Petroleum Fund Untuk Energi Generasi Mendatang
Jul 26, 2013
Biofuel Generasi Kedua: Solusi Dilema Pangan dan Energi
Aug 22, 2013

Potensi Biji Mangrove Pongamia Pinnata Sebagai Energi Alternatif Penghasil Biodiesel

Carabane-MangroveSaat ini penelitian tentang pembuatan biodiesel sedang banyak dilakukan oleh masyarakat dunia tanpa terkecuali masyarakat Indonesia. Khususnya di Indonesia sendiri, penelitian pembuatan biodiesel hanya difokuskan pada  minyak kelapa sawit dan minyak jarak pagar. Padahal jika menitik pada letak geografis Indonesia dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada,tentunya Indonesia mempunyai nilai lebih untuk menghasilkan sumber energi alternatif. Terutama dari vegetasi mangrovenya. Salah satu spesies mangrove yang memiliki potensi besar sebagai energi alternatif adalah biji buah mangrove Pongammia pinnata.

Menurut Noor dkk. (1999) Indonesia merupakan negara yang mempunyai luas hutan mangrove terluas di dunia dengan keragaman hayati terbesar di dunia dan struktur paling bervariasi di dunia. Menurut Gunarto (2004) luas hutan mangrove di Indonesia pada tahun 1999 diperkirakan mencapai 8,60 juta hektar, akan tetapi sekitar 5,30 juta hektar dalam keadaan rusak. Sedangkan data FAO (2007) luas hutan Mangrove di Indonesia pada tahun 2005 hanya mencapai 3.062.300 ha atau 19% dari luas hutan mangrove di dunia dan yang terbesar di dunia melebihi Australia (10%) dan Brazil (7%).

Pongamia pinnata atau yang terkenal dengan nama daerah malapari  tergolong dalam famili Leguminoceae dengan klasifikasi sebagai berikut (Cronquist, 1981):

Divisio             : Magnoliophyta

Kelas               : Magnoliopsida

Ordo                : Rosales

Famili              : Caesalpiniaceae

Genus              : Pongamia

Spesies            : Pongamia pinnata L.

Tumbuhan ini dapat dijumpai di habitat pantai berpasir yang bukan rawa, dan kadang-kadang di bagian tepi daratan dari mangrove. Di Indonesia,tanaman ini ditemukan tersebar luas dari Pulau Sumatera bagian timur (TN  Berbak, Teluk Berikat – Pulau Bangka), Pantai di  sekitar  Tanjung Lesung (Banten), Pantai  Batu Karas (Ciamis), Ujung  Blambangan (TN Alas Purwo), Pantai Lovina (Bali Utara), Pantai  Sembelia (Lombok Timur), dan Pantai Barat Pulau Seram (Maluku) (Djam’an, 2009).

Tumbuhan malapari berperan dalam menyediakan dua sumber energi, yaitu kayunya sebagai bahan bakar yang memiliki kalori bakar kayu sebesar 19,2 MJ/kg, dan bijinya mengandung minyak nabati dengan kandungan minyak sebesar 27 – 39% dari berat keringnya. Tanaman ini sudah terkenal di India sebagai sumber kayu bakar dan minyak lemak non pangan untuk bahan bakar lampu (Soerawidjaja, 2005 dalam Csurhes, 2010).

Biji dan minyak malapari (mentah) mengandung asam amino kompleks [glabrin (C21H42O12N3)], 4 furanoflavon [karanjin (C18H12O4), pongapin (C19H12O6), kanjon (C18H12O4), dan pongaglabron (C18H10O5.½H2O)], serta diketon [pongamol (C18H14O4)]. Senyawa-senyawa ini dapat diambil dari biji dan minyak via ekstraksi dengan alkohol. Minyak yang baru diekstraksi berwarna kekuning-kuningan hingga kecoklatan dan akan segera berwarna gelap setelah disimpan. Minyak ini biasanya berbau tidak sedap dan berasa pahit (Meher dkk, 2004 dalam Csurhes,2010).

Pemanfaatan biodiesel dari biji buah mangrove perlu mendapat perhatian yang lebih mengingat sumber bahan bakunya yang murah dan murah didapatkan karena keberadaannya yang tersebar hampir di seluruh wilayah pantai Indonesia.Namun selain pemanfaatannya sebagai energi alternatif tentunya kita juga harus memperhatikan unsur konservasi agar ekosistem mangrove tersebut tetap lestari mengingat fungsi pentingnya yang juga berperan sebagai perisai pantai untuk meredam gelombang sama seperti peran mangrove pada umumnya.

Oleh: Nuriyati, Mahasiswi Universitas Diponegoro/Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan/Ilmu Kelautan

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply