Program “Satu Desa Satu Produk” sebagai Aplikasi Bio-Eco Culture untuk Mendukung Ketahanan Pangan
Mar 15, 2013
Uwi-uwian: Tanaman Pangan Lokal yang Belum Banyak Dieksploitasi
Mar 19, 2013

Pengembangan Industri Kreatif Skala Mikro dan Kecil Berbasis Pangan Lokal

peuyeumKajian ketahanan pangan di tingkat global dalam beberapa tahun terakhir ini semakin hangat. Hal tersebut memang wajar, mengingat ketahanan pangan merupakan bagian dari ketahanan nasional suatu negara. Organisasi Pangan dan Pertanian PBB—FAO pun telah menghimbau pemerintah negara-negara di dunia untuk meningkatkan pengaturan mengenai ketahanan pangan di negaranya.

Isu pengendalian suplai pangan dunia menjadi salah satu dinamika pangan yang menghangat di tingkat global (Kuncoro, 2009). Pada titik inilah, dunia memasuki era perang pangan (food wars). Arifin (2008) dalam Kuncoro (2009) mengungkapkan bahwa strategi kebijakan pangan yang hanya mengarah pada peningkatan produksi pangan saja tidak akan cukup bertahan dalam kondisi persaingan global yang semakin keras.

Sehubungan dengan hal itu, pemerintah melalui kementerian perekonomian telah merumuskan strategi revitalisasi pertanian melalui beberapa paket kebijakan. Salah satu arahan masa depan sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan (PPK) yang dirumuskan oleh Menko Perekonomian (2005:II:3—II-9) adalah aspek produk dan bisnis pertanian. Gagasan dasar arahan tersebut berawal dari kenyataan bahwa selama ini kontribusi sektor pertanian terhadap penerimaan devisa lebih banyak diperoleh dari produk primer yang relative memberi nilai tambah kecil dan belum mengandalkan produk olahan (hilir) yang dapat memberikan nilai tambah lebih besar. Dengan demikian, pembangunan pertanian dilakukan melalui pendekatan agribisnis yang sangat terkait dengan pembangunan wilayah, khusunya perdesaan sebagai upaya peningkatan pendapatan petani.

Untuk mencapai arahan pemerintah tersebut diperlukan sebuah sinergitas dan harmonisasi antara sektor industri dan pertanian. Salah satu visi industri manufaktur 2030 yang dirancang PPE FE UGM dan Yayasan Indonesia Forum adalah industri manufaktur yang berbasis kompetensi inti daerah (Kuncoro, 2009). Hal ini pun sejalan dengan konsep otonomi daerah dalam rangka membangun kemandirian daerah.

Dalam upaya membangun kemandirian daerah, usaha mikro dan kecil bisa menjadi salah satu cara untuk mengembangkan industri agribisnis daerah. Hal ini dikarenakan sektor usaha tersebut merupakan sektor usaha yang mendominasi pangsa unit usaha di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada tahun 2010 pangsa usaha mikro dan kecil mencapai 99,91 persen dari total unit usaha atau sebanyak 1.57.631 unit. Begitu pula dengan penyerapan tenaga kerja, sektor usaha mikro kecil adalah sektor yang secara agregat paling banyak menyerap tenaga kerja. Pada tahun 2010, usaha mikro kecil menyerap 96.641.923 tenaga kerja atau 94,53 persen dari total tenaga kerja Indonesia. Kontribusi usaha mikro kecil terhadap PDB Indonesia juga cukup besar, yaitu mencapai 43,40 persen. Dengan demikian, usaha mikro dan kecil cukup berpotensi untuk mengembangkan industri kreatif daerah berbasis pangan lokal.

Industri kreatif memainkan peranan yang cukup penting dalam perdagangan Indonesia. Kontribusinya terhadap Produk Domestik  Bruto (PDB) Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir rata-rata sebesar 7,7 persen dengan tingkat penyerapa tenaga kerja sekitar 7,76 persen (Aryadi 2012). Nilai pasar industri kreatif tahun 2013 diproyeksikan mencapai Rp174,3 triliun sampai Ro182,6 triliun. Di tahun 2013 ini, para pengamat bersepakan bahwa subsektor usaha makanan/minuman dan fesyen akan naik lebih tinggi dibanding subsektor lainnya.

Potensi industri kreatif dan pangsa usaha mikro dan kecil merupakan peluang untuk mengembangkan kemandirian daerah berbasis pangan lokal. Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris memiliki potensi pangan lokal yang beragam. Beberapa daerah di Indonesia yang memiliki potensi pangan lokal seperti Gorontalo dengan jagungnya dan Papua dengan sagunya pada kenyataannya pun masih bertumpu pada beras sebagai makanan pokoknya. Seperti telah terjadi pergeseran paradigm tentang program swasembada beras yang dicanangkan pemerintah, sehingga daerah-daerah yang berpotensi untuk mengembangkan potensi lokal justru mengarahkan konsumsinya pada beras.

Selain dua contoh daerah di atas, masih banyak daerah-daerah lain di Indonesia yang memiliki potensi pangan lokal. Misalnya, Malang dengan produk apel, Boyolali dengan produk susu, Bantul dengan produk geplak, Garut dengan produk dodol, dan sebagainya. Saatnya industri kreatif dapat dikembangakan dengan basis produk pangan lokal untuk membangun kemandirian pangan daerah. Sebab, ketahanan pangan yang dikembangkan dengan basis produk lokal inilah yang dapat mendukung kemandirian daerah dalam pemenuhan pangan. Selain itu, jika potensi-potensi tersebut dapat diberdayakan secara optimal, pada akhirnya akan mengarahkan Indonesia pada diversifikasi pangan sebagai upaya menuju ketahanan pangan nasional.

Oleh: Lilis Sulistyaningsih, Mahasiswi Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM

Sumber:

Kuncoro, Mudrajad. 2009. Ekonomika Indonesia: Dinamika Lingkungan Bisnis di Tengah Krisis Global. Yogyakarta: UPP STIM YKPN.

Hariyadi. Purwiyanto. 2010. ‘Penguatan Industri Penghasil Nilai Tambah Berbasis Potensi Lokal: Peranan Teknologi Pangan untuk Kemandirian Pangan’. Jurnal Pangan Vol. 19. No. 4 Desember 2010. 

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

2 Comments

  1. Arif says:

    Industri kreatif berbasis informasi dan pengetahuan. Mengembangkannya dari bahan pangan lokal adalah hal baru, mendukung turisme kuliner yang kaya ragam dan rasa –dan tantangannya pasti seru 🙂

  2. Novia RL says:

    Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Industri Kreatif (Kerajinan). Tulisan diatas juga dapat menambah informasi mengenai berbagai macam kerajinan yang ada di Indonesia. Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai Industri Kreatif (Kerajinan) yang bisa anda kunjungi di <a href="http://indonesia.gunadarma.ac.id/">Informasi Seputar Industri Kreatif (Kerajinan)</a>

Leave a Reply