Potensi Energi Geothermal untuk Kesejahteraan Bangsa
Jul 18, 2013
Pengaplikasian Konfigurasi Kolom Distilasi Maju sebagai Upaya Peningkatan Efisiensi Energi di Industri
Jul 22, 2013

Saatnya Memanen Energi dari Sampah

tumpukan-sampahSampah tampaknya telah menjadi persoalan serius yang belum terselesaikan hingga saat ini. Sebagian besar masyarakat pun sangat mencemaskan kondisi ini. Banyak masyarakat yang berusaha mencari solusi terkait masalah sampah seperti yang rutin dilakukan warga kota Yogyakarta setiap tahunnya dengan melakukan aksi Grebeg Sampah. Grebeg sampah yakni dengan melakukan berbagai aktivitas dan performance art dengan tema terkait dengan persoalan sampah.

Seiring dengan kemajuan ekonomi dan pertumbuhan kesejahteraan masyarakat, produksi sampah khususnya di kota-kota besar terus meningkat secara signifikan. Sebagai misal, di kota Yogyakarta sampah yang diproduksi mencapai sekitar 300 ton per hari dan sebagian besar masih ditimbun di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah. Sementara ketersediaan lahan TPA di Piyungan, Bantul sangat terbatas dan diperkirakan hanya sanggup menampung hingga beberapa tahun ke depan. Perbaikan manajemen sampah pun mulai dilakukan dengan konsep 3R (reduce, reuse and recycle). Pengelolaan sampah dengan mendirikan Bank Sampah seperti di daerah Bantul juga merupakan langkah inovatif yang patut dicontoh.

Namun, hal itu tidaklah cukup, perlu adanya suatu teknologi pengolahan sampah yang dapat mereduksi atau mengubah sampah menjadi produk yang lebih bermanfaat. Beberapa elemen masyarakat telah mengembangkan sistem pengomposan, tetapi itu hanya berlaku untuk jenis sampah tertentu dan membutuhkan waktu lama. Mengubah sampah menjadi energi nampaknya bisa menjadi solusi yang cukup tepat di saat persoalan energi pun sedang mengemuka seiring dengan menipisnya cadangan minyak bumi.

Mengubah sampah menjadi energi tentunya tidak hanya sekedar dilakukan dengan cara-cara konvensional yang selama ini telah diketahui oleh sebagian masyarakat seperti misalnya dengan teknologi biogas. Ada beberapa teknologi yang cukup inovatif dan telah dikembangkan di negara maju dan sebagian sudah masuk tahap komersial. Diantaranya adalah teknologi hydrothermal treatment yang dikembangkan di Jepang oleh Prof. Yoshikawa dari Tokyo Institute of Technology. Dari proses ini bisa dihasilkan bahan bakar, pupuk dan makanan ternak. Prinsip teknologi ini adalah dengan memanaskan sampah pada suhu dan tekanan yang tinggi sehingga sampah akan terdekomposisi. Keunggulan teknologi ini adalah dapat memproses sampah dengan kandungan air yang tinggi. Hasil bahan bakarnya adalah padatan berbentuk seperti serbuk dengan nilai kalor yang setara dengan batubara, sehingga bisa digunakan untuk pencampuran dengan batubara. Targetnya adalah memanfaatkan produk ini untuk industri semen dimana abunya bisa dimanfaatkan untuk campuran semen.

Selain itu, terdapat teknologi gasifikasi dimana sampah kota yang berupa biomassa dimasukkan ke dalam reaktor dengan sedikit suplai oksigen untuk direaksikan pada suhu tinggi diatas 800 C. Hasilnya adalah bahan bakar gas yang mengandung CO, CH4 dan H2 dan bisa digunakan untuk berbagai aplikasi diantaranya untuk pembangkit listrik menggunakan turbin gas, mesin diesel dan juga aplikasi termal.

Permasalahan Plastik

Yang kemudian dicemaskan oleh masyarakat adalah keberadaan plastik yang tidak mudah hancur dengan hanya menimbun dalam tanah. Dengan teknologi ini semua jenis plastik pun bisa hancur dengan mudahnya. Bahkan ada teknologi lain yang akan mengubah plastik menjadi bahan bakar cair setara bensin dan solar. Prinsip teknologinya menggunakan teknik pirolisis dengan bantuan katalis. Perlu untuk diketahui, plastik sesungguhnya berasal dari minyak bumi yang kemudian diolah melalui beberapa proses, sehingga kandungan energi plastik sangat tinggi yang tentunya sangat baik bila diubah menjadi bahan bakar. Beberapa negara pun sudah mulai mengembangkan skala komersial teknologi ini. Teknologi ini pun sangat menjanjikan untuk diterapkan di Indonesia dimana penggunaan plastik terus meningkat dari tahun ke tahun sementara plastik termasuk bahan yang sangat sulit terdegradasi, perlu waktu ratusan tahun untuk menghancurkannya. Minyak hasil pirolisis ini bisa digunakan untuk campuran solar pada mesin diesel ataupun untuk aplikasi lainnya seperti pada kompor atau burner.

Sebagai penutup, memang sangat diperlukan sekali komitmen pemerintah dalam pengelolaan sampah secara terpadu dan berkelanjutan. Mengandalkan partisipasi masyarakat saja tidak cukup karena diperlukan regulasi-regulasi yang bisa mengawal dan mempercepat implementasi pengelolaan sampah. Usaha-usaha meminimalisasi produksi sampah sangat penting, tetapi mencari alternatif pengolahan sampah juga tidak kalah penting, apalagi bisa mendapatkan nilai tambah dari pengolahan tersebut seperti produksi energi. Masyarakat pun perlu untuk diedukasi dengan teknologi baru yang ada supaya nantinya tidak menimbulkan resistensi akibat kesalahpahaman yang seringkali terjadi.

Oleh: Mochamad Syamsiro ST, M.Eng. Dosen Jurusan Teknik Mesin Universitas Janabadra, Mataram

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply