Normalisasi Sungai: Upaya Penanggulangan dan Pencegahan Banjir
Jan 31, 2013
Pengembangan Bahan Bakar Nabati Biofuel dari Mikroalga sebagai Pengganti Bahan Bakar Minyak di Indonesia
Feb 1, 2013

Penurunan Muka Tanah Kota, The Silent Killer

Banjir JakartaTanggal 17 Januari 2013 banjir kembali melanda Ibukota Jakarta yang memiliki luas wilayah 600 kilometer persegi dan kini dihuni oleh 9,6 juta jiwa. Banjir di Jakarta terjadi akibat perpaduan berbagai penyebab, di antaranya, rob, penurunan muka tanah, saluran drainase tidak memadai, tingginya curah hujan lokal dan di hulu, sumbatan sampah, serta menurunnya daya dukung lingkungan di hulu dan di daerah aliran sungai (DAS).

Penurunan muka tanah disebabkan oleh beberapa faktor, seperti: penyedotan air tanah besar-besaran oleh industri, hotel, mal, apartemen, permukiman, serta semakin beratnya beban struktur bangunan mulai dari mal, apartemen, hotel, hingga jalan raya. Akan tetapi untuk menentukan faktor paling utama dari penurunan muka tanah, dibutuhkan penelitian panjang.

Pengukuran besar penurunan muka tanah dapat dilakukan dengan metode Global Positioning System (GPS), Interferometry Synthetic Aparture Radar (InSAR), pengukuran mendatar, sejarah geometrik, dan metode gaya berat.

Dari penelitian yang dilakukan sejak Januari 2007 sampai dengan Februari 2011, angka penurunan muka tanah tertinggi ditemukan di Pantai Mutiara yang mencapai 40 cm. Penurunan muka tanah cukup tinggi juga terjadi di wilayah Tanjung Priok. Di kawasan pantai ini, penurunan terjadi dengan laju 45-60 mm per tahun. Sementara itu, secara akumulatif, pada kurun waktu Desember 1997-September 2007 (Sekitar 117 Bulan), di sejumlah titik terdeteksi penurunan setinggi 80-90 cm. Secara umum, laju penurunan yang terjadi selama periode itu berkisar antara 1-15 cm per tahun. Dari hasil penelitian juga ditemukan bahwa tingkat penurunan pada kurun waktu 2007-2008, mencapai 28 cm, tahun 2008-2009 sekitar 14 cm, dan tahun 2009-2010 sekitar 16 cm.

Penurunan muka tanah merupakan permasalahan utama yang dihadapi beberapa kota besar seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Perkembangan kota memberikan dampak yang besar terhadap terjadinya penurunan muka tanah, Selain dikarenakan faktor fisik seperti tektonisme, dan konsolidasi tanah, penurunan tanah di kota-kota tersebut juga dikarenakan pesatnya pembangunan pusa-pusat bisnis, perdagangan, tempat-tempat hiburan serta tempat-tempat tinggal. Perkembangan ini pada akhirnya dapat menyebabkan penurunan muka tanah. (RAP)

Sumber:

Akbar K. Taufik M, Handoko EY. 2011. Studi Penurunan Tanah Kota Surabaya Menggunakan Global Positioning System.Seminar Nasional Pascasarjana XI – ITS 27 Juli 2011.

BrigitaIsworo Laksmi. 2013. Penurunan Tanah Jakarta, Beban yang Semakin Tinggi. Kompas, Senin 28 Januari 2013.

Zakaria A. 2011. 2050, Tanah Turun 5 Meter. [Terhubung Berkala]. http://www.greenradio.fm/news/latest/5356-2050-tanah-turun-5-meter

Sumber Foto:

http://berita.plasa.msn.com/teknologi/republika/inilah-5-kota-dunia-yang-terancam-tenggelam-jakarta

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply