Pemanfaatan Teknologi Plasma untuk Mengatasi Polusi Udara yang Diakibatkan oleh Asap Pembakaran Sampah
Jan 2, 2014
Konsep Sustainable City untuk Kota-Kota Besar di Indonesia
Jan 6, 2014

Pulau Konservatif dan Bank Genetik Hewan Indonesia

Indonesia memiliki 28.000 jenis tumbuhan, 350.000 jenis binatang dan 10.000 mikrobia yang hidup secara alami. Luas daratan Indonesia yang hanya 1,32% dari luas seluruh daratan di bumi, ternyata menjadi habitat 10% jenis tumbuhan berbunga, 12% binatang menyusui, 16% reptilian dan amfibia, 17% burung, 25% ikan dan 15% serangga yang ada di dunia. Dari 515 jenis mamalia besar dunia (36% endemik), 33 jenis primata (18% endemik), 78 jenis burung paruh bengkok (40% endemik) dan 121 jenis kupu-kupu dunia (44% endemik) dominansi besar berada di Indonesia. Oleh karena itu, tidak heran apabila Indonesia dikenal sebagai salah satu Negara dengan keanekarangaman hayati terbesar di dunia (megadiversity) dan merupakan pusat keanekaragaman hayati dunia (megacenter ofbiodiversity).

island gettyimagesSumber gambar: gettyimages.com

Terlepas dari pesona Indonesia yang begitu menawan, peristiwa beralih fungsinya kawasan hutan secara besar-besaran telah menyebabkan hilangnya habitat hutan atau terpotongnya blok kawasan hutan yang luas menjadi bagian kecil yang terpisah-pisah. Kompetisi ruang dan sumber makanan antara manusia dan satwa liar telah mendorong masyarakat untuk memusuhi dan membunuh satwa liar yang ada. Perusakan habitat dan perburuan satwa liar inilah yang menjadi faktor utama turunnya jumlah satwa liar secara dramatis di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa tingginya intensitas konversi hutan dan perburuan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar hutan sangat mempengaruhi besar terhadap keberadaan satwa liar.

Mengingat perusakan habitat dan eksploitasi secara berlebihan, tidak mengherankan jika Indonesia memiliki daftar spesies terancam punah terpanjang di dunia, yang mencakup 126 jenis burung, 63 jenis mamalia dan 21 jenis reptil. Bahkan sejumlah spesies dipastikan telah punah pada belakangan ini, termasuk trulek jawa/trulek ekor putih (Vanellus macropterus), sejenis burung pemakan serangga (Eutrichomyias rowleyi) dansub spesies harimau (Panthera tigris). Populasi spesies yang mulai rentan dan terancam punah adalah penyu laut, burun gmaleo, kakak tua, cendrawasih, nam-nam, mundu, kepel, badak Jawa dan macan Jawa. Hal tersebut seiring dengan berubahnya fungsi area hutan menjadi area permukiman, perkantoran dan industri. 

Usaha yang intensif dan serius demi menyelamatkan keberadaan satwa liar dari kepunahan wajib segera dilakukan. Pemerintah seyogyanya tidak menunda lagi penanganan kasus pelanggaran terhadap hewan yang marak terjadi, sebab hal tersebut bertentangan denganUU No. 5 tahun 1990 pasal 2 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Tahun 1989 dengan beredarnya surat keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No: 60/MNKLH/12/1989, telah dibentuk suatu kelompok kerja di Kantor Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup yang khusus menangani masalah keanekaragaman hayati yaitu kelompok kerja pemanfaatan dan konservasi keanekaragaman hayati. Kelompok kerja ini mempunyai kewajiban menyusun kebijaksanaan pengelolaan keanekaragaman hayati di Indonesia.

Selain itu, langkah pemerintah lainnya yang ditempuh yaitu menyisihkan areal hutan alami untuk kawasan pelestarian. Di dalam areal tersebut keanekaragaman hayati diharapkan dapat dipertahankan secara in situ (habitat asli). Menurut data tahun 1996, kawasan yang dilindungi untuk melestarikan keanekaragaman hayati secara in situ sebanyak 475 lokasi seluas 22,6 juta hektar atau 11,78% dari luas dataran Indonesia. Tentunya data tersebutakan semakin besar lagi sesuai bertambahnya tahun. Pelestarian secara in situ merupakan cara yang ideal, namun pada kenyataanya perlu dilengkapi dengan pelestarian secara ex situ. Di Indonesia keberadaan kebun raya, kebun binatang, kebun koleksi dan sebagainya telah berkembang sejak lama. Sayangnya, lahan tempat pelestarian ex situ itu sering tergusur untuk peruntukan lain.

Di tingkat internasional, perkembangan bioteknologi untuk pemanfaatan keanekaragaman hayati berlangsung sangat cepat. Rekayasa tingkat molekul dalam inti sel membangkitkan harapan diproduksinya senyawa bervolume kecil tetapi bernilai ekonomi tinggi. Kegiatan pemuliaan yang dilakukan mencakup pelestarian ex situ yakni bahan mentah dari alam yang digunakan untuk perakitan varietas unggul yaitu plasma nutfah. Di Indonesia sendiri masih kesulitan untuk mengkoleksi dan mengamankan sumber plasma nutfah hewan khas Indonesia. Oleh karenanya, pulau konservatif dan bank genetik hewan Indonesia perlu segera direalisasikan. Selain itu, diharapkan juga dapat menghasilkan anakan hewan dengan genetik yang berkualitas serta menghindari adanya klaim dari bangsa asing terkait hewan yang ada di Indonesia.

Mewujudkan adanya pulau konservatif dan bank genetik hewan tersebut pastinya tidak mudah, dibutuhkan SDM yang berkompeten, sumber pendanaan yang besar, integrasi dan sinergitas beberapa lembaga yang solid, teknologi yang maju dan modern, penegakkan hukum secara adil, fasilitas yang menunjang dan edukasi yang massif kepada masyarakat. Sungguh, ini merupakan tantangan bersama menyongsong masa depan Indonesia yang sejahtera.

M. Priambudi Agung Bastian

Mahasiswa Kedokteran Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga

Referensi :

Anonim. 1996. Strategi nasional pengelolaan keanekaragaman hayati. Makalah Forum Curah Pendapat Pengkayaan Keanekaragaman Hayati Dalam Silabus Pendidikan Pelatihan dan Penyuluhan di Pusat Studi Lingkungan. Jakarta: PPSML-LPUI dan Yayasan Kehati.

Anonim. 1995. Atlas Keanekaragaman Hayati di Indonesia. Jakarta: KMNLH RI-KOPHALINDO.

Astirin, O.P. 2000. Permasalahan Pengelolaan Keanekaragaman Hayati di Indonesia. Jurnal Biodiversitas Vol 1 (1) : 36-40.

Karanth, K.U. and B.M. Stith. 1999. Prey depletion as a critical determinant of tiger population viability. In: Siedensticker, J., S. Christie, and P.Jackson (eds.). Ridding the Tiger: Tiger Conservation in Human Dominated Landscape. Cambridge, UK. Cambridge University Press.

Mac Kinnon, K. 1992. Nature’s Treasurehouse-The Wildlife of Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Mc Neely, J.A., K.R. Miller, W.V. Reid, R.A. Mittermeier & T.B. Werner. 1990. Conserving The World’s Biological Diversity. IUCN, WRI, CI, WWF-US & The World Bank. Gland. Switzerland.

Nyhus, P.J. and R. Tilson. 2004. Characterizing tiger-human conflict in Sumatra, Indonesia: Implications for conservation. Oryx 38: 68-74.

Seidensticker, J., S. Christie, and P. Jackson. 1999. Preface. In: Siedensticker, J., S. Christie, and P. Jackson (eds.). Ridding the Tiger:Tiger  Conservation in Human Dominated Landscape. Cambridge, UK.:Cambridge University Press.

Woodroffe, R. and J.R. Ginsberg. 1998. Edge effect and the extinction ofpopulation inside protected areas. Science 280: 2126-2128.

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi
BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply