Biodiesel dan Bioetanol: Energi Alternatif Bahan Bakar Minyak
Dec 26, 2012
Potensi Bioetanol di Indonesia
Dec 28, 2012

Potensi Biodiesel di Indonesia

Biodiesel adalah bahan bakar nabati yang memiliki sifat-sifat seperti minyak solar yang mengandung ester metil/etil asam-asam lemak. Selain berasal dari bahan baku yang dapat terbarukan (renewable), keunggulan biodiesel adalah ramah lingkungan karena tidak mengandung sulfur dan mempunyai emisi (Cox dan Particulate matter) yang rendah serta tidak mengandung racun (non toxic). Dengan centane number yang tinggi menyebabkan pembakaran yang lebih sempurna. Viskositas yang tinggi menghasilkan pelumasan yang baik terhadap mesin. Secara teknologi, penggunaan biodiesel sebagai pengganti solar tidak memerlukan extra cost, karena tidak memerlukan modifikasi khusus terhadap mesin-mesin konvensional yang berjalan saat ini.

Pembuatan biodiesel yang paling umum adalah dengan proses methanolysis dan ethanolysis lemak atau minyak lemak. Reaksi tersebut digambarkan dengan sederhana seperti berikut:

biodiesel2

Sumber utama lemak atau minyak lemak dapat berasal dari minyak sawit (CPO), minyak kelapa, minyak inti sawit, minyak kacang, minyak kelor, minyak jarak pagar dan puluhan jenis tumbuhan lain yang banyak di Indonesia. Sedangkan metanol dan etanol dapat dibuat dari gas bumi atau dengan proses fermentasi dari biomassa. Selain biodiesel, reaksi ini juga menghasilkan side product yaitu gliserin yang permintaan pasarnya juga cukup besar, sehingga secara ekonomis cukup menguntungkan. Di massa depan gliserin juga dapat difermentasi menjadi etanol sehingga selain biodiesel juga dapat dihasilkan bioetanol (Soerawidjaja TH, Engineering Center BPPT, 2005).

Diantara beberapa sumber bahan baku biodiesel, yang mempunyai potensi sangat besar adalah minyak sawit (Crude Palm Oil disingkat CPO). CPO sudah menjadi bahan baku yang komersial, dimana Indonesia sudah menjadi negara penghasil CPO kedua terbesar di dunia. Tahun 2003 saja Indonesia sudah memproduksi sebanyak 10.68 juta ton (5.32 juta ton diekspor) dengan daerah sebaran produksi seperti dalam tabel 1. Dengan tingkat pertumbuhan pertahun 15%, produksi CPO tahun 2010 akan mencapai 17.5 juta ton.

 Tabel 1. Luar Area dan Produksi CPO Indonesia tahun 2003

Daerah

Luas Area (Ha)

Produksi CPO (ton)

Sumatera

3.712.878

9.122.178

Jawa

15.334

31.425

Bali, Nusa Tenggara

0

0

Kalimantan

1.002.690

1.220.839

Sulawesi

137.104

213.339

Maluku, Papua

58.074

95.123

Total

4.926.080

10.682.902

(Dept. Pertanian, 2003)

Dapat dikatakan hampir seluruh janis CPO dapat diolah menjadi biodiesel. Mulai dari CPO standar dengan Free Fatty Acid (FFA) kurang dari 5%, CPO offgrade dengan FFA antara 5-20%, Waste CPO dengan FFA antara 20-70%, bahkan sampai Palm Fatty Acid Distillate (PFAD-produk sisa dari pabrik minyak goreng) yang mempunyai FFA lebih dari 70%. CPO tersebut melewati proses seperti pada gambar 2 sehingga menghasilkan biodiesel dan gliserin sebagai produk sampingan.

biodiesel

Selain CPO, potensi besar juga terdapat pada minyak jarak pagar (Jatropha curcas). Walaupun belum diproduksi secara maksimal, jarak pagar dengan sifatnya yang khas mempunyai potensi sangat besar untuk dapat berkembang menjadi sumber energi alternatif.

Berbeda dengan CPO yang dapat dipergunakan untuk minyak goreng, minyak jarak pagar mengandung racun sehingga tidak dapat dikonsumsi. Jarak pagar adalah tumbuhan asli Amerika Tengah yang mempunyai sifat tahan kekeringan, dapat beradaptasi pada 1-6000 m di atas permukaan laut (dpl) dengan kondisi terbaik adalah pada ketinggian kurang dari 500 m dpl. Jarak pagar dapat tumbuh dengan baik di lahan kritis pada temperatus 11-38 dengan curah hujan 300-2000 mm pertahun. Walaupun begitu jarak pagar memerlukan air yang cukup hingga usia 2-3 tahun. Jarak pagar dapat tumbuh tahunan (mencapai 50 tahun) pada lahan-lahan marjinal yang miskin hara. Dengan kemampuan berbuah yang cepat, jarak pagar dapat mulai dipanen sejak usia 6 bulan dengan produksi maksimal setelah mencapai usia 4 tahun (Dr. David Alloreung, 2005).

Belum ada data statistik yang tepat mengenai produktifitas jarak pagar. Menurut Departemen Energi Nicaragua (2005) produksi minyak jarak yang dihasilkan perhektar adalah 1.5-1.7 ton pertahun. Nilai ini lebih rendah dibandingkan dengan laporan yang disampaikan oleh Allolerung (2005) yang menyebutkan produksi minyak jarak dalam satu hektar dapat mencapai 4.2 ton pertahun. Nilai yang lebih optimis disampaikan oleh Manurung (2005) bahwa dalam satu hektar kurang lebih menghasilkan 10-12.5 ton biji jarak pagar. Dengan kandungan minyak 35% produksi minyak jarak pagar yang dihasilkan perhektar pethaun adalah 4.3 ton. Ini setara dengan 4.7 kL/ha/th biodiesel.

 Tabel 2. Luas lahan kritis Indonesia tahun 2003

DaerahDalam Kawasan Hutan (Ha)Luar Kawasan Hutan (Ha)Jumlah (Ha)
Sumatera1.950.8504.084.5516.035.401
Jawa338.2031.270.7311.608.943
Bali, Nusa Tenggara348.1021.237.5811.585.683
Kalimantan2.580.2904.489.5067.069.796
Sulawesi943.669827.6571.771.326
Maluku, Papua1.825.3722.218.3284.043.700
Total7.986.48614.128.35422.114.840

Sumber: Statistik Indonesia 2004, BPS (diolah).

Saat ini Indonesia masih memiliki lahan kritis yang cukup luas yang tersebar diseluruh pulau. Sebaran lahan kritis tersebut dapat dilihat pada tabel 2, dengan total luas di seluruh Indonesia pada akhir tahun 2003 adalah 22 juta hektar (Statistik Indonesia 2004, BPS). Jika 5% saja dari seluruh lahan kritis ini ditanami jarak pagar maka kebutuhan bidiesel Indonesia sebesar 4.2 juta kL/tahun dapat dipenuhi. (ES)

Sumber:

Serba-Serbi Energi, Bunga Rampai Energi dari Negeri Sakura. 2006. Bandung: Ganesha.

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi
BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

1 Comment

  1. CP says:

    Pengolahan sawit selain bio disel ada gak ya.?
    Kalo pun ada bisakah dikelola dalam industri kecil… Soalnya kalo CPO harus buat pabrik yang tidak sedikit modalnya. :)(:

Leave a Reply