Hemat Energi, Tanggung Jawab Kita Semua
Nov 21, 2013
Energi Panas Bumi Untuk Ketahanan Energi Nasional
Nov 25, 2013

Penggunaan Briket Sebagai Langkah Strategis Membangun Budaya Hemat Energi Ramah Lingkungan

Briquettes

Sumber Ilustrasi: gettyimages.com

Energi merupakan suatu kebutuhan utama yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Semakin maju suatu negara, semakin besar energi yang dibutuhkan. Kebutuhan energi dalam masyarakat semakin meningkat seiring dengan pertambahan penduduk dan tingkat kemajuan dari masyarakat itu sendiri. Selain itu, kebutuhan energi sangat dibutuhkan karena efek yang diciptakannya pada produktivitas, kesehatan dan sanitasi, pelayanan air bersih. Fungsinya yang sangat penting membuat ketiadaan energi seolah melumpuhkan kehidupan masyarakat. Tanpa energi untuk memasak, tentunya akan mengurangi ketersediaan energi metabolisme yang diperlukan manusia untuk beraktivitas. Ketiadaan energi untuk memberikan penerangan yang layak dapat mengganggu aktivitas belajar dan mengajar, dan sebagainya.

Walaupun energi merupakan kebutuhan dasar bagi manusia modern, sayangnya, tidak semua masyarakat Indonesia menikmati kemudahan mendapatkan energi untuk keperluan apa pun. Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) seperti minyak tanah dan solar, serta ketiadaan listrik untuk penerangan yang layak, masih kerap terjadi khususnya di wilayah – wilayah luar Jawa memperburuk akses masyarakat Indonesia atas energi. Bahkan, subsidi yang diberikan oleh Pemerintah semenjak tahun 1970-an pun tidak membantu masyarakat (terutama yang tinggal jauh dari pusat ekonomi dan miskin) dalam memperoleh energi yang bersih dan terjangkau.

Modi V, dkk (2005), menyatakan bahwa kebutuhan energi minimum manusia berkisar di angka 50 kilogram setara minyak, dimana 40 kilogram setara minyak digunakan untuk memasak, dan 10 kilogram untuk penerangan. Indonesia sendiri memiliki rata-rata konsumsi energi total nasional sebesar 828,09kilogram setara minyak untuk memasak dan penerangan; yang artinya, konsumsi energi di Indonesia telah melebihi konsumsi energi rata-rata seperti yang dinyatakan oleh Modi, V.

Sebagaimana potret yang terjadi pada masyarakat perdesaan di Indonesia, banyak yang masih menggunakan kayu bakar untuk keperluan memasak. Selain mudah dan murah untuk didapat, memasak dengan kayu bakar dianggap lebih mudah untuk dilakukan ketimbang dengan bahan bakar yang lain karena mereka sudah melakukannya sejak lama. Permasalahan berlipat saat asap hasil pembakaran dengan kayu bakar memenuhi dapur yang tidak dilengkapi dengan sistem ventilasi yang baik. Akhirnya, penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) kerap mendominasi kesehatan masyarakat, terutama ibu dan anak, bahkan apabila dibiarkan tanpa perawatan yang tepat, penyakit ini dapat berujung pada kematian.

Kenaikan harga bahan bakar minyak merupakan faktor yang sangat mempengaruhi tingkat konsumsi kayu bakar di masyarakat. Menurut Sumardjani (2007), kebutuhan kayu bakar untuk substitusi minyak tanah keperluan domestik (memasak) setiap kapita akan memerlukan kayu bakar sebesar 2,54 m3 per tahun. Jumlah pemakai kayu bakar di Indonesia dapat didekati dari dua pendekatan yaitu (1) jumlah penduduk miskin, menurut BPS pada tahun 2006 mencapai 36,99 juta jiwa, maka jumlah kayu bakar yang diperlukan masyarakat mencapai 94,02 juta m3 per tahun. (2) Sementara itu jika menghitung jumlah persentase penduduk yang menggunakan kayu bakar yaitu sebesar 116,274 juta jiwa maka diperoleh konsumsi kayu bakar nasional sebesar 295,502 juta m3 per tahun (Budiyanto, 2009). Sebagaimana ditunjukkan pada bagan mengenai konsumsi energi modern Indonesia dibandingkan dengan kebutuhan energi minimum (untuk memasak) berikut ini.

Konsumsi energi modernGambar 1 Perbandingan Konsumsi Energi Modern dengan Kebutuhan Energi Minimun

Harga bahan bakar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari semakin membengkak dan semakin sulit ditemukan,khususnya minyak tanah. Tingginya harga BBM ini mulai memberi dampak yang mengkhawatirkan. Upaya pemerintah mensubsidi Liquid Petroleum Gas (LPG) untuk menggantikan peran minyak tanahpun juga tidak sepenuhnya berhasil. Krisis energi yang membuat harga minyak dunia mencapai US $ 70/barel semakin menghimpit kehidupan masyarakat berbagai lapisan di Indonesia. Kenaikan harga BBM yang dilakukan pemerintah membuat harga minyak tanah menyamai harga premium sebelum dinaikkan (Budiyanto, 2009).

Dalam situasi seperti ini pencarian, pengembangan, dan penyebaran teknologi energi non BBM yang ramah lingkungan menjadi penting, terutama ditujukan pada keluarga miskin sebagai golongan yang banyak terkena dampak kenaikan BBM. Pemerataan pembagian LPG belum sepenuhnya merata. Apalagi akhir-akhir ini sering terjadi ledakan tabung LPG yang membuat masyarakat semakin khawatir dan alhasil semakin banyak masyarakat yang kembali memanfaatkan kayu sebagai sumber bahan bakar favorit. Jika hal ini berlangsung lama, akan menimbulkan masalah baru yaitu pembabatan hutan sehingga dikawatirkan dapat merusak lingkungan. Oleh sebab itu, untuk mengatasi hal-hal tersebut perlu dicari sumber energi alternatif supaya kebutuhan bahan bakar dapat dipenuhi tanpa merusak lingkungan salah satu sumber energi alternatif tersebut ialah briket.

Briket merupakan padatan limbah pertanian yang umumnya berasal dari bahan yang sifat fisiknya tidak kompak, tidak keras, dan tidak padat seperti serbuk gergaji dan sekam yang tanpa melewati proses pembakaran terlebih dahulu (Prawiroadmodjo, 2005). Namun selain dari serbuk gergaji dan sekam, briket juga dapat dibuat dari limbah dedaunan, isi perut ikan, kotoran kerbau dan kotoran sapi.

 Pemanfaatan limbah peternakan (kotoran ternak) merupakan salah satu alternatif yang tepat untuk mengatasi kelangkaan bahan bakar minyak. Limbah ternak merupakan sisa buangan dari suatu kegiatan usaha peternakan seperti usaha pemeliharaan ternak, rumah potong hewan, pengolahan produksi ternak dan lain – lain. Limbah tersebut meliputi limbah padat dan limbah cair seperti feses, urine, sisa makanan, embrio, kulit telur, lemak, darah, bulu, kuku, tulang, tanduk, isi rumen, dan lain – lain.

Sebagai contoh pembuatan briket dari kotoran sapi. Semakin berkembangnya usaha peternakan, maka limbah yang dihasilkan pun akan semakin meningkat sehingga memperbesar peluang pemanfaatan limbah kotoran sapi menjadi sumber energi alternatif yang ekonomis dan solutif. Namun sampai saat ini pemanfaatan kotoran ternak belum optimal,sisa kotoran ternak banyak yang tertumpuk di sekitar kandang dan belum banyak yang dimanfaatkan sebagai sumber energi. Pemanfaatan kotoran ternak dapat dihasilkan dua jenis bahan bakar yaitu biogas dan briket. Kotoran ternak sebagai sumber bahan bakar dalam bentuk briket  merupakan hal baru bagi masyarakat, dan peternak kita.

Meskipun banyak masyarakat yang sudah mengetahui pemanfaatan kotoran sapi sebagai bahan bakar alternatif, tapi terkendala oleh kesan bahwa membuat biogas itu rumit dan memerlukan banyak ketrampilan tapi membuat briket dari kotoran sapi relatif lebih mudah dan siapapun pasti bisa membuatnya. Kotoran sapi yang sudah kering memang mempunyai sifat mudah terbakar dalam waktu yang lama dan sifat inilah yang dimanfaatkan sebagai wujud nyata membudayakan hemat energi di masyarakat khususnya energi untuk memasak dalam kehidupan sehari-hari.

Penggunaan briket untuk memasak dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya sebagai solusi cerdas dan kreatif dalam menyiasati harga BBM yang semakin tidak terjangkau tetapi juga memiliki muatan ramah lingkungan karena pembuatan briket yang berasal dari limbah dan kotoran serta yang paling penting adalah melatih masyarakat dalam membangun budaya hemat energi terutama dari penggunaan bahan bakar minyak dalam kehidupan sehari-hari tak terkecuali dalam memasak sehingga secara bertahap berimplikasi positif terhadap efisiensi konsumsi bahan bakar dan tentu saja kesehatan lingkungan yang semakin meningkat.

 

Ari Akbar Devananta

Mahasiswa Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Sekretaris Jenderal SCCF UGM 2013

 

Referensi :

Budiyanto. 2009. Tingkat Konsumsi Kayu Bakar Masyarakat  Desa Sekitar Hutan (Kasus Desa Hegarmanah, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat. [Skripsi]. Bogor. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor

Modi, V., McDade, S., Lallement, D., Saghir, Jamal. 2005. “Energy Services for the Millenium Development Goals”. Millenium Project, UNDP. World Bank, ESMAP.

Prawiroadmodjo, Suryo W, dan Rochim Armando. 2005. Membuat Kompor Tanpa BBM. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sumardjani, L. 2007. Potensi Eknomi Luar Biasa yang Terlupakan. http// www.fahutan-unlam.ac.id. [11 November 2013].

Tumiwa, Fabby dan Henriette Imelda. 2011. Kemiskinan Energi Fakta-fakta yang Ada di Masyarakat. Institute for Essential Services Reform (IESR)

 

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

1 Comment

Leave a Reply