Teratai: Tanaman Rawa yang Berkhasiat
Jan 23, 2013
Kedelai: Makanan Potensial Berprotein Tinggi
Jan 30, 2013

Perjalanan Panjang Sejarah Banjir di Jakarta

Banjir di Jakarta ternyata sudah terjadi semenjak masa pemerintahan Kolonial Belanda. Beberapa tahun setelah mendarat, pemerintahan kolonial sudah merasakan rumitnya menangani banjir di Batavia. Banjir besar pertama kali mereka rasakan di tahun 1621, diikuti tahun 1654 dan 1876.

Gambar 1

Gambar 1. Banjir di Jakarta

Karena sering dilanda banjir, pemerintah Belanda merasa perlu untuk mulai mengelola air secara serius. Tahun 1918 Pemerintah Belanda mulai membangun beberapa kanal. Semakin kompleksnya masalah air yang melimpah, membuat Pemerintahanan Kolonial membangun Kanal Banjir Barat (BKB) pada tahun 1922 antara Manggarai-Muara Angke sepanjang 17,4 km.

Kanal Banjir Jakarta adalah kanal yang dibuat agar aliran sungai Ciliwung melintas di luar Batavia, tidak di tengah kota Batavia. Kanal banjir ini merupakan gagasan Prof H van Breen dari BOW (cikal bakal Kementrian Pekerjaan Umum). Inti konsep ini adalah pengendalian aliran air dari hulu sungai dan mengatur volume air yang masuk ke kota Jakarta.

Gambar 2

Gambar 2. Muara Kanal Banjir Barat

Gambar 3. Pemukiman Sekitar Kanal Banjir Barat

Gambar 3. Pemukiman Sekitar Kanal Banjir Barat

Meski sudah dibangun Kanal Banjir Barat, bukan berarti persoalan banjir di Jakarta bisa langsung diselesaikan. Pada Januari 1932 lagi-lagi banjir besar melumpuhkan Kota Jakarta. Ratusan rumah di kawasan Jalan Sabang dan Thamrin digenangi air. Saat pemerintahan beralih ke Republik Indonesia masalah banjir di Jakarta pun tak kunjung bisa diselesaikan. Tercatat sejak kemerdekaan beberapa banjir besar terjadi di Jakarta, seperti pada tahun 1976, 1984, 1994, 1996, 1997, 1999, 2002, 2007, 2008, dan 2013.

Untuk mengatasi banjir akibat hujan lokal dan aliran dari hulu di Jakarta bagian timur dibangun Kanal Banjir Timur (BKT). Sama seperti BKB, BKT mengacu pada rencana induk yang kemudian dilengkapi “The Study on Urban Drainage and Wastewater Disposal Project in the City of Jakarta” tahun 1991, serta “The Study on Comprehensive River Water Management Plan in Jabotabek” pada Maret 1997.

Selain berfungsi mengurangi ancaman banjir di 13 kawasan, melindungi permukiman, kawasan industri, dan pergudangan di Jakarta bagian timur, BKT juga dimaksudkan sebagai prasarana konservasi air untuk pengisian kembali air tanah dan sumber air baku serta prasarana transportasi air.Penggalian untuk Kanal Banjir Timurnya sendiri baru dimulai pada tahun 2003. Panjang Kanal Banjir Timur ini 23,6 km dimulai dari Wilayah Jakarta Timur sampai dengan Wilayah Jakarta Utara, memiliki daya tampung limpahan air 390 m kubik per detik.

Untuk pembuatan BKT, perlu pembebasan lahan seluas 405,28 hektare yang terdiri dari 147,9 hektare di Jakarta Utara dan 257,3 hektare di Jakarta Timur. Sampai dengan September 2006, lahan yang telah dibebaskan 111,19 hektare dengan biaya sekitar Rp 700 miliar. Untuk tahun 2007, pembebasan 267,36 hektare dengan biaya Rp 1,2 triliun.

Gambar 4. Kanal Banjir Barat

Gambar 4. Kanal Banjir Barat

Dalam kenyataannya, pembuatan kanal yang sudah direncanakan lebih dari 30 tahun lalu itu menghadapi pembebasan tanah yang berjalan alot. Pembangunannya menjadi lambat. Rencana tersebut tidak kunjung selesai direalisasikan, dan banjir seperti yang kini dirasakan warga Jakarta menjadi kenyataan setiap tahun. Dengan luas 626 kilometer persegi dan letak geografis yang hampir 40% wilayah di bawah permukaan laut serta berada di kawasan delta, disertai kompleksitas tata kota Jakarta, penyebab banjir sudah bukan hanya karena masalah sampah. Masalah banjir adalah masalah modern sekarang yakni karena tidak adanya lahan untuk resapan air. (RAP)

Sumber:

Hati C. Banjir Jakarta, Sejarah, dan Kontroversinya.[ Terhubung Berkala]. http://green.kompasiana.com/polusi/2012/12/04/kontroversi-sungai-ciliwung-dan-kampung-deret-508086.html

Redaksi. 2013. Inilah Sejarah Banjir di Jakarta. [Terhubung Berkala]. http://www.beritajatim.com/detailnews.php/8/Peristiwa/2013-01-21/159178

Waras F. Sejarah Banjir di Batavia dan Kontrovesinya. [Terhubung Berkala].  http://warasfarm.wordpress.com/2013/01/21/sejarah-banjir-di-batavia-dan-kontrovesinya/

Wardhono F. 2012. Sejarah Banjir di Jakarta. [Terhubung Berkala]. http://fitriwardhono.wordpress.com/2012/04/06/sejarah-banjir-di-jakarta/

Sumber Foto:

1. e-book Gagalnya Sistem Kanal, Banjir Jakarta dari Masa ke Masa, Restu Darmawan

2. http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2011/07/10/90592/Musim-Kering-Normalisasi-Banjir-Kanal-Barat-Dikebut

3. http://www.jakarta.go.id/web/foto/fotopick/4850/18016/0/2

4. http://pustaka.pu.go.id/new/infrastruktur-pengaman-pantai-detail.asp?id=12

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

4 Comments

  1. salikun says:

    cara mencegah itu sangat perlu kalo sdh ada prediksi,salah satu pencegahannya dipersilahkan(buka)Sampah Salah Satu Biang Banjir.

  2. Anggara says:

    Hanya heran saja, kalau begitu banyak sudah berulang, apakah tidak ada cara yang mungkin bisa mengatasi banjir?

  3. Jakarta itu rawa sih ya

Leave a Reply