Stop Konsumsi Daging demi Atasi Pemanasan Global? Mari Kaji Kembali!
Jan 26, 2015
Masker Anti Polutan Berteknologi Adsorbsi-Fotokatalitik
Jan 28, 2015

Pentingnya Standarisasi Restoran Fast Food

Di tahun 2015 ini, Indonesia memasuki persaingan dalam era globalisasi. Salah satu bentuk persaingan tersebut adalah AEC (Asean Economic Community). AEC merupakan salah satu bentuk kerja sama Negara-negara wilayah ASEAN dalam bidang ekonomi. Dalam era AEC perdagangan bebas antar Negara wilayah ASEAN terjadi. Bahan pangan, tenaga kerja, alat elektronik, jasa dan beberapa produk dari dalam dan luar negeri akan berebut menduduki pasar perdagangan ASEAN untuk mengerup dan meningkatkan keuntungan sebesar-besarnya. Sehingga kemungkinan besar perusahaan asing khususnya dibidang pangan akan meningkat pertumbuhannya di wilayah Indonesia

Kehadiran perusahaan-perusahaan asing bidang pangan di wilayah Indonesia tentunya akan memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Tetapi tidak dipungkiri bahwa dampak negatif juga dapat ditimbulkan dengan menjamurnya perusahaan makanan asing yang berada di Indonesia, salah satunya adalah keamanan pangan dan jenis bahan pangan yang digunakan oleh perusahaan tersebut. Hal tersebut seharusnya menjadi pokok perhatian pemerintah dalam mengontrol arus keluar masuknya bahan pangan di Indonesia.

Restoran fast food merupakan restoran yang secara khusus menyediakan makanan siap saji yang lezat dan praktis untuk memanjakan lidah penggemarnya. Restaurant fast food asing sudah lama menjamur di Indonesia, seperti MC Donalds, KFC, AW, dan sebagainya. Makanan yang ditawarkan pada restaurant tersebut sukses menarik hati masyarakat Indonesia walaupun kualitas bahan pangan, porsi makanan, dan kandungan kalori dalam makanan tersebut masih tergolong tinggi.

Efek yang dapat ditimbulkan adalah dapat memicu terjadinya berbagai macam penyakit kardiovaskuler dan penyakit lainya yang ditmbulkan akibat kelebihan konsumsi kalori dan beberapa asam lemak yang berbahaya bagi tubuh. tidak mengherankan lagi efek konsumsi fast food diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah fast food di Indonesia pada era AEC di tahun 2015.

[box type=”shadow” align=”aligncenter” ]Untuk meningkatkan daya saing bangsa, maka pengusaha kuliner dalam negeri yang hendak mengembangkan restoran cepat saji harus mampu mengaplikasikan standarisasi sehingga restoran fast food dalam negeri tetap menjadi pilihan ditengah mewabahnya waralaba asing.[/box]

Pemerintah telah memberlakukan suatu aturan mengenai manajemen keamanan pangan fast food, seperti pembatasan kandungan minyak dan garam. Sesuai Peraturan Menteri Kesehatan RI, konsumsi garam yang dianjurkan untuk fast food ialah 5 gram (setara 1 sendok teh) per orang per hari.  Untuk gula, konsumsi yang disarankan adalah 50 gram (4 sendok makan).

Peraturan juga berlaku untuk konsumsi lemak sebesar 78 gram (1,5-3 sendok makan). Hal ini dilakukan untuk menurunkan angka kejadian penyakit hipertensi dan kardiovaskuler akibat konsumsi lemak dan garam yang berlebih. Namun, aturan tersebut dirasa masih belum cukup untuk mencegah efek yang akan ditimbulkan terhadap kesehatan konsumen sekaligus menjamin keamanan pangan yang akan dikonsumsi oleh konsumen.

Hal yang harus ditambahkan dalam mengatur manajemen restoran fast food sendiri mencakup pemilihan kualitas bahan pangan yang digunakan, porsi makanan fast food yang sesuai dengan panduan umum gizi seimbang, produk yang higienis dan sistem sanitasi restoran yang memadai.

Bahan pangan yang digunakan oleh fast food harus memenuhi beberapa kriteria berikut,  yaitu lemak atau minyak yang digunakan harus bebas lemak trans, kadar natrium dalam garam yang digunakan rendah, dan bahan pangan harus segar serta layak untuk dikonsumsi.

Hal tersebut dilakukan untuk meminimalisir angka kejadian penyakit yang diakibatkan oleh kelebihan konsumsi garam dan lemak trans serta menghindari keracunan akibat bahan pangan yang sudah mengalami kontaminasi akibat penurunan kualitas dan kesegaran pangan. Porsi makanan yang disajikan harus dilakukan sesuai dengan panduan umum gizi seimbang.

Penambahan porsi sayur yang tepat pada setiap menu yang disajikan oleh setiap restoran fast food harus dilakukan. Hal tersebut didasarkan pada fakta bahwa sebagian besar fast food di Indonesia masih kurang memperhatikan porsi sayuran yang ditambahkan dalam menu yang dihidangkannya.

Porsi sayuran yang tepat pada setiap hidangan fast food diharapkan akan mencukupi konsumsi serat konsumen dan menghindarkan konsumen dari efek konsumsi lemak dan garam tinggi pada fast food yang akan menyebabkan masalah kesehatan. Produk yang higienis dan sistem sanitasi pada restoran fast food merupakan aspek penting yang harus dikontrol setiap saat, seperti: saluran air dan pembuangan yang baik, sterilisasi bahan makanan sebelum diolah, penyimpanan dan pengolahan bahan makanan, dan yang terpenting adalah seleksi bahan makanan dan pekerja.

Virus atau bakteri dapat terbawa melalui makanan dan kondisi kebersihan pekerja sehingga makanan menjadi terkontaminasi. Penerapan standarisasi manajemen restoran fast food diharapkan menjadi pertimbangan untuk mewujudkan keamanan pangan konsumsi di tahun 2015 sehingga fast food dapat dengan aman dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia.

fadhli Nugroho
fadhli Nugroho

Mahasiswa S1 Institut Pertanian Bogor

3 Comments

  1. Keren gan artikelnya, berguna banget nih, sebagai pedoman bagi yg mau buka usaha restaurant or fastfood maupun yang sudah terlebih dahulu memulai usaha di bidang tersebut agar lebih memperhatikan pentingnya gizi seimbang dalam setiap menu yang disajikan. Terimakasih

  2. setuju bang fadil…!!!!!

  3. Septi L says:

    Label Halal juga perlu diperhatikan, mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim

Leave a Reply