Generasi Y Indonesia: Menduniakan Batik dengan ABCDE
Oct 3, 2014
10 Inovasi Baru yang Dapat Mengubah Dunia
Oct 9, 2014

Satu Jam Bersama: Puzzle Kehidupan Dr. Edi Sukur

Life is like a giant puzzle. Every day we struggle to find it’s pieces to make it into a complete picture. (unknown)

320754_10150395751518217_1566073560_n

Dr. Edi Sukur lahir di Jakarta tahun 1971. Ia merupakan Sekretaris Umum Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI). Jika mengenang masa kecil dan rangkaian peristiwa di masa lalunya, Doktor bidang Teknik Kimia lulusan Chiba University, Jepang, ini tak menyangka bahwa di titik hidupnya sekarang, ia malah menjadi seorang teknopreneur.

***

Sensei, begitu para anggota MITI biasa memanggilnya.

Hampir pukul setengah lima sore ketika sensei mulai melajukan mobilnya. Langit terlihat lebih gelap karena cuaca yang mendung. Ia pulang agak cepat karena kondisi tubuhnya sedang kurang baik. Terlebih, Mas Yanto, asisten yang biasa mengemudikan mobilnya sedang tidak bisa bertugas hari itu.

“Kita harus pulang lebih awal nih karena jalanan akan sangat macet di hari Jumat selepas maghrib”, sensei memberikan penjelasan kepada saya. Di sebelahnya, Shafa (4 tahun), putrinya yang paling kecil duduk tenang. Saya duduk di bangku belakang bersama Ulya (8 tahun) yang asyik bernyanyi mengikuti iringan lagu yang diputar di radio. Meski masih kecil, menurut saya suara Ulya sudah enak didengar :3

Dari pernikahannya dengan dr. Tresnaningsih, seorang dokter spesialis akupuntur, saat ini sensei memiliki lima orang anak. Sulung hingga putra ketiganya adalah lelaki: Syafiq (17 tahun), Fadhil (14 tahun), dan Ayyasy (12 tahun). Putri-putri cantik yang hari itu mengikuti Ayahnya ke kantor, Ulya dan Shafa, adalah anak ke-empat dan bungsu dalam keluarga.

Masa Kecil

Sensei melajukan Pajero sport-nya sambil bercerita. “Saat kecil, saya tinggal di lingkungan yang kurang kondusif. Rumah orang tua saya di daerah Kramat Jati merupakan lokasi peredaran narkoba. Lingkungan tempat tinggal disana kurang nyaman, banyak terjadi kriminalitas. Orang tua cenderung melarang saya bermain di sekitar rumah sehingga saya hampir tidak punya teman di rumah. Sejak SMP hingga SMA, saya diperbolehkan Ibu untuk bebas menghabiskan waktu bermain asal di sekolah. Karena itulah, Ruang OSIS atau Ruang Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan menjadi tempat favorit saya dalam menghabiskan waktu sepulang sekolah”.

Semasa sekolah, Sensei merupakan siswa yang aktif dalam organisasi sekolah dan kegiatan ekstrakurikuler. Saat SMP ia aktif dalam Pramuka, menjadi peserta Jambore Daerah tahun 1985 dan Jambore Nasional tahun 1986. Di SMA, ia merupakan Komandan Paskibra serta aktif di Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Sebagai Komandan Paskibra, ia sempat beberapa kali mengantarkan timnya menjadi pemenang dalam lomba Paskibra.

“Sampai kelas dua SMA saya menghabiskan waktu saya untuk organisasi dan kegiatan ekstra di sekolah. Selain karena saya dilarang bermain di sekitar rumah, memang saya orangnya suka mengatur”, Sensei tertawa kecil. “Dari dulu, saya cenderung menghindari sesi pemilihan ketua atau pimpinan karena saya sudah GR duluan. Saya GR bahwa akan terpilih, karena itu tadi: karena saya orangnya suka mengatur!”, lagi-lagi ia mengakhiri kalimatnya dengan tawa. Ternyata, bakat kepemimpinan Sensei sudah terlihat sejak belia.

“Saking senangnya berorganisasi, saat kelas 3 SMA saya baru sadar kalau saya kurang mendalami bidang akademis. Saat itu saya merupakan siswa Jurusan Fisika, tapi saya tidak benar-benar memahami fisika. Rumus F=m.a saja saya gak ngerti apa maksudnya, walau nilai di rapot sih bagus terus, hahaha ”, ujarnya.

Saat kelas 3 SMA itulah beliau menyadari bahwa ia harus lebih giat berjuang di bidang akademis. Kemampuan akademisnya akan menentukan nasibnya selepas sekolah. Saat itu, Ayahnya yang sudah pensiun dari Kopassus masih harus menanggung biaya kuliah kakak dan biaya pendidikan adiknya. Karena itu, beliau bertekad untuk dapat kuliah dengan beasiswa, entah itu di dalam atau di luar negeri.

Beruntung, Guru fisika, kimia dan matematika di kelas III SMA-nya sangat akomodatif. Pelajaran kelas III diselesaikan beberapa bulan saja, sisanya dipergunakan untuk mengulang pelajaran dari kelas I. Saat itu ia mulai dapat benar-benar mengerti tiap pelajaran yang diajarkan di sekolah. Sensei sempat tertawa saat menceritakan dirinya diutus oleh guru kimianya untuk mengikuti lomba kimia hanya karena pernah mendapat nilai 9.2 untuk pelajaran kimia organik di saat siswa yang lain agak sulit untuk mendapatkannya. Padahal saat itu dia masih kesulitan dalam memahami materi kimia pada bab lainnya. Hampir tiap hari ia belajar sampai jam 2 pagi untuk mengejar ketertinggalan.

Dr. Edi Sukur (kedua dari kanan, berkacamata) bersama rekan-rekannya saat berkuliah di Jepang

Dr. Edi Sukur muda (kedua dari kanan, berkacamata) beserta rekan-rekannya saat berkuliah di Jepang

Demi mengejar cita-cita untuk berkuliah dengan beasiswa, ia rajin mencari informasi, terutama dari teman-temannya yang berlangganan koran. Karena pada masa itu internet belum populer dan aksesnya masih terbatas, biasanya informasi hanya didapatkan dari mading sekolah atau koran.

Alhamdulillah, Sensei berhasil lulus dalam beberapa tes beasiswa yang ia ikuti. Satu persatu tawaran beasiswa yang berhasil ia dapatkan pun harus dilepas demi mendapatkan yang terbaik. Pilihan terakhirnya adalah beasiswa dari Kementerian Negara Riset dan Teknologi, Science and Technology for Industrial Development (STAID) untuk negara Jepang.

Persahabatan dengan Dr. Warsito

“Aku mau beli roti…”, Shafa memelas lucu. Anggukan dari sang ayah seketika membuatnya tersenyum girang. Sensei menepikan mobilnya. Mendung sedari tadi telah membuahkan gerimis. Dengan hati-hati, Shafa dan Ulya mengikuti langkah sigap sang Ayah. Mereka memasuki pusat perbelanjaan menuju sebuah toko roti.

Sensei memiliki ayah seorang prajurit Kopassus yang berwatak keras seperti tentara pada umumnya. Sifat pendiam sang ayah membuat Sensei kecil jarang mengobrol dan hampir tidak pernah berdiskusi dengannya. Karena langka, saat dimana Sensei diajak bicara oleh Sang Ayah merupakan momen yang dapat dihitung dan diingat, salah satunya ialah saat ia hendak berangkat ke Jepang.

“Suatu malam Bapak mengajak saya ngobrol….mendorong agar saya berangkat ke Jepang saja. Bahkan beliau berpesan agar minimal kuliah sampai S2 disana. Jangan pulang kalau belum selesai S2’, begitu katanya. Hal yang sama diulangnya lagi saat mengantarkan saya ke bandara Soetta…”

Pesan sang Ayah seakan tak bisa ditawar. Sejak tahun pertama berkuliah di Jepang, saat masih berjuang untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan di sana, Sensei sudah bertekad untuk tak buru-buru kembali hidup di tanah air. Dia berharap, bekal ilmu yang dimiliki tak hanya akan membuatnya dapat memberikan ‘sesuatu’ untuk keluarga, tetapi juga untuk masyarakat dan lingkungan sekitar.

Seringkali, Sensei teringat dengan keadaan masyarakat di lingkungan sekitar rumahnya. Teman-teman satu kampungnya hanya beberapa saja yang dapat mengenyam bangku SMP dan SMA. Ia yang diberi kesempatan mengenyam pendidikan hingga S3 bukan saja harus bersyukur, tetapi juga berpikir dan berbuat.

Diberi kesempatan hidup di negeri orang mau tak mau membuat Sensei membandingkan keadaan masyarakat Indonesia dengan Jepang. Dia menyadari bahwa di tanah airnya kemiskinan masih meraja, pengangguran dimana-mana, masyarakat masih kurang membudayakan disiplin, dan daya saing bangsa cenderung rendah.

1796094_10152365899946057_961190628_o

Dr. Edi Sukur bersama Dr. Warsito P. Taruno

Sensei merasa harus menjawab kegelisahan dan keprihatinannya atas keadaan masyarakat sekitar dengan melakukan kolaborasi dengan orang-orang yang satu cita-cita dengannya. Untungnya, selama empat belas tahun di Jepang ia dikelilingi orang-orang hebat yang memiliki visi dan misi yang searah dengannya. Salah satunya ialah Dr. Warsito P. Taruno yang tak hanya merupakan sahabat, tetapi juga seorang mentor sekaligus partner baginya. Keduanya bertemu ketika sama-sama menyelesaikan studi di Jepang. Sejak kepulangan dari Jepang, mereka kerap kali berdiskusi dan menghabiskan waktu untuk melakukan perjalanan bersama. Setidaknya hampir setiap bulan mereka berdua keliling ke beberapa wilayah untuk mengamati curamnya kesenjangan pembangunan di beragam daerah di Indonesia. Pernah, mereka berdua berjalan ke daerah pelosok Banten, bermalam di rumah seorang jawara di sana. Sebagai dua orang doktor yang senantiasa bergelut dengan kemajuan teknologi, pengalaman di Banten membuat mereka menyadari bahwa kearifan lokal juga perlu dijaga.

Saat ini, Dr. Warsito dan Sensei merupakan Ketua dan Sekretaris Umum MITI. Pengalaman di Banten mereka jadikan inspirasi untuk membuat Hibah MITI, program pemberian dana hibah untuk pengembangan usaha kepada kelompok mahasiswa yang mampu melakukan pemberdayaan masyarakat melalui penciptaan teknologi sederhana berbasis kearifan lokal. Beragam pengalaman hidup yang selama ini membentuk pola pikir dan menggoreskan niat baik untuk kemajuan Indonesia, coba ia wujudkan bersama Dr. Warsito melalui MITI. Menilik latar belakang keduanya, dimana Dr. Warsito merupakan seorang ilmuwan dan Sensei ialah Teknolog, mereka bertekad agar teknologi yang selama ini dibuahkan oleh kalangan ilmuwan dan teknolog dapat teraplikasikan sehingga kebermanfaatannya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Sensei, selain seorang doktor di bidang Teknik Kimia, juga merupakan seorang yang organisatoris dan berjiwa bisnis. Sedangkan Dr. Warsito merupakan inventor Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT), alat pemindai tubuh yang efisien dan akurat. Baik Sensei maupun Dr. Warsito sama-sama memiliki cita-cita untuk dapat mengambil bagian dalam menciptakan solusi atas segenap persoalan yang dihadapi bangsa ini. Keduanya mendirikan PT. CTECH LABS EDWAR TECHNOLOGY, sebuah pusat riset pengembangan teknologi tomografi berbasis kapasitansi. Riset yang dilakukan meliputi bidang Imaging Process, Biomedical Imaging, High Performance Computing, NDT (Non Destructive Testing) and Material Inspecting, dan Cancer Theraphy. Nama EDWAR sendiri merupakan singkatan dari Edi dan Warsito, panggilan keduanya.

Perusahaan yang dirintis Dr. Edi Sukur dan Dr. Warsito diharapkan mampu menjadi ikhtiar dalam membuka lapangan usaha dan membantu perekonomian masyarakat. Kini, PT. Ctech Labs Edwar Technology tak hanya membawahi laboratorium penelitian, tapi juga memproduksi perangkat terapi kanker dan membuka C-Care Klinik Riset Kanker dibawah naungan PT. Edwar Healthcare.

Perusahaan Edi-Warsito (Edwar) menjadi bukti bahwa Sumber Daya Manusia Indonesia mampu bersaing dalam ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.

Puzzle Kehidupan

Dr. Edi Sukur dan Ulya, putri keempatnya.

Dr. Edi Sukur dan Ulya, putri keempatnya.

Ulya sempat memprotes kenapa Sang Ayah membelikan roti porsi double untuk kakak tertuanya di rumah. Gerimis menderas, lalu lintas memadat. Ketika akhirnya Sang Ayah memperbolehkannya turut mengambil porsi double, Ulya kembali tenang. Asyik menyantap roti, menikmati hujan dan kemacetan sambil bersenandung pelan. Sensei melanjutkan ceritanya.

“Setelah menyelesaikan S3, Saya tidak langsung lansung pulang ke Indonesia”, katanya. “Saya ikut Post Doctoral Fellowship di Tonen General Sekiyu (Exxonmobil affiliate in Japan). Tema saat itu adalah men-develop differential gear oil agar dapat dipergunakan untuk kendaraan di negara subtropics. Jadi, oil itu harus bisa tahan di suhu ekstrim dingin (tidak membeku) dan suhu ekstrim panas (tidak terlalu encer). Kalau membeku, mesin mobil nggak bisa nyala, dan jika terlalu encer akan merusak permukaan gear sehingga harus dicari kekentalan khusus untuk memenuhi persyaratan tersebut. Kekentalan ini bisa juga berpengaruh terhadap fuel economy kendaraan secara umum. Oil kami develop menggunakan coconut oil dan polymer khusus, ditambah dengan senyawa-senyawa khusus anti-corrosive dan lain-lain. Lumayan juga mencari formulanya, tapi Alhamdulillah akhirnya bisa juga selesai dan dipatenkan”, ia menambahkan.

Kembali ke Indonesia, Sensei bekerja di salah satu perusahaan kimia di daerah industri di Tangerang. Dengan posisi sebagai special staff to director, Sensei punya kewenangan untuk mengkoordinasikan beberapa bagian, mulai dari R & D, Produksi, PPIC, Purchasing, Marketing dan Accounting. Pengalaman memahami sistem dalam perusahaan dan menangani permasalahan-permasalahan di dalamnya itulah yang akhirnya menjadi bekal bagi Dr. Edi Sukur untuk membangun perusahaan bersama Dr. Warsito.

Dari seorang anak sekolah yang gemar berorganisasi, mendapatkan beasiswa studi, menjadi peneliti, kemudian staf ahli Presiden Direktur di bidang penelitian dan pengembangan perusahaan, hingga kini menjadi seorang Direktur Perusahaan yang aktif memperjuangkan kemandirian dan daya saing bangsa melalui sebuah Organisasi Non-Pemerintah. Dr. Edi tidak pernah menyangka dan merencanakan alur hidup yang demikian. Baginya, tiap keping yang dijalani dalam kehidupan layaknya potongan puzzle. Pada akhirnya, semua pengalaman, semua pemikiran, semua perenungan, semua hikmah kehidupan yang didapat –meski pada awalnya hanya berupa potongan yang belum jelas bentuknya- akan dapat terangkai menjadi sebuah gambar besar di akhir kehidupan.

Ia pun tak tahu, bagian puzzle mana yang sedang ia rangkai kini. Di akhir hidupnya nanti, ia tak berambisi untuk dikenal sebagai apapun. Ia hanya ingin terus merangkai puzzle hidupnya menjadi gambaran kebaikan…

***

Hujan sudah mulai berhenti saat mobil yang dilajukan Sensei berhenti di daerah Pasar Rebo. Ulya tertidur pulas, menyandarkan kepalanya di kaca jendela mobil. Begitu pula dengan Shafa yang duduk di bangku depan, matanya sudah terpejam rapat sedangkan tangannya masih menggenggam potongan roti yang belum dihabiskan.

Sensei tersenyum menyadari bahwa anak-anaknya tumbuh begitu cepat, seperti halnya percakapan sepanjang perjalanan yang terasa begitu singkat. Jarak dari kantornya di Tangerang ke tujuan pun kian dekat. Saya pamit, meresapi pelajaran hidup dari sosok Dr. Edi Sukur dengan khidmat.

Ulya Amaliya
Ulya Amaliya
After studying International Relations in Gadjah Mada University, she dedicated herself as NGO's officer of Social Research and Data Analysis in Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia (MITI).

8 Comments

  1. Ngeri ngeri sedap Pak 🙂

  2. Nenny says:

    Barokallah….bangga jadi temen sekelas sensei

  3. Edi yg ku kenal ketika SMA (3 th sekelas terus sih) dan setelah Dr S3 ternyata masih sama aja nggak ada beda-nya sebagai teman yg enak… Good Luck bro, WUATB…

  4. Temen sekelas gw nih pas SMA xixixixi norak.com

  5. Sungguh mengispirasi, semoga terlahir Doktor – doktor seperti bapak dikemudian hari kelak.. jayalah terus teknokrat indonesia dan tetap berkreasi thanks

  6. den bagus mas kris says:

    Ini mah narsis banget pak….editornya sapa nih, pasti diarahin….

  7. Baru sekali ketemu beliau, dan …

    :")

Leave a Reply