Electro Capacitive Cancer Therapy (ECCT), Dr. Warsito, Kanker
ECCT : Sebuah Asa Bagi Penderita Kanker
May 5, 2015
Kesiapan Indonesia Untuk Menjadi Negara Maju Berbasis Riset dan Teknologi
May 7, 2015

Polemik Tanaman Transgenik (Bagian 1)

Tanaman TransgenikPertumbuhan penduduk dunia yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun mulai menjadi ancaman yang cukup serius. Hal tersebut dikarenakan peningkatan jumlah penduduk akan berbanding lurus dengan peningkatan kebutuhan pangan, sedangkan lahan pertanian justru semakin sempit karena sebagian besar lahan dikonversi menjadi area pemukiman dan industri. Diperkirakan pada tahun 2050 penduduk bumi akan mencapai angka 9 miliar jiwa dan satu hal yang paling dikhawatirkan dari fenomena tersebut adalah: krisis pangan.

Berbagai upaya dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya krisis pangan, salah satunya adalah melalui bioteknologi berupa rekayasa genetika. Secara teori, rekayasa genetika merupakan upaya manusia yang dengan sengaja mengubah, memodifikasi, dan/atau menambahkan susunan suatu gen dengan material baru pada suatu organisme untuk mendapatkan keturunan sesuai dengan yang diinginkan manusia (Suryanegara, 2011). Beberapa kalangan bersepakat bahwa rekayasa genetika dapat menjadi solusi bagi krisis pangan melalui tanaman transgenik atau lebih dikenal dengan GMO (Genetically Modified Organism).

Tanaman transgenik mulai dikembangkan pada tahun 1973 oleh Hurbert Boyer dan Stanley Cohen (BPPT, 2000 dalam Karmana 2009). Sejak saat itu, semakin banyak jumlah tanaman transgenik yang dibuat dan disebarluaskan ke seluruh dunia. Enam belas tahun sejak diperkenalkan (1988), sudah terdapat sekitar 23 tanaman transgenik. Jumlah tersebut meningkat pada 1989 menjadi 30 tanaman dan pada tahun 1990 meningkat lagi menjadi 40 tanaman. Perakitan tanaman transgenik ini diikuti pula oleh bidang industri dengan perluasan lahan tanam transgenik. Dokumen FAO tahun 2001 menunjukkan luasan tanaman transgenik di dunia sudah mencapai 175.2 juta hektar pada tahun 2013 dan sebagian besarnya terdiri atas kedelai (58%) dan jagung (23%) (James, 2013; Widodo, tanpa tahun dalam Karmana, 2009). Amerika latin merupakan wilayah dengan luas areal tanaman transgenik tertinggi di dunia yaitu seluas 94 juta hektar atau 54% dari total keseluruhan (James, 2013).

Namun demikian, persoalan tanaman transgenik sejak awal dikembangkan hingga saat ini masih menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan. Kalangan yang pro terhadap teknologi tersebut beranggapan bahwa tanaman transgenik merupakan solusi praktis atas krisis pangan yang sedang mangancam umat manusia. Tanaman transgenik memiliki sifat-sifat unggul yang terlihat menguntungkan dari aspek manapun baik dari aspek ekonomi, pertanian, kesehatan, dan lingkungan. Sementara itu di sisi lain, pemanfaatan tanaman transgenik juga menuai kontra dari sebagian masyarakat karena mereka mengkhawatirkan dampak jangka panjang pemakaian produk transgenik terhadap kesehatan tubuh manusia. Selain itu, kajian-kajian mengenai dampak tanaman transgenik terhadap lingkungan dan ekosistem semakin memperlebar jurang antara kubu pro dan kontra setelah ditemukan fakta-fakta mengejutkan mengenai tanaman transgenik.

Sesungguhnya apa saja dampak positif dan dampak negatif penggunaan produk transgenik?

 

*Bersambung ke Polemik Tanaman Transgenik (Bagian II)

Sumber :

http://www.ristek.go.id/?module=News%20News&id=357 diakses 5 Mei 2015

Utri Dianniar. 2014. Tanaman Transgenik, Solusi atau Polusi? http://pertanian.pontianakkota.go.id/artikel/23-tanaman-transgenik-solusi-atau-polusi.html diakses 5 Mei 2015

James, Clive. 2013. Global Status of Commercialized Biotech/GM Crops: 2013, ISAAA Brief No. 46. ISAAA: Ithaca, NY

Karmana, I Wayan. 2009. Adopsi Tanaman Transgenik dan Beberapa Aspek Perkembangannya, GaneC Swara 3(2): 12-21

Kartika Salam Juarna
Kartika Salam Juarna

Mahasiswa tingkat akhir program studi Biologi FMIPA Universitas Indonesia.

2 Comments

  1. kok ngeselin artikelnya, ahahahaa
    ditunggu ya min..

Leave a Reply