Fluktuasi Nilai Upah Buruh Tani
Apr 9, 2015
Jatuh CInta Penjelasan Ilmiah Beranda MITI
Jatuh Cinta : Sebuah Penjelasan Ilmiah
Apr 13, 2015

Phi-Spray : Semprotan Anti Air Berbahan Dasar Kitosan yang Ramah Lingkungan

rainBeberapa bulan terakhir sejumlah wilayah di Indonesia kerap kali diguyur hujan mulai dari yang intensitasnya rendah hingga hujan lebat. Tak mengherankan mengingat indonesia merupakan negara tropis yang memiliki dua musim; kemarau dan penghujan. Setiap memasuki musim penghujan, masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir biasanya akan bersiaga memantau ketinggian air di kanal banjir –khawatir banjir datang lagi- sedangkan masyarakat umum lebih sering dihadapkan pada satu masalah bersama; basah.

Kebasahan atau wetting merupakan perpindahan fluida (cairan atau gas) oleh fluida lainnya pada suatu permukaan. Contoh kebasahan diantaranya penyebaran tetesan air pada kaca dan penetrasi tinta pada kertas. Cara yang paling umum untuk mengategorikan kebasahan yaitu didasarkan pada sudut kontak (θ) antara permukaan benda dan permukaan cairan. Berdasarkan hal tersebut, suatu benda dapat dikategorikan sebagai hidrofobik (tidak suka air) dan hidrofilik (suka air). Contoh sederhananya adalah antara air yang diteteskan di atas daun talas dan air yang diteteskan di atas kaca. Sangat jelas terlihat perbedaan bentukan air dimana pada daun talas bentuk airnya lebih membulat (sudut kontak lebih besar) dibanding dengan permukaan kaca. Berikut ilustrasinya :

Hubungan antara hidrophobisitas dan sudut kontak dengan air

Gambar 1. Hubungan antara hidrophobisitas dan sudut kontak dengan air

Tentu akan sangat mengganggu apabila air hujan yang turun kemudian membasahi pakaian, sepatu, dan perangkat elektronik yang kita bawa ketika bepergian di hari hujan. Untuk mengatasi masalah tersebut, sudah ditemukan inovasi berupa semprotan tahan air yang telah diproduksi secara massal di Amerika Serikat. Hanya dengan menyemprotkannya ke benda yang kita inginkan, maka benda itu akan menjadi tahan air alias tidak basah ketika terkena air. Solusi yang sangat praktis bukan?

Akan tetapi, semprotan tahan air yang telah dipasarkan secara legal tersebut memiliki kelemahan yaitu bahan bakunya yang tidak ramah lingkungan. Secara umum, bahan yang digunakan untuk semprotan tersebut adalah silikon yang merupakan zat anorganik yang sulit di daur ulang. Hal tersebut justru menimbulkan masalah baru yaitu pencemaran lingkungan.

Baru-baru ini, mahasiswa jurusan Fisika dari Universitas Indonesia, Muhammad Waliyyulhaq, atau akrab dipanggil Haqi, beserta teman temannya, telah mencoba mengembangkan inovasi semprotan tahan air yang lebih ramah lingkungan. Bahan dasar yang digunakan pun berasal dari bahan yang sudah tidak terpakai yaitu kitosan dari ekstrak kulit udang. Kulit udang yang biasanya dibuang karena dianggap sudah tidak berguna kini dapat diubah menjadi hal yang lebih bermanfaat.

Kitosan merupakan senyawa turunan kitin yang banyak terkandung di cangkang hewan crustaceae (udang-udangan). Rumus senyawa Kitosan adalah poli(2-amino-2-dioksi-

β-D-Glukosa) yang dapat dihasilkan dengan proses hidrolisis kitin menggunakan basa kuat. Saat ini terdapat lebih dari 200 aplikasi dari kitin dan kitosan di industri makanan, pemrosesan makanan, bioteknologi, pertanian, farmasi, kesehatan, dan lingkungan.

Struktur Kimia Kitosan (Poliglukosamin)

Gambar 2. Struktur Kimia Kitosan (Poliglukosamin)

Walaupun baru sekadar ide, namun Haqi dan Hawary sebagai pembuat inovasi mengaku optimis bahwa ke depannya semprotan tahan air ini bisa di produksi secara massal sebagai solusi praktis untuk terhindar dari kebasahan di musim hujan.

Referensi :

Gusrita, Ratnawulan, & Gusnedi. (2014) “Pengaruh Viskositas Fluida Terhadap Sifat Hydrophobic dari Berbagai Macam Daun”. PILLAR OF PHYSICS. 1, 9-16.

Hargono, Abdullah, & Sumantri (2008). “Pembuatan Kitosan dari Limbah Cangkang Udang dan Aplikasinya dalam Mereduksi Kolestrol Lemak Kambing”. Reaktor. 12 (1), 53-57

Kartika Salam Juarna
Kartika Salam Juarna

Mahasiswa tingkat akhir program studi Biologi FMIPA Universitas Indonesia.

1 Comment

  1. Febiyanto says:

    Apakah kitin atau kitosan itu benar-benar bisa dapat menempel pada substrat yang elastis?

Leave a Reply