Ironi Kedelai Di Negeri Tempe
Sep 25, 2012
Indonesia Ladang Energi Terbarukan
Oct 1, 2012

Pengisian Baterai Mobil Listrik

Mobil ListrikMeneg BUMN Dahlan Iskan menargetkan pertengahan tahun depan, mobil listrik dapat diproduksi secara massal. Namun, dibalik itu, masih ada beberapa permasalahan mobil listrik di Indonesia yang didasarkan dari keberadaan infrastruktur pendukung yang belum memadai. Salah satu masalah yang harus dipecahkan dalam pengembangan mobil listrik adalah baterai yang akan menggerakkan motor (mesin) dalam mobil tersebut. Hal ini terkait dengn daya listrik yang dibutuhkan untuk mengisi baterai serta lama waktu pengisian (charging). Sebagai contoh, mobil listrik yang pernah dikendarai Dahlan Iskan menggunakan 36 baterai litium dengan kapasitas total penyimpanan energi 21 kWh. Dengan energi sebesar itu, mobil diharapkan mampu menempuh jarak 100 km sampai 130 km. Waktu isi ulang baterai tersebut sekitar 4 jam sehingga pengisian penuh memerlukan pasokan daya listrik 5.250 watt. Jika pengisisan baterai dilakukan di rumah, daya listrik yang tersedia harus minimal 5.250 watt dan pada saat pengisisan semua peralatan listrik di rumah harus dimatikan selama 4 jam. Jika ingin memperpendek waktu pengisian menjadi setengah jam, daya yang dipasang di rumah minimal 42.000 watt. Ini baru untuk mengisi baterai bagi keperluan perjalanan sekitar 130 km atau selama 2 sampai 3 jam. Perlu diperhatikan, kebanyakan rumah tangga sekarang memiliki daya terpasang di bawah 3.200 watt.

Alternatif lain yang diharapkan adalah tempat pengisian baterai, semacam SPBU saat ini. Namun, setiap mobil harus parkir di tempat tersebut minimal 4 jam. Bisa dibayangkan berapa banyak mobil yang parkir. Kalau jumlah mobil yang akan mengisi baterai lebih banyak dari terminal pengisian, satu mobil harus antre minimal 4 jam sebelum mendapat giliran pengisian. Hingga selesai pengisian diperlukan waktu paling sedikit 8 jam. Apabila dilakukan pengisian cepat selama setengah jam sehingga masing-masing mobil mengambil daya 44.000 watt, maka untuk 10 terminal paralele diperlukan daya minimal 440 kilowatt.

Alternatif lain lagi adalah mendesai mobil agar dapat dilakukan tukar tambah baterai ketika isi baterai di mobil habis. Baterai yang habis isinya diganti dengan baterai yang penuh. Kelihatannya cara ini lebih praktis. Tetapi kalau dianalisis lebih dalam, bobot baterai yang dibongkar-pasang akan menjadi permasalahan. Baterai litium yang dipakai pada kebanyakan smart-phone memiliki kapasistas 1.35 Ah. Tegangan keluaran baterai sekira 3.5 V dan bobotnya sekira 30 gram. Jadi energi yang tersimpan dalam baterai 4.725 Wh dan kerapatan energinya dalam baterai (jumlah energi per satuan massa baterai) 0.1575 kWh/kg. Untuk mendapatkan energi 21 kWh bobot baterai menjadi 133 kg. Bisa dibayangkan betapa repotnya mengganti baterai seberat itu dan penggantian pun harus dilakukan setelah menempuh perjalanan antara 100 km sampai 130 km atau 2 sampai 3 jam. (RAP)

Sumber:

1. Abdullah M. 2012. Menyoal Mobil ListrikInstitut Teknologi Bandung, Guru Besar Bidang Fisika Nanomaterial.

2.Virdhani HM. 2012. BUMN Siapkan Stasiun Pengisian Ulang Mobil Listrik. [Terhubung Berkala].  http://autos.okezone.com/read/2012/07/16/52/663809/bumn-siapkan-stasiun-pengisian-ulang-mobil-listrikbumn-siapkan-stasiun-pengisian-ulang-mobil-listrik. [27 September 2012].

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply