Pemanfaatan Tar Batubara sebagai Upaya Efisiensi Penggunaan Sumber Energi di Indonesia
Jul 23, 2013
Petroleum Fund Untuk Energi Generasi Mendatang
Jul 26, 2013

Produksi Bahan Bakar Minyak (BBM) dari Sampah Plastik

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) beberapa waktu lalu membuat masyarakat harus merogoh kantongnya lebih dalam untuk biaya transportasi dan bagi industri tentunya akan menaikkan ongkos produksinya, karena BBM menjadi bagian vital bagi kelangsungan produksinya. Namun demikian kalau kita melihat di jalanan sehari-hari, kita tidak melihat pengurangan jumlah penggunaan kendaraan, antrean di SPBU pun tidak berubah, ini menunjukkan bahwa memang kebutuhan akan BBM tidak bisa dihilangkan sebagai bagian utama untuk menggerakkan ekonomi masyarakat.

Kenaikan BBM ini merupakan pilihan yang harus diambil pemerintah mengingat subsidi yang nilainya cukup besar sementara saat ini Indonesia menjadi net-importir BBM karena menurunnya produksi minyak dalam negeri sementara di sisi lain pertumbuhan penggunaan BBM yang cukup tinggi. Kenaikan ini di sisi lain akan memberikan gairah baru pada pengembangan energi alternatif dan terbarukan yang selama ini agak sulit bersaing karena harga BBM yang cukup murah. Salah satu energi alternatif yang bisa dimanfaatkan adalah BBM dari sampah plastik.

Sebagaimana telah kita ketahui bersama, bahwa sampah, khususnya sampah plastik saat ini telah menjadi momok yang sangat menakutkan bagi masyarakat pada umumnya dan para pecinta lingkungan pada khususnya. Seperti diketahui bersama bahwa plastik tidak dapat terurai dalam tanah, hal ini berbeda dengan sampah jenis organik seperti sisa-sisa makanan yang akan sangat mudah terurai. Sehingga hal ini dikhawatirkan akan menyebabkan degradasi fungsi tanah.

Sampai saat ini, plastik memang masih menjadi bahan yang sulit tergantikan untuk berbagai kebutuhan kita sehari-hari seperti kemasan makanan, tas, produk-produk elektronik, otomotif, mainan, dan masih banyak lagi lainnya. Penggunaan plastik akan terus meningkat mengingat kelebihan yang dimilikinya antara lain ringan dan kuat, tahan terhadap korosi, transparan dan mudah diwarnai, dan sifat insulasinya yang cukup baik. Sehingga secara otomatis produksi sampah plastik akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Sehingga perlu dikembangkan solusi jangka panjang yang dapat mengurangi sampah jenis ini sekaligus dapat menghasilkan produk lain yang bermanfaat. Proses daur ulang (recycling) menjadi sangat popular saat ini. Namun hanya daur ulang tertentu saja yang selama ini dijalankan. Padahal ada banyak alternatif proses daur ulang yang lebih menjanjikan dan berprospek ke depan.

Dengan mengkonversi sampah plastik menjadi BBM kita tidak hanya bisa mengatasi persoalan sampah plastik saja, tetapi juga bisa memproduksi bahan bakar untuk kebutuhan energi kita. Hal ini bisa dilakukan karena pada dasarnya plastik sendiri berasal dari minyak bumi, sehingga kita hanya tinggal mengembalikannya ke bentuk semula. Keuntungan sampah plastik adalah tidak menyerap air, sehingga kadar airnya sangat rendah dibandingkan dengan sampah kertas, sisa makanan dan biomassa. Di sisi lain, plastik juga mempunyai nilai kalor yang cukup tinggi setara dengan bahan bakar fosil seperti bensin dan solar.

Tabel 1. Nilai kalor plastik dibandingkan dengan bahan bakar fosil (MJ/kg)

tabel3

Mekanisme proses ini menggunakan pirolisis, yaitu memanaskan plastik pada suhu di atas 400oC tanpa oksigen. Pada suhu tersebut, plastik akan meleleh dan kemudian berubah menjadi gas. Pada saat proses tersebut, rantai panjang hidrokarbon akan terpotong menjadi rantai pendek. Selanjutknya proses pendinginan dilakukan pada gas tersebut sehingga akan mengalami kondensasi dan membentuk cairan. Cairan inilah yang nantinya menjadi bahan bakar, baik berupa bensin maupun bahan bakar diesel. Untuk mendapatkan hasil dan performa yang lebih baik, maka ditambahkanlah katalis. Beberapa parameter sangat berpengaruh terhadap produk yang dihasilkan antara lain yaitu suhu, waktu, dan jenis katalis. Katalis dari jenis zeolit dan silica-alumina banyak digunakan dalam proses ini. Penggunaan katalis diharapkan dapat menurunkan suhu reaksi, mempercepat laju dekomposisi, dan memodifikasi produk akhir. 

Gambar 1. Skema sederhana proses konversi sampah plastik menjadi fraksi bensin dan solar.

bagan1

Satu kilogram plastik bisa menghasilkan sekitar satu liter minyak, sehingga bisa diperkirakan berapa minyak yang akan dihasilkan dari proses ini. Konversi plastik ini menjadi sangat krusial ketika semakin minimnya tempat pembuangan sampah dan terus meningkatnya harga minyak dunia.

Beberapa negara telah banyak mengembangkan teknologi ini seperti Jepang, Jerman, AS dan India. Pabrik skala komersial pun sudah mulai diujicobakan untuk mendapatkan performa terbaiknya. Sayangnya hingga saat ini, Indonesia belum banyak mengembangkan teknologi ini sampai pada skala komersial. Padahal apabila ini dikembangkan, maka satu persoalan mengenai sampah telah terselesaikan dan ada keuntungan lain dari produksi bahan bakar yang mempunyai nilai jual.

Gambar 2. Contoh pabrik konversi sampah plastik di Jepang dengan kapasitas 15.000 ton per tahun yang dikembangkan Toshiba.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Dari sinilah maka diperlukan adanya kebijakan pemerintah tentang pengelolaan dan pengolahan sampah plastik, sehingga bisa mendorong industri pengolahan sampah plastik mencapai skala keekonomian. Tentunya itu semua juga perlu didukung oleh seluruh lapisan masyarakat khususnya dalam hal pemilahan sampah. Tentu perlu adanya edukasi kepada masyarakat akan hal ini. Peran perguruan tinggi tentunya sangat penting dalam mengedukasi masyarakat dan pengembangan teknologi pengolahannya. Pada akhirnya, sinergi semua stakeholder yang dimotori oleh pemerintah sangat diperlukan demi terwujudnya lingkungan yang tetap terjaga dan disisi lain mengurangi ketergantungan kita pada beberapa sumber energi primer.

Oleh: Mochamad Syamsiro, ST, M.Eng, Pengajar di Jurusan Teknik Mesin, Universitas Janabadra, Yogyakarta

Referensi:

[1]   UNEP, Converting waste plastics into resource: compendium of technologies, Osaka, 2009.

[2]   J Aguado, D.P. Serrano, G.S. Miguel, M.C. Castro, and S. Madrid, Feedstock recycling of polyethylene in a two-step thermo-catalytic reaction system, J Anal Appl Pyrolysis 2007;79:415-423.

[3]   Syamsiro, M., Prawisudha, P., Wuhu, Yoshikawa, K., Co-production of Liquid and Gas Fuels from Waste Plastics, The 4th AUN/SEED-Net Regional Conference on New and Renewable Energy, October 2011, Ho Chi Minh City, Vietnam.

[4]   http://www.kleanindustries.com.

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

9 Comments

  1. Ani says:

    Terima kasih referensinya.. Perlu sinergi antara ABGS (Academic, Business, Government, Society)… Sukses untuk Indonesia.. 🙂

  2. Dahlon Satria Palu Jambak says:

    Hmm… akan tetapi timbul pertanyaan teknologi apa yang dipergunakan oleh perusahaan jepang tersebut untuk memanaskan sampah plastik sampai 400 derajat celcius…apa mungkin mempergunakan panas buang suatu proses untuk memanaskan plastik tersebut?

    • SYamsiro says:

      Bisa bermacam2 Pak Dahlon…ada yg pake listrik, ada yang pake burner, dll. Menggunakan panas buang selama suhunya bisa tercapai 400C oke juga pak.

  3. Romario says:

    pagii pak,,,
    boleh minta tolong k????
    soal pengolahan sampah plastik jadi sampah,,,,

  4. Ada kah peralatan pengolah sampah plastik menjadi bbm pada sekala UKM,untuk kami kembangkan di daerah dengan keterbatasan modal

  5. elin says:

    ada dan terjangkau.silahkan shering di email sy
    [email protected]

Leave a Reply