Potensi Biodiesel di Indonesia
Dec 27, 2012
Beranda Inovasi Official Call for Contributor (Penulis Artikel dan Opini) Edisi: Januari 2013
Jan 11, 2013

Potensi Bioetanol di Indonesia

Jika biodiesel adalah bahan bakar alternatif pengganti solar, maka bioetanol adalah bahan bakar alternatif pengganti gasoline yang biasa disebut gasohol (campuran antara gasoline dan alkohol). Sama seperti biodiesel, bioetanol memiliki beberapa keunggulan, diantaranya ramah lingkungan dengan sifatnya yang nontoxic. Aplikasi pada mesin juga tidak memerlukan modifikasi khusus sehingga dapat langsung dipakai pada mesin-mesin konvensional (dengan catatan kandungan etanol tidak lebih dari 10%). Penggunaan bioetanol juga dapat mengurangi emisi karbonmonoksida, karena hasil pembakaran bioetanol menghasilkan karbondiaoksida dan air. Bahan baku bioetanol berasal dari tumbuhan penghasil karbohidrat yang untuk tumbuhnya memerlukan karbonmonoksida. Sehingga penggunaan bioetanol secraa masif dapat mengurangi kandungan emisi rumah kaca (karbondioksida).

Pada umumnya bioetanol diproduksi melalui proses fermentasi glukosa (gula) dengan bantuan mikroorganisme, walaupun tidak tertutup kemungkinan melalui proses kimiawai dengan mereaksikan etilene di dalam steam. Secara umum proses fermentasi etanol digambarkan seperti berikut:

Picture1

Glukosa dihasilkan dari tebu, jagung, singkong, ubi jalar, tetes tebu (limbah tebu merupakan bahan baku yang cukup potensial. Tetes tebu ini merupakan limbah pabrik gula yang dihasilkan dari penggilingan tebu. Oleh pabrik gula, tetes tebu ini biasanya dibuang begitu saja atau dijadikan pupuk oleh sebagian petani. Dalam tiap ton penggilingan tebu dihasilkan tetes tebu sebanyak 45 kg. Dalam satu tahun kurang lebih 27 juta ton tebu digiling di pabrik gula, sehingga jumlah tetes tebu yang dihasilkan kurang lebih 1.2 juta ton. Jumlah ini dapat menghasilkan 365.5 ribu ton etanol (Agrifindo, Januari 2005).

Sampah juga dapat menjadi bahan baku etanol. Pada umumnya sampah kota mengandung 50-60% sampah organik. Dengan bantuan mikroorganisme dalam proses fermentasi pada suhu 35oC, satu ton sampah organik mampu menghasilkan etanol kurang lebih 350 liter dengan kemurnian 80% (M. Imam Akbar Hakimullah, 2005). Hasil ini lebih baik dibandingkan dengan bahan baku lain seperti sagu, ubi jalar, ubi kayu, dan tebu yang masing-maasing mampu menghasilkan 90, 125, 167, dan 250 liter per ton bahan baku. Hasil paling tinggi didapat dari jagung, dimana dapat dihasilkan 400 liter etanol dari tiap ton jagung (Engineering Center BPPT, 2005). (ES)

Sumber:

Serba-Serbi Energi, Bunga Rampai Energi dari Negeri Sakura. 2006. Bandung: Ganesha.

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply