LAKBAN: Alat Kontrol Bagi Supir Bus Nakal
Aug 15, 2014
Majalah Beranda Edisi 3
Preview Majalah Beranda Edisi 3
Aug 21, 2014

Rancang Bangun Informasi Sistem Pangan Lokal

Beberapa langkah dalam mendukung konsep ketahanan pangan diantaranya meningkatkan diversifikasi pangan, meningkatkan nilai tambah, daya saing dan ekspor, serta meningkatkan kesejahteraan petani. Pengembangan pangan lokal terkait dengan upaya untuk meningkatkan kecukupan pangan dan diversifikasi pangan, terutama di tingkat masyarakat. Ketahanan pangan adalah kesetaraan akses setiap masyarakat terhadap makanan untuk dapat hidup sehat dengan gizi yang baik. Sehingga, kerawan pangan dapat diartikan dengan minimnya akses informasi masyarakat terhadap ketersediaan pangan dan kurangnya kemampuan untuk menjangkau makanan yang sehat dan bergizi.

Pangan lokal dapat membantu meningkatkan ketersediaan makanan sehat, terutama daerah dengan akses yang terbatas. Untuk itu, keberlanjutan (sustainability) penting bagi sistem pangan lokal (Feenstra 1997). Keberlanjutan adalah kapasitas dari setiap sistem atau proses untuk mempertahankan jalannya sistem itu sendiri. Konsep berkelanjutan memiliki tiga dimensi yakni Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan (Hak et al 2007.).

Ada sejumlah hambatan untuk mengembangkan sistem pangan lokal. Salah satunya adalah informasi geografis (Fenstra 1999; Watts et al. 2005). Mengingat Indonesia memiliki komposisi geografis yang bereneka ragam dengan 17.000 pulau yang berbeda. Hal ini menimbulkan tantangan untuk distribusi pangan nasional dalam memenuhi permintaan kebutuhan pangan dengan harga yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Informasi geografis berkaitan dengan keberlanjutan sistem pangan lokal yang meliputi dimensi ekologi, ekonomi dan sosial dari sistem pangan (Gatrell et al. 2011). Proses pemasaran yang melibatkan rantai pasok lebih pendek memungkinkan petani untuk meraih keuntungan yang lebih besar sehingga mencapai kelayakan ekonomi yang memadai untuk pertanian dan masyarakat pedesaan (Tregear 2007). Selain itu, hubungan yang lebih dekat antara petani dan masyarakat dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya memilih pangan lokal. Adapun, keberlanjutan sistem pangan lokal tergantung pada kualitas produksi makanan lokal, aksesibilitas pangan lokal dan keterjangkauan pasar oleh masyarakat (Eckert, 2011; Moore, 2008).

Pengumpulan informasi mengenai data yang mencakup data geografis, akses jalan, kondisi lahan, populasi, serta kondisi petani, pengusaha, pasar dan masyarakat menjadi informasi berbasis potensi kearifan lokal dari suatu daerah yang dianalisi menggunakan analisis spasial. Analisis spasial dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan, mendukung keputusan, dan mengungkapkan pola sistem pangan yang terintergrasi. Analisis spasial melalui GIS dapat melakukan transformasi, manipulasi, dan metode yang dapat diterapkan pada data geografis untuk diubah menjadi informasi yang berguna. Integrasi beberapa informasi melalui proses pengambilan keputusan dapat menentukan titik terbaik untuk memproduksi dan mendistribusi makanan lokal. Integrasi informasi spasial tersebut disesuaikan dengan indikator-indikator keberlanjutan seperti ketersediaan (availability), aksesibilitas (accessibility), keterjangkauan (affordability), dan profitabilitas (profitability).

Riska

Gambar 1. Pengembangan Model Sistem Pangan Lokal Terintegrasi

Pengambilan keputusan menggunakan metode multikriteria analisis (Multi Criteria Decision Analysis) mampu memilih pemilihan yang paling efisien dari sistem pangan lokal melalui multifaktor seperti ketersediaan, aksesibilitas, keterjangkauan, dan profitabilitas. Metode tersebut mampu menganalisis secara holistik sistem pangan lokal menggunakan analisis proses jaringan (Analytical Network Process).

Multi kriteria analisis keputusan (MCDA) adalah serangkaian prosedur sistemik untuk menganalisis masalah keputusan yang kompleks (Malczewski 1999), MCDA terdiri dari serangkaian teknik yang memfasilitasi penilaian, peringkat, atau pembobotan kriteria pengambilan keputusan berdasarkan preferensi stakeholder. Teknik ini berasal lebih dari tiga dekade lalu di bidang matematika dan penelitian operasi. MCDA biasanya melibatkan lima langkah: (1) menentukan tujuan dan sasaran; (2) mengidentifikasi pilihan-pilihan keputusan; (3) memilih kriteria yang mengukur kinerja relatif terhadap tujuan; (4) menentukan bobot untuk berbagai kriteria; dan (5) menerapkan prosedur dan melakukan perhitungan matematika untuk opsi peringkat.

Sedangkan Analytic Network Process (ANP) adalah kerangka paling komprehensif untuk analisis keputusan masyarakat, pemerintah dan korporasi yang tersedia saat ini untuk pembuat keputusan. Metode ANP memungkinkan interaksi masing-masing indikator yang saling mempengaruhi contohnya dengan menggunakan indikator ketersediaan (availability), aksesibilitas (accessibility), keterjangkauan (affordability), dan profitabilitas (profitability).

GIS (Geography Information System) telah digunakan dalam sejumlah penelitian untuk meneliti ketersediaan pangan di suatu daerah. Ada sejumlah studi yang mengasilkan hasil berupa pemetaan(mapping) (Bosona et al 2013; Eckert et al 2011). GIS menggunakan kombinasi kartografi dan citra data untuk membuat representasi lengkap daerah yang sedang dipelajari.Data berbentuk titik dan polygon digunakan untuk mewakili citra data.

Data informasi GIS digunakan untuk menghasilkan matriks hasil integtrasi informasi menunjukkan lokasi yang cocok untuk pengembangan pangan lokal berdasarkan indikator ketersediaan, aksesibilitas, keterjangkauan, dan profitabilitas. Data indormasi GIS memiliki manfaat yang mampu mengumpulkan data untuk semua data geografis berupa fitur, gambar, dan permukaan. Dalam distribusi geografis, GIS mampumengintegrasikan database yang berkaitan dengan produksi dan distribusi pangan lokal. Perancangan model sistem pangan lokal disesuaikan dengan titik atau daerah terbaik untuk memproduksi dan mendistribusi pangan lokal dengan keuntungan optimum dengan jarak terdekat. Dengan demikian, perancangan informasi dari data spasial sangat penting untuk dikembangkan untuk berbagai keperluan salah satunya untuk model sistem pangan lokal yang ideal untuk diterapkan di suatu daerah.

Penggunaan kedua metode MCDA dan GIS dapat dilakukan untuk mendapat hasil lebih optimal. GIS melibatkan integrasi data spasial dan MCDA menyediakan analisis untuk masalah keputusan penataan, merancang, mengevaluasi dan memprioritaskan keputusan alternatif (Malczewski 2006).Dengan demikian, sistem pangan lokal berkelanjutan mampu dicapai dengan penentuan lokasi paling tepat untuk memproduksi dan mendistribusi pangan lokal.

Referensi

  1. Eckert J, Sujata S. 2011. Food systems, planning and quantifying access: Using GIS to plan for food retail. Applied Geography 31: 1216-1223.
  2. Feenstra Gail. 1997. Local Food Systems and Sustainable Communities. American Journal of Alternative Agriculture: 28-36.
  3. Feenstra Gail. 1999. Growing a community food system. Partnerships in education and research.
  4. Gatrell JD, Neil R, Paula R. 2011. Local food systems, deserts, and maps: The spatial dunamics and policy implications of food geography. Applied Geography 31: 1195-1196.
  5. Hák T, B Moldan, AL Dahl. 2007. Sustainability Indicators: A scientific assessment. The Scientific Committee on Problems of Environmental, of the International Council for Science: London.
  6. Tregear A, Fillipo A, Giovanni B, Andrea M. 2007. Regional foods and rural development: The role of product qualification. Journal of Rural Studies 23: 12-22.
  7. Watts DCH, Ilber B, Maye D. 2005. Making reconnections in agro-food geography: alternative systems of food provision. Progress in Human Geography 29, 1 (2005): 22-44.
Riska Ayu Purnamasari
Riska Ayu Purnamasari

Graduate Student at University of Tsukuba, Japan.

Leave a Reply