Smartpackaging Cara Kurangi Susut Pascapanen
Smartpackaging, Cara Kurangi Susut Pascapanen
May 11, 2015
Akuarium Pintar untuk Si Pencinta Ikan Hias
Akuarium Pintar untuk Si Pencinta Ikan Hias
May 13, 2015

Polemik Tanaman Transgenik (Bagian 2)

Tanaman transgenik

Dampak Positif Tanaman Transgenik

Sejak awal dikembangkan hingga saat ini, tanaman transgenik dipercaya mampu mengatasi krisis pangan yang sedang mengancam kehidupan umat manusia. Adapun dampak positif yang dapat dirasakan dari tanaman transgenik adalah :

1. Bersifat resisten terhadap hama

Tanaman transgenik dapat direkayasa sedemikian rupa sehingga bersifat tahan hama. Salah satu yang paling terkenal adalah Jagung Bt. Jagung tersebut bersifat tahan hama karena gennya telah disisipi oleh gen bakteri Bacillus thuringiensis sehingga Jagung Bt dapat menghasilkan kristal protein untuk membunuh serangga pengganggu (Dianniar, 2014)

2. Sifat tanaman transgenik yang resisten terhadap hama tentu saja berdampak langsung terhadap penggunakan insektisida dan herbisida kimia. Penurunan tingkat pemakaian pestisida kimia dapat mengurangi pencemaran tanah dan badan air. Selain itu, telah dikembangkan pula kapas transgenik yang dapat menyerap kandungan merkuri dari tanah dan pohon sejenis mustard yang digunakan untuk menyerap selenium dalam jumlah besar (Irawan, 2006 dalam Karman, 2009).

3. Memiliki toleransi terhadap kondisi lingkungan ekstrim

Tanaman biasa umumnya tidak dapat bertahan hidup bila dihadapkan pada kondisi lingkungan ekstrim misanya suhu yang terlalu rendah, kadar garam yang terlalu tinggi, maupun kadar air yang sangat kurang. Namun, dengan rekayasa genetika maka dapat dimunculkan tanaman-tanaman yang toleran dengan keadaan-keadaan tersebut seperti tanaman yang mampu menghasilkan asam lemak linoleat tinggi sehingga mampu hidup dengan baik pada kondisi dingin dan beku (Syahriani, 2013 dalam Dianniar, 2014).

4. Meningkatkan mutu produk pertanian

Tanaman transgenik banyak dimodifikasi dengan menyisipkan gen-gen unggul yang dapat meningkatkan mutu produk pertanian. Salah satu contohnya adalah beras emas (Golden Rice) yang telah disisipi tiga gen dari tanaman daffodil dan bakteri sehingga beras tersebut dapat membentuk beta-caroten yang sangat baik untuk kesehatan mata. Selain itu, telah dikembangkan pula tomat yang memiliki kadar vitamin A yang lebih tinggi, jagung dan kedelai yang mengandung lebih banyak asam amino esensial, kentang dengan kadar pati yang lebih tinggi, dan daun bawang dengan kandungan Allicin (zat yang berkhasiat menurunkan kolestrol) yang lebih banyak (Rozanah, 2002 dalam Karmana, 2009).

 

Dampak negatif tanaman transgenik

Keunggulan-keunggulan yang berhasil diperlihatkan oleh tanaman transgenik nampaknya belum juga mampu meredam suara-suara yang kontra terhadap pengembangan GMO. Hal tersebut dikarenakan telah ditemukan fakta-fakta mengejutkan dibalik euforia tanaman transgenik yaitu :

1. Tanaman transgenik tahan hama dapat menimbulkan keracunan

Tanaman transgenik tahan hama yang disisipi gen Bt ternyata tidak hanya bersifat racun terhadap serangga tetapi juga pada manusia. Penggunaan gen Bt pada tanaman jagung dan kapas dapat menyebabkan alergi pada manusia (Syamsi, 2014), demikian pula dengan kedelai transgenik yang diintroduksi dengan gen penghasil protein metionin dari tanaman brazil nut. Hasil uji skin prick-test menunjukkan kedelai transgenik tersebut positif sebagai alergen (Karmana, 2009 dalam Dianniar, 2014).

2. Tanaman transgenik berdampak buruk pada kesehatan

Sebuah studi yang dilakukan oleh Gilles-Eric Seralini dari Universitas Caen pada tahun 2009 terhadap tikus percobaan yang mengkonsumsi pangan hasil rekayasa genetika dalam jangka panjang, menguak fakta bahwa lebih dari 50% tikus jantan dan 70% tikus betina menderita kematian prematur; tikus yang diminumkan minuman yang mengandung herbisida mengalami peningkatan ukuran tumor sebesar 200% hingga 300%; sementara tikus yang diberi makan jagung transgenik menderita kerusakan pada sejumlah organ termasuk kerusakan hati dan ginjal (Khalifamart, 2013 dalam Dianniar, 2014). Sebelumnya, A. Putzai dari Inggris pada tahun 1998 juga melakukan penelitian terhadap tikus yang diberi pakan kentang transgenik dan menemukan munculnya gejala kekerdilan dan imunodepresi (Haryanti, 2012 dalam Dianniar, 2014).

3. Hilangnya keanekaragaman hayati

Adanya tanaman transgenik dapat memicu terjadinya polusi gen. Tanaman transgenik yang banyak memiliki sifat unggul dapat menyaingi tanaman asli sehingga dapat mengancam keberlanjutan hidup tanaman asli. Tanaman transgenik yang langsung diintroduksi ke alam, tanpa pengkajian dampak terelbih dahulu, juga dapat melakukan pertukaran gen dengan tanaman asli lewat penyebaran serbuk sari sehingga menyebabkan tanaman asli ikut termutasi (Cahyadi, 2006 dalam Karmana, 2009). Perpindahan gen juga dapat terjadi pada uji lapangan seperti yang dilaporkan oleh Rissler dan Mellon terkait persilangan antara Brassica napa transgenik dengan kerabat liarnya yaitu Brassica campestris, Hirscheldia incana, dan Raphanus raphanistrum (Mae- Wan Ho, 1997 dalam Karmana, 2009).

Kesimpulan

Berbagai polemik yang kini dirasakan oleh masyarakat terkait isu-isu yang beredar mengenai tanaman transgenik harus disikapi secara bijaksana oleh berbagai pihak. Pemerintah selaku pemangku kebijakaan harus mangambil langkah yang tepat seperti mengadakan moratorium atas impur, penjualan, dan pelepasan makanan dan produk transgenik sehingga ada peraturan yang jelas serta ada bukti keamanannya; menyusun undang-undang keamanan hayati dan pangan; melakukan pengawasan riset, uji coba, pelepasan dan monitoring tanaman transgenik; memberlakukan sistem label; serta menyusun data base produk dan uji coba produk transgenik lalu menyebarkan informasi tersebut ke publik.

Kita sebagai masyarakat pun harus turut bersikap wajar dan proporsional dalam menyikapi persoalan tanaman transgenik tersebut, mengingat tanaman transgenik dapat memberikan manfaat besar untuk umat manusia. Masyarakat harus bijak dalam memandang perihal tanaman transgenik terutama dari segi agama dan hukum. Jika agama sudah menghalalkan dan hukum sudah melegalkan, maka selebihnya tergantung sikap setiap individu apakah memilih untuk mengonsumsi atau tidak berdasarkan pemahaman yang dimilki. Dengan demikian, polemik tanaman transgenik tidak akan menjadi berlarut-larut yang justru akan menyebabkan konflik horizontal yang merugikan (Karmana, 2009).

Sumber :

Utri Dianniar. 2014. Tanaman Transgenik, Solusi atau Polusi? http://pertanian.pontianakkota.go.id/artikel/23-tanaman-transgenik-solusi-atau-polusi.html diakses 5 Mei 2015

Karmana, I Wayan. 2009. Adopsi Tanaman Transgenik dan Beberapa Aspek Perkembangannya, GaneC Swara 3(2): 12-21

Baca juga : Polemik Tanaman Transgenik (Bagian 1)

Kartika Salam Juarna
Kartika Salam Juarna

Mahasiswa tingkat akhir program studi Biologi FMIPA Universitas Indonesia.

1 Comment

  1. […] Polemik Tanaman Transgenik (Bagian 2) […]

Leave a Reply