Smart Grid: Strategi Jitu Pengoptimalan Sumber Energi Terbarukan di Masa Depan
Sep 24, 2013
Pemanfaatan Limbah Biomassa Cangkang Kakao Sebagai Sumber Energi Terbarukan
Sep 27, 2013

Potensi Limbah Ikan Sebagai Energi Alternatif yang Menjanjikan

bahan-bakar-30205b

Sumber ilustrasi: http://static.liputan6.com/201303/bahan-bakar-30205b.jpg

Kebutuhan energi dunia terus mengalami peningkatan. Menurut proyeksi Badan Energi Dunia (International Energy Agency-IEA), hingga tahun 2030 permintaan energi dunia meningkat sebesar 45% atau rata-rata mengalami peningkatan sebesar 1.6% pertahun. Sekitar 80% kebutuhan energi dunia tersebut dipasok dari bahan bakar fosil, utamanya BBM.

Satu catatan terkait energi, di Indonesia energi seringnya masih diasosiasikan dengan Bahan Bakar Minyak (BBM). Energi padahal bukan hanya BBM, tapi juga Bahan Bakar Gas, Batu Bara dan juga Energi Baru Terbarukan (EBT). Namun kenyataan sosiologis kita memang masih menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih “mengidolakan” pemakaian Minyak. Hal ini terbukti dengan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dimana untuk tahun 2010 konsumsi minyak kita 47 persen; gas 24 persen, batu bara 24 persen dan EBT hanya 5 persen.

Indonesia sebagai Negara maritim yang memiliki potensi kekayaan laut yang sangat besar, dimana terdiri dari tiga perempat wiiayah berupa laut sebesar (5,8 juta km2) dan memiliki potensi lestari (maximum yield sustainability) ikan laut seluruhnya 6,1 juta ton/tahun atau sekitar 7% dari total potensi lestari ikan laut dunia,terdiri dari ikan pelagis besar (975,05 ribu ton), ikan pelagis kecil (3.235,50 ribu ton), ikan demersal (1.786,35 ribu ton), ikan karang konsumsi (63,99 ribu ton), udang peneid (74,00 ribu ton), lobster (4,80 ribu ton), dan cumi·cumi (28,25 ribu ton) (Ayatullah, 2011).

Dari potensi tersebut sampai pada tahun 1998 baru dimanfaatkan sekitar 58,5 persen. Setiap hasil ikan yang ditangkap oleh nelayan yang dapat digunakan hanya sebesar 50% dari hasil tangkapan yang dikonsumsi manusia. Diperikirakan 20 juta ton atau 25% dari hasil tangkapan yang digunakan termasuk spesies non-targetik (Ferraro, et al, 2010).

Limbah perikanan ini semakin meningkat karena adanya peningkatan konsumsi manusia untuk sumberdaya perikanan sehingga berbanding lurus dengan banyaknya limbah perikanan yang dihasilkan. Limbah perikanan yang dihasilkan berupa kulit, tulang, kepala, ekor dan jeroan. Semisal untuk jeroan, jeroan terdiri dari lambung, usus, hati, kantung empedu, pangkreas, gonad, limpa, dan ginjal Sukarsa (1978) dalam Kurniawati (2004) menyebutkan bahwa jeroan ikan mengandung protein 36-57%; serat kasar 0,05-2,38%; kadar air 24-63%; kadar abu 5-17%; kadar Ca 0,9-5%, serta kadar P 1-1,9%.

Dengan melihat karakteristik limbah ikan tersebut maka tentu menjadikan peluang emas untuk menunjang dan mendukung program akselerasi implementasi pemanfaatan dan penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) untuk masyarakat, salah satunya adalah Bahan Bakar Nabati (BBN) dari pemanfaatan limbah organik sektor perikanan menjadi biodiesel yang ramah lingkungan, berkelanjutan dan menjanjikan di masa depan.

Sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden No. 5 tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional yang dikeluarkan untuk mengatasi permasalahan energi nasional. Peraturan ini menetapkan beberapa sasaran kondisi energi nasional yang harus dipenuhi pada tahun 2025 (gas 30%, batu bara 32%, minyak bumi 20%, BBN 5%, dan lain-lain 7%).

Hal yang menarik dari target Energi Mix 2025 adalah munculnya energi baru dan terbarukan dalam jumlah yang relatif signifikan, seperti bahan bakar nabati (BBN) dimana biodiesel termasuk didalamnya. Menurut Direktorat Jenderal Energi dan Sumber Daya Mineral, total kebutuhan biodiesel secara nasional mencapai 4.120.000 kiloliter/tahun, sedangkan kemampuan produksi biodiesel pada tahun 2006 hanya 110.000 kiloliter/tahun (Irawan, 2006).

Selisih kebutuhan dan kemampuan produksi biodiesel yang sangat timpang tersebut tentu menjadi peluang yang sangat luar biasa untuk mengoptimalkan pemanfaatan limbah ikan sebagai bahan baku utama pembuatan biodiesel yang ramah lingkungan, berkelanjutan dan menjanjikan. Sebagai gambaran, volume limbah pabrik pengalengan ikan di Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur yang mencapai 50-60 ton per bulan dan limbah minyak ikan dari industri pengalengan sardin PT. Maya Food Industri, Pekalongan yang limbahnya terdiri dari bagian kepala dan ekor mencapai seberat 6 ton, yang dapat menghasilkan 400 liter minyak ikan dalam sehari pada proses pengolahan tepung ikan sehingga dapat dijadikan sumber alternatif bahan baku biodiesel yang sangat prospektif.

Gambaran di atas baru contoh kecil limbah ikan yang dihasilkan dari pabrik pengolahan yang tiap bulannya dapat mencapai lebih dari 50 ton perbulan belum ditambah lagi dari limbah yang berasal dari rumah makan, Tempat Pelelangan Ikan (TPI), pasar ikan dan rumah tangga yang tentu saja apabila diakumulasikan jumlahnya akan berkali-kali lipat jauh lebih banyak lagi.

Sangat disayangkan sekali apabila dengan potensi limbah ikan yang sedemikian besar pada akhirnya hanya berakhir di tempat pembuangan sampah yang tidak hanya akan menimbulkan bau busuk yang menyengat tetapi juga dapat mengganggu lingkungan serta pemukiman penduduk yang rumahnya berdekatan dari tempat pembuangan sampah tersebut karena berpotensi memicu timbulnya pencemaran udara dan gangguan kesehatan terhadap masyarakat sekitar.

Mudah-mudahan dengan mengoptimalkan pemanfaatan limbah ikan sebagai bahan baku utama pembuatan biodiesel, Indonesia tidak lagi mengimpor bahan bakar minyak (dari bahan bakar fosil) dari Negara lain melainkan sudah menjadi Negara yang mandiri energi sehingga mampu memenuhi kebutuhan energi nasional dan mampu mengurangi secara drastis angka pencemaran udara yang diakibatkan dari limbah organik.

Ari Akbar Devananta

Mahasiswa Perikanan, Sekretaris Jenderal Study Club Communication Forum (SCCF) UGM 2013

 

Sumber :

Ayyatullah M.S. 2011. Pemanfaatan Limbah Pengalengan Ikan Tuna Sebagai Hidrolisat Protein Serta Aplikasinya dalam Olahan Produk Pangan. URL:http://zonasepta.com/ diakses tanggal 12 Agustus 2011. 16.15

 Ferarro V, Cruz IB, Jorge RF, Malcata FX, Pintado ME, Castro PML. 2010.  Valorisation of Natural Extract From Marine Source Focused  On Marine By Product: A Review. Food Research International 43: 2221-2233

Irawan, G. 2006. Prospek Biodiesel Cerah. URL:http://www.sinarharapan.com/oto.html.  Diakses 12 September 2013. 12.45.

Kurniawati, Y. 2004. Pembuatan Kecap Ikan Secara Enzimatis dengan Bahan Jeroan Bandeng. Skripsi. Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian UGM. Jogjakarta.

 

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi
BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

1 Comment

  1. thoyibin says:

    Salam knal,

    Kenalkan saya thoyibin dari indramayu, saya mohon, minta ilmu nya tentang pengolahan limbah kepala ikan, buat di bikin biodiesel dan cara pengolahan nya.

    Terima kasih

Leave a Reply