Inilah Data dan Fakta Kanker di Indonesia
Dec 20, 2015
“Bakar Hutan itu Tidak Merusak”, Ah Masa?
Jan 7, 2016

Permudah Proses Infus dengan Visiovein

Ketika akan diinfus, biasanya perawat atau dokter akan meraba-raba lengan pasien untuk mencari pembuluh darah intravena yang akan disuntikkan jarum infus. Proses ini dinamakan proses akses vaskular.

Proses ini biasanya menjadi ketakutan tersendiri bagi beberapa pasien. Karena dalam proses akses vaskular ini, sebagian dokter atau perawat yang masih belum terbiasa, sering salah memilih pembuluh darah intravena pada pasien.

Permasalahan ini mengundang kelima mahasiswa UGM yang berbeda disiplin ilmu (Yasmin Noor Afifah, Putri Istiqomah Rizki Hidayatun, Ardianto Nugroho, Faisal Fajri Rahani dan Intan Nur Fadliilah) untuk berinovasi. Mereka menciptakan visiovein, sebuah alat yang mampu untuk menemukan jalur pembuluh darah vena pada tubuh pasien.

Kelompok Mahasiswa UGM Penemu Visiovein

Kelompok Mahasiswa UGM Penemu Visiovein

Menurut Noor Afifah, ketua kelompok, hampir 90% pasien di rumah sakit akan melalui proses akses vaskular. Sementara itu, proses akses vaskular di rumah sakit yang ada Indonesia masih menggunakan proses kovensional. Padahal, ada beberapa pasien yang memiliki pembuluh darah yang sulit untuk ditemukan.

Dengan adanya visiovein, pembuluh darah vena pada tubuh pasien dapat ditemukan dengan cepat dan efisien. Visiovein terdiri dari tiga bagian: rangkaian led inframerah, kamera inframerah dan laptop.

Rangkaian led inframerah berguna untuk memancarkan cahaya inframerah pada tubuh pasien. Selanjutnya, kamera inframerah bertugas untuk menangkap citra digital gambaran jalur pembuluh vena pada tubuh pasien. Setelah itu, laptop akan menampilkan gambaran jalur pembuluh vena pada layar.

Penggunaan alat ini cukup mudah, pasien tinggal meletakkan tangannya di bawah visiovein. Kemudian, gambar dari jalur pembuluh venanya akan segera terlihat.

Penggunaan Visiovein pada Pasien

Penggunaan Visiovein pada Pasien

Noor Afifah menambahkan bahwa alat seperti visiovein ini sebenarnya sudah mulai dikembangkan. Tapi, alat-alat tersebut tidak ramah biaya. Harga per unit  antara 40-60 juta. Sedankan, visiovein hanya memakan biaya produksi sekitar 3 juta.

Selain itu, keistemewaan lain dari visiovein ini adalah bentuknya yang mudah dibawa. Sehingga, visiovein menjadi alat yang efisien dan efektif untuk membantu proses akses vaskular.

Noor Afifah dan teman-temannya berharap, alat ini nanti dapat diproduksi secara massal di Indonesia, baik di puskesmas, rumah sakit, atau tempat failitas pelayanan kesehatan pribadi. (BTA)

Bagus Tri Adikarya
Bagus Tri Adikarya

Bekerja di Masyarakat Ilmuwan dan Teknologi (MITI) sebagai Peneliti dan Analis data.

Leave a Reply