Belajar dari Thailand: Kitchen of The World
Apr 4, 2013
Beranda Inovasi Official Call for Contributor (Penulis Artikel dan Opini) Edisi: April 2013
Apr 8, 2013

Sagu dan Ubi Jalar, Pangan Lokal Papua

Sago_Palm_being_harvested_for_Sago_production_PNGPapua merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang mempunyai keadaan geografis unik. Provinsi Papua merupakan Provinsi yang paling luas wilayahnya dari seluruh Provinsi di Indonesia. Luas Provinsi Papua ± 410.660 Km2 atau merupakan ± 21% dari luas wilayah Indonesia. Lebih dari 75% masih tertutup oleh hutan-hutan tropis yang lebat, dengan ± 80% penduduknya masih dalam keadaan semi terisolir di daerah pedalaman (Sumber : DPRD Papua, 2013).

Dikelilingi oleh pegunungan Jayawijaya yang menjulang hingga daerah rawa yang membelah Papua melalui sungai Digul di selatan dan sungai Memberami di utara, membuat tanah Papua kaya akan keragaman hayati. Dari total luas tanah ± 410.660 Km2, baru ± 100.000 Ha yang dimanfaatkan. Tanah yang potensial untuk tanah pertanian antara lain (a) tanah rawa pasang surut luasnya ± 76.553 Km2, (b) tanah kering luasnya ± 58.625 Km(Sumber : DPRD Papua, 2013).

Karena kondisi alam ini, penduduk Papua mempunyai kebiasaan berbeda yang membentuk ciri khas tersendiri. Bukan hanya dari segi budaya, namun juga pola konsumsi masyarakat sebagai wujud adaptasi terhadap alam yang melingkupi. Untuk mencukupi kebutuhan pangan, masyarakat Papua memanfaatkan kekayaan alam yang tersedia sangat melimpah. Ubi jalar dan sagu merupakan dua jenis tanaman pangan yang menjadi sumber kecukupan kalori masyarakat Papua.

Ubi jalar merupakan komoditas penting di Papua karena merupakan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk di pedalaman terutama di kawasan lembah Baliem, Kabupaten Jayawijaya.  di daerah pegunungan ketinggian dengan 1.650−2.700 m diatas permukaan laut tersebut, stok tanaman pangan yang ada terbatas.  Selain ubi jalar, secara ekologis sangat sedikit tanaman pangan yang mampu beradaptasi dan berproduksi dengan baik dengan menggunakan teknologi sederhana (Dimyati et al :1991 dalam Rauf, 2009).

Sama halnya dengan ubi jalar, sagu juga merupakan tanaman lokal yang menjadi sumber pangan masyarakat Papua. Sagu merupakan bahan pangan utama bagi masyarakat Papua yang tinggal di daerah pesisir. Daerah pesisir yang berair atau rawa merupakan tempat tumbuh berbagai jenis sagu. Pohon sagu di Papua tumbuh secara alami tanpa tindakan budi daya dari penduduk setempat (Rauf, 2009). Apalagi sebagian besar lahan di Papua yang potensial adalah berupa rawa, maka sagu merupakam sumber pangan melimpah bagi masyarakat.

Namun seiring dengan kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah tentang revolusi hijau yang menggenjot produksi padi secara massal, sehingga harga beras menjadi begitu murah,  posisi sagu dan ubi jalar sebagai makanan pokok masyarakat Papua pun mulai tergeser oleh beras (Budi: 2003 dalam Rauf, 2009). Hal ini setidaknya terlihat dari jumlah produksi serta lahan tanam ubi jalar yang terus menurun. 

Tabel 1. Luas panen, produksi, dan hasil ubi jalar di Provinsi Papua, 2003−2006.

Tabel 1

Sementara itu, luas panen dan produksi padi di Papua tiap tahun menunjukkan peningkatan, seperti yang tertera di tabel bawah ini. 

Tabel 2

Walaupun produksi padi dan luas lahannya terus meningkat, tapi berdasarkan peta kerawanan pangan nasional (2009) yang dikeluarkan oleh Badan Ketahanan Pangan, Provinsi Papua termasuk daerah yang mengalami kerawanan pangan parah dengan kategori defisit tinggi yang merupakan indicator terparah. Hal ini dikarenakan rasio antara tingkat produksi dan konsumsi tidak seimbang.

Beras sejak awal memang bukan merupakan makanan lokal Papua. Selain daerah geografisnya yang memang tidak cocok, beras juga bukan hasil kearifan lokal  Papua yang bersahabat dengan alam. Memaksakan beras menjadi makanan pokok dan meninggalkan sagu serta ubi jalar dari masyarakat Papua telah menghasilkan keadaan yang justru menjadikan Papua sebagai daerah dengan kerawanan pangan tinggi. Padahal melalui sagu dan ubi jalar itulah masyarakat Papua sejak dulu mampu memenuhi kebutuhan dasarnya secara mandiri. Tidak perlu menunggu atau mendatangkan pasokan pangan dari luar seperti sekarang ini. (NI)

Sumber :

Badan Ketahanan Pangan. 2009. Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan Indonesia. Diakses dari http://bkp.deptan.go.id/file/petapangan/FSVA_Report.pdf

Gambaran Umum Papua, diakses dari http://www.dprp.go.id/index.php?option=com_content&do_pdf=1&id=60&showall=1

http://www.badanketahananpangan.com/

Rauf, A. Wahid,Martina Sri Lestari. 2009. Pemanfaatan Komoditas Pangan Lokal Sebagai Sumber Pangan Alternatif Di Papua. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Papua, Diakses Dari Http://Pustaka.Litbang.Deptan.Go.Id/Publikasi/P3282093.pdf

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply