Pemanfaatan Kulit Udang Putih (Penaeus merguensis) sebagai Sumber Kalsium dalam Pembuatan Kerupuk
Mar 14, 2013
Pengembangan Industri Kreatif Skala Mikro dan Kecil Berbasis Pangan Lokal
Mar 18, 2013

Program “Satu Desa Satu Produk” sebagai Aplikasi Bio-Eco Culture untuk Mendukung Ketahanan Pangan

img_6028-1Indonesia sebagai negara kepulauan dengan 34 provinsi yang tersebar dari sabang sampai merauke memiliki budaya yang beraneka ragam, begitu pun dengan makanan tradisional yang ada di dalamnya. Makanan tradisional dengan cita rasa khas menjadi indikator bagi setiap daerah di Indonesia. Dalam konsep ketahanan pangan, satu produk memiliki kontribusi penting dalam menjamin ketahanan pangan di setiap daerah. Sehingga dinilai sangat berperan dalam pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat. Namun sangat disayangkan hingga detik ini, upaya pelestarian dan pemanfaatan optimal produk pangan lokal masih belum menjadi perhatian khusus pemerintah.

Konsep bio-eco culture berkaitan dengan ketahanan, kemandirian dan kedaulatan pangan harus dipahami dan diartikan dengan benar. Ketahanan pangan adalah kondisi dimana setiap orang sepanjang waktu, baik fisik maupun ekonomi, memiliki akses terhadap pangan yang cukup, aman, dan bergizi untuk memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari sesuai dengan preferensinya (FAO). Mandiri pangan dipahami  sebagai upaya pemenuhan kebutuhan yang dapat dicukupi oleh kemampuan sumberdaya yang dimiliki, dilihat dari bekerjanya subsistem ketersediaan, distribusi dan konsumsi panganKetahanan pangan “melibatkan banyak pelaku dari berbagai aspek dan mencakup interaksi antar wilayah, sehingga memerlukan pendekatan sistem yang disebut sistem ketahanan pangan”.

Konsep bio-eco culture membutuhkan keberadaan lingkungan hidup yang mendukung terwujudnya tujuan akhir dari implementasi dan rekayasa pada konsep ini. Lingkungan hidup berperan penting dalam interaksi antar komponen (bio-geo sistem) yang mendukung perputaran fungsi hayati dalam ekosistem. Sehingga amat diperlukan upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang menjadi basis pertahanan, meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup. Dalam pola untuk mempertahankan eksistensinya dituntut adanya pola adaptasi yang tinggi diantara seluruh aspek yang ada dalam lingkungan, sehingga konsep bio-eco culture dapat diterapkan dalam pemenuhan pangan dan gizi.

Kita hendaknya dapat belajar banyak dari Jepang dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai dan budaya yang eksistensinya mampu sejajar dengan modernisasi zaman. Jepang merupakan salah satu negara yang mampu mengantisipasi kemajuan zaman tanpa harus kehilangan nilai-nilai tradisionalnya. Hal ini tampak juga pada pengembangan produk-produk makanan tradisionalnya. Strategi pengembangan makanan tradisional yang terpadu secara erat baik oleh pihak produsen, pemerintah, ilmuwan dan masyarakat, telah melahirkan strategi yang teruji keterandalannya sekaligus produk-produk tradisional yang mampu bersaing di tengah maraknya produk-produk asing.

Program “Isson Ippin” (satu daerah/desa, satu produk), penelitian berkesinambungan, tuntas, dan terfokus pada komoditi unggulan; sistem bimbingan dan pengawasan yang efektif; penjaminan harga; promosi dan pembentukan “image” serta penyerataan dalam program-program pariwisata merupakan contoh-contoh strategi yang telah cukup sukses membawa produk-produk pangan lokalnya tetap menjadi primadona di tempat asalnya. Atau bahkan menembus pasar manca negara. Konsep pangan Jepang terkini telah melahirkan suatu kelompok pangan dengan fungsi baru-FOSHU (Foods for Specified Health Uses) yang didukung penuh oleh tiga kementerian sekaligus, yaitu : Kementerian Pendidikan, Ilmu dan Kebudayaan, Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan serta Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat. Konsep ini menjadi terobosan baru bagi dunia pangan yang saat ini dikenal dengan konsep pangan fungsional.

Untuk Indonesia, mungkin belum bisa merealisasikan “Satu desa satu produk”. Karena hingga saat ini masih sedikit informasi yang didapat terkait pengembangan pangan tradisional dengan konsep “Satu kabupaten satu produk pangan andalan”. Sebagai negeri dengan kelimpahan sumber daya alam,  masih banyak potensi di tiap-tiap daerah yang belum digali dengan fokus jelas dan digarap secara terpadu hingga tuntas. Indonesia memiliki peluang yang besar akan ini.

Penelitian merupakan bagian penting dari pengembangan suatu produk, termasuk makanan tradisional. Beberapa keunggulan yang dimiliki oleh makanan tradisional harus dapat dibuktikan secara ilmiah melalui penelitian. Penelitian yang tuntas, dari hulu hingga hilir termasuk dari segi sosialisasi dan pemasaran. Keberanian pemerintah untuk melakukan penelitian bersama yang berkesinambungan sangat diperlukan untuk memfungsikan peranan pangan tradisional untuk menjamin ketahanan pangan dan mengurangi ketergantungan negara akan impor komoditi asing khususnya produk pangan.

Kerja sama yang solid, sebagai suatu konsep dari bio-eco-culture, antara perusahaan, pemerintah, lembaga penelitian, lembaga pendidikan dan kelompok masyarakat yang tanggap akan inovasi sangat diharapkan agar tujuan kemandirian pangan dapat dicapai. Melalui ini potensi besar negeri ini bisa dioptimalkan dengan tidak melupakan pengembangan dari sisi sosialnya, yaitu menumbuhkan rasa percaya dan cinta masyarakat karena itulah kunci  keberhasilan dan pencapaian tujuan akhir. Adalah tanggung jawab kita semua untuk lebih meningkatkan citra produk makanan tradisional kita untuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. 

Oleh: Pauzi, Mahasiswa Ilmu Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

1 Comment

Leave a Reply