Anjloknya Harga Minyak Dunia dan Desain Kebijakan Energi Nasional Jangka Panjang
Jan 5, 2015
Padi Tahan Kekeringan : Sebuah Langkah Berani Menuju Swasembada Beras
Jan 7, 2015

Peran Strategis Pemuda Indonesia Pada 2015

Refleksi Pemuda Menuju Tatanan Regional dan Global yang Lebih Dinamis. (Dok. Beranda Inovasi)

BerandaInovasi.COM — Awal tahun 2015 yang penuh dengan tantangan. Tahun 2015 menjadi salah satu tahun yang menentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Community), Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals), dan kesepakatan baru mengenai perubahan iklim Pasca-Protokol Kyoto (new Post-Kyoto Protocol climate change agreement) akan mulai berlaku.[1] Hal-hal ini tentu menjadi refleksi yang amat penting untuk Indonesia sebagai salah satu negara yang semakin diperhitungkan dalam kancah internasional.

 Globalisasi pun telah mendorong interdependensi yang semakin kuat antar negara-negara di seluruh belahan dunia. Namun hal yang kini semakin menjadi sorotan adalah telah diakuinya peran strategis pemuda dalam dinamika global. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyerukan semua bangsa dan negara di dunia agar memperhatikan generasi muda yang akan menentukan masa depan dunia. Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-Moon, bahkan menegaskan bahwa pemuda bukan hanya sekadar akan menjadi pemimpin pada masa mendatang, namun juga pencetak sejarah bagi dunia.

 Refleksi Pemuda Menuju Tatanan Regional dan Global yang Lebih Dinamis. (Dok. Beranda Inovasi)

Refleksi Pemuda Menuju Tatanan Regional dan Global yang Lebih Dinamis. (Dok. Beranda Inovasi)

ASEAN Economic Community

 Berbicara tentang ASEAN Economic Community pasti mengarah pada posisi sentral Indonesia didalamnya. Indonesia adalah negera dengan hampir separuh jumlah penduduk Asia Tenggara dan berkontribusi separuhnya bagi Pendapatan Domestik Bruto (gross domestic products) regional.[2]  Sebagai negara demokrasi terbesar di Asia Tenggara dan teladan bangsa yang multikultural bagi dunia, pengaruh Indonesia semakin diperhitungkan. Begitu pula dengan pentingnya peran generasi muda didalamnya. Pemuda Indonesia harus mengejar ketertinggalannya dari tetangga yang lebih unggul seperti Singapura, Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, dan bahkan Vietnam. Daya saing (competitiveness) generasi muda Indonesia harus ditingkatkan dengan implementasi perbaikan kualitas pendidikan dan keterampilan serta peningkatan kapasitas (capacity building) yang komprehensif dan konsisten.[3]

 Kepemimpinan Indonesia di ASEAN haruslah disertai dengan pencapaian yang progressif, substansial, dan praktis yang tentunya disertai dengan partisipasi generasi muda yang aktif dan positif. Anak muda harus menjadi ujung tombak yang paling tajam dalam pembangunan tahap lepas landas menuju negara industri yang lebih makmur dan sejahtera pada dekade berikutnya. Demokrasi yang sedang berkembang ini mestinya dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh generasi muda untuk lebih mengembangkan inovasi, kreativitas, dan intelektualitas yang sesuai dengan standar internasional sehingga tidak akan kaget saat menghadapi realitas ASEAN Economic Community.

Sustainable Development Goals

 Di samping fenomena integrasi regional di tingkat Asia Tenggara, Indonesia juga harus turut berperan aktif dalam mencapai SDGs yang telah ditetapkan pada UNCSD Rio+20 Dialogues pada 2012 lalu di Brazil. Setelah kurang berhasil (jika bukan gagal) mencapai target MDGs, kini SDGs telah menanti Indonesia untuk memenuhi 17 tujuannya, lebih banyak daripada 10 target MDGs. Selain itu PBB secara khusus telah menerbitkan strategi khusus untuk pemuda yakni Global Partnership on Youth Post-2015 (GPY2015) sebagai acuan bagi negara-negara anggota PBB agar pemuda dilibatkan secara aktif dalam agenda pembangunan global setelah 2015. Pemuda sangatlah potensial dalam pencapaian SDGs karena kini pemuda tidak hanya mempelajarinya secara teoritis, melakukannya secara praktis, namun juga berkesempatan untuk terlibat langsung dalam proses perumusan dan perwujudan kebijakan (decision making and implementation processes).

Ini tentu menjadi tantangan sekaligus peluang bagi bangsa ini khususnya pemuda, apakah mampu menjawab dinamika global ini atau tidak.

Ini tentu menjadi tantangan sekaligus peluang bagi bangsa ini khususnya pemuda, apakah mampu menjawab dinamika global ini atau tidak. Pemerintah baik nasional, daerah, dan lokal harus berinisiatif untuk memfasilitasi keterlibatan positif pemuda sehingga hubungan yang terbangun bersifat dua arah dan saling menguntungkan. Kini paradigma pembangunan tidak hanya berkelanjutan namun juga inklusif. Setiap aspek pembangunan itu sendiri harus berorientasi pada subjek yang dituju namun kalangan yang mudah masuk ke segala lini dan dimensi adalah pemuda.[iv] Oleh sebab itu, agar Indonesia dinilai sukses mencapai SDGs pada 2030 mendatang, maka Indonesia harus membina kepemudaan dan memasukannya sebagai prioritas kebijakan secara serius dan benar. Dua hal utama yang menjadi sorotan bagi generasi muda untuk menyukseskan SDGs adalah pendidikan dan lapangan kerja. Pemerintah bersama seluruh stakeholders lainnya harus peka akan hal ini sebelum lambat merespon dinamika internasional yang begitu cepat dan sulit diprediksi.

 

Isu Perubahan Iklim

 Perubahan iklim yang merupakan salah satu isu berpengaruh dalam abad ke-21 ini tentu harus disolusikan dengan berbagai kreasi dan inovasi dari para pemuda sehinnga mampu menjalankan fungsi inter-generasional yang baik dan akhirnya membawa manfaat positif baik bagi peradaban manusia dan keberlangsungan planet ini.  Satu hal lainnya yang menjadi sorotan utama pada 2015 adalah kesepakatan baru mengenai perubahan iklim setelah Protokol Kyoto kadaluarsa. Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) akan mengadakan COP21 di Paris tahun ini untuk memuluskan negosiasi perjanjian baru internasional yang menggantikan Protokol Kyoto. Sejalan dengan itu, peran pemuda dalam perubahan iklim telah, sedang, dan akan terus meningkat karena potensinya yang vital sebagai agent of change dan future leaders.

Berbagai badan di PBB  telah mendirikan divisi khusus pemuda agar aspirasi dan kreativitas pemuda dapat dioptimalkan untuk kepentingan yang lebih luas dan berguna seperti Envoy on Youth pada Sekjen PBB (UNSG), lalu COY dan YOUNGO pada UNFCCC serta Tunza Youth Eco-Generation pada UNEP. Pada tingkat nasional, Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) sebagai badan khusus pemerintah untuk perubahan iklim, program Youth for Climate Camp (YFCC) dapat dikatakan sudah cukup baik untuk mengakomodasi kepentingan pemuda dalam perubahan iklim.[v] Sayangnya, hal itu terlalu sentralistis dan dominan sementara jurang dengan tingkat daerah masihlah besar baik dalam hal knowledge, capacity building, dan know-how experiences.

 Strategi yang dijalankan oleh pemerintah Indonesia dalam menjawab perubahan iklim masih belum memberdayakan pemuda secara optimal sebagai rekan kerja utama. Pemuda sesungguhnya dapat dilibatkan dalam penelitian lapangan, penyuluhan, pengajaran pendidikan, hingga penyebaran informasi dan komunikasi mengenai isu perubahan iklim dan lingkungan hidup terutama ke kawasan pedalaman dan pedesaan.

 Pada kesimpulannya, Indonesia harus berjuang keras dan total untuk mengubah paradigma pembangunannya menjadi lebih berorientasi pemuda yang potensial dan strategis sebagai mitra. Jika ingin lebih unggul dibanding bangsa lainnya, maka berdayakanlah generasi muda secara optimal untuk kemajuan negeri ini seperti yang telah diamanatkan Bung Karno, sang Proklamator.

Referensi:

[1] Untuk lebih lengkap mengenai Masyarakat ASEAN lihat www.asean.org, untuk SDGs lihat http://sustainabledevelopment.un.org/focussdgs.html, untuk kesepakatan perubahan iklim yang baru paska Protokol Kyoto lihat http://newsroom.unfccc.int/

[2] Lebih jauh tentang profil Indonesia, lihat https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/geos/id.html

[3] Bonus demografi (demographic bonus) Indonesia yang akan mencapai puncaknya pada 2025 mendatang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk pembangunan dan kesejahteraan bangsa ini ditengah suasana kompetisi regional dan global yang semakin ketat.  http://www.thejakartapost.com/news/2014/04/12/ri-must-prepare-demographic-bonus.html

[iv] Lihat http://www.undp.org/content/undp/en/home/ourwork/povertyreduction/focus_areas/focus_ inclusive_development/

[v] Lihat http://dnpi.go.id/portal/id/berita/siaran-pers/510-harmonisasi-pemuda-dalam-menyikapi-perubahan-iklim

Stevie Leonard Harison
Stevie Leonard Harison

Aktivis muda, pendiri Inspirator Muda Nusantara,
organisasi komunitas pemuda di Bandung. Ingin dan akan selalu
berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan negeri Indonesia.
Berminat pada isu pemberdayaan pemuda, demokrasi dan HAM,
serta perdamaian dan multikulturalisme.

2 Comments

  1. Ramadhan says:

    seorang yang baru lulus sma langsung kerja belum sempat mendapatkan pendidikan diperguruan tinggi
    dengan apa ia harus bersaing di MEA 2015 ini?

  2. beberapa provinsi telah mendirikan badan pelatihan dan keterampilan, sesuai dengan arahan kebijakan dari Kementerian Sosial. Menurut saya, kemampuan berbahasa Inggris dan komunikasi menjadi prioritas, itu menjadi modal awal untuk kita terlibat lebih jauh dalam globalisasi, apalagi fenomena regionalisme ASEAN. Perlu diketahui bahwa ASEAN Community tidak hanya MEA (ekonomi), namun juga ada MPKA (politik dan keamanan) serta MSKA (sosial dan kebudayaan), tulisan saya telah diedit oleh redaksi.

Leave a Reply