapat menyamai BBM. Sungguh beruntung diberi kesempatan untuk dapat berbincang dengan peneliti yang fokus mengkaji tentang Energi Baru dan Terbarukan sehingga wawasan saya menjadi terbuka. Jika pun cadangan minyak bumi di Indonesia ternyata masih berlimpah dan tak akan pernah habis, pengembangan sumber energi alternatif yang lebih efisien dan ramah lingkungan tentu harus diperhatikan. Bukankah masalah polusi, terutama di ibu kota, juga merupakan hal yang krusial? Saya malah jadi penasaran sekaligus geregetan: kapankah kita semua, -pemerintah dan masyarakat-, bisa tersadarkan bahwa kita tidak dapat terus-menerus bergantung pada sumber energi minyak bumi dan mulai serius mengembangkan EBT?

Dr. Haznan tersenyum sejenak mendengar pertanyaan saya. Seakan mafhum, ia berujar pelan, “…ya (bangsa) kita kan kalau sudah terdesak, barulah bertindak.”

***

IMG_1145

Air

Bagi saya, orang berilmu layaknya aliran air. Selalu bergerak mencari jalan untuk dapat mengalir. Sebagaimana manusia harus selalu berbuat mencari jalan keluar atas tiap permasalahan. Beriak ataupun memercik tanpa arah seringkali tak menjangkau daratan, hanya sekedar meninggalkan sedikit basah. Begitupula dengan teriakan pro-kontra atas suatu kebijakan yang seringkali tak menyelesaikan persoalan. Air cukup terus mengalir dalam ketenangan, layaknya sistem irigasi menyuburkan pepadian. Bagi para guru, pemikir, peneliti, ataupun ilmuwan, mewariskan dan mengaplikasikan keilmuan masing-masing dalam senyap tanpa gegap-gempita adalah sebuah bentuk pengabdian.

Saya menangkap hal itu dari sosok Dr. Haznan. Ia mencintai pekerjaannya sebagai peneliti karena ia merasa bebas mengeluarkan ide dan dapat meneliti jawaban dari segenap permasalahan yang ada. “Namanya penelitian itu nggak harus selalu berhasil, dan nggak harus selalu dikomersialisasikan… Meneliti adalah tentang proses. Lihat saja Thomas Alfa Edison yang harus melakukan seribu kali percobaan baru berhasil”, begitu katanya.

 Menariknya, sejak penulisan skripsi, tesis, hingga disertasi, Dr. Haznan memang selalu tertarik menggunakan media yang berhubungan dengan air. Skripsinya membahas tentang uap air sebagai penangkap dari energi panas yang dikeluarkan batu bara. Uap air menggerakkan turbin sehingga turbin dapat menggerakkan generator listrik. Tesis dan disertasinya ialah tentang pembuatan katalis untuk memecah air. Memanfaatkan panas sisa yang tidak terpakai dalam reaktor nuklir sebagai energi dengan teknologi water splitting (menggunakannya untuk memecah air (H2O) menjadi H2 dan O2), sehingga hidrogen tersebut dapat digunakan untuk pembakaran. Bahkan penelitian-penelitiannya di LIPI pun banyak yang berkaitan dengan ‘air’.

Jika bergerak masif…tenaga air yang dihasilkan ombak dapat menggerakkan pembangkit listrik, menghasilkan energi. Bahkan ternyata uap air yang menangkap panas pun dapat menggerakkan turbin sehingga mampu memutar generator listrik. Air begitu menyejukkan, tetapi di sisi lain menyimpan energi. Begitu pula kesan saya terhadap Dr. Haznan selama satu jam berbincang bersama. Dibalik senyumnya yang meneduhkan, terdapat energi positif. Terdapat semangat dan optimisme akan pengembangan EBT di Indonesia.

Mengapa Dr. Haznan tertarik menggunakan media air dalam banyak penelitiannya mengenai energi?

Karena air adalah sumber kehidupan…darinya kita ada, dengannya kita hidup”, tangkasnya berfilosofi.

*Biodata Dr. Haznan Abimanyu dapat dilihat di web VRL MITI

Ulya Amaliya
Ulya Amaliya

After studying International Relations in Gadjah Mada University, she dedicated herself as NGO’s officer of Social Research and Data Analysis in Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI).

Leave a Reply