Bioteknologi Penanggulangan Limbah Asam Tambang
Mar 13, 2014
Teknologi Fitoremediasi Berbasis Rumput Laut Gracilaria Sp di Perairan Tambak Polikultur
Mar 17, 2014

Pengelolaan Sampah Secara Holistik Berbasis Partisipasi Masyarakat

Permasalahan lingkungan masih menjadi salah satu sorotan utama. Manusia sebagai pelaku utama melakukan berbagai jenis kegiatan yang secara langsung maupun tidak langsung dapat memengaruhi kondisi lingkungan. Berbagai kegiatan manusia relatif memberikan dampak negatif terhadap lingkungan, seperti pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh kegiatan industri, rumah tangga dan transportasi yang menghasilkan polusi dan limbah. Menurut KLH (2012) limbah merupakan bahan buangan yang tidak terpakai lagi yang dapat berdampak negatif apabila tidak dikelola dengan baik.

Limbah terbagi menjadi dua kategori yaitu limbah padat dan limbah cair. Limbah tersebut sering dihasilkan dari proses kegiatan manusia sehari-hari seperti air bekas cucian maupun sampah padat. Tahun 1995 setiap penduduk Indonesia menghasilkan sampah rata-rata 0.8 kg perkapita perhari, dan meningkat menjadi 1 kg perkapita pada tahun 2000. Sedangkan pada tahun 2020 diperkirakan akan meningkat menjadi 2.1 kg perkapita perhari (Febriani & Sukarjaputra 2004). Hasil penelitian Dinas Kebersihan DKI (2001) menunjukan bahwa sampah yang berasal dari rumah tangga jumlahnya mencapai 65% dari total timbulan sampah, sedangkan komersial, industri dan jalan atau taman berturut-turut adalah 16%, 15% dan 4%.

pengolahan_sampah_ indovasi or id

Sumber ilustrasi: indovasi.or.id

Timbunan sampah tersebut dapat menyebabkan masalah lingkungan fisik, kimia dan biologi. Masalah lingkungan fisik misalnya ketersediaan lahan semakin berkurang dan penurunan tingkat estetika dan timbulnya bau tidak sedap. Masalah lingkungan kimiawi contohnya adalah terjadinya dekomposisi sampah yang menghasilkan gas metan, CO2 dan CO yang menjadi polutan di atmosfir bumi. Gas metan, CO2 dan CO tersebut dapat menurunkan lapisan ozon didaerah stratosfir yang berakibat pada peningkatan radiasi sinar UV yang dapat menyebabkan kanker kulit pada kehidupan manusia (Nozhevnikova et al 1993). Masalah lingkungan biologis antara lain menyangkut kesehatan masyarakat yaitu timbulnya kanker kulit dan penyakit infeksi saluran pernapasan atas sebagai akibat penurunan kualitas air dan lingkungan (Sutamihardja 2003). Dengan adanya akibat tersebut sangat diperlukan adanya usaha pemecahan krisis ekologi terutama dalam meminimalkan permasalahan sampah.

Pemecahan krisis ekologi tidak hanya mengandalkan pada teknologi dan kepakaran di bidang ilmu-ilmu fisika yang hanya memecahkan masalah pada tingkat symptom saja tetapi pemecahan krisis ekologi harus dilakukan melalui perubahan sosial, ekonomi dan politik sehingga dapat tercipta gerakan ekologi yang berkelanjutan. Dari segi sosial perlu adanya gerakan lingkungan yang memperjuangkan pengelolaan limbah secara berkelanjutan dan perlindungan lingkungan hidup dengan merubah perilaku individu dan kebijakan publik. Gerakan lingkungan berpusat pada ekologi, kesehatan dan hak asasi manusia. Dengan adanya gerakan lingkungan tersebut, merupakan awal perubahan untuk memperbaiki kerusakan lingkungan terutama permasalahan sampah.

Gerakan lingkungan dapat berupa lembaga swadaya masyarakat yang menerima aspirasi-aspirasi dari masyarakat setempat untuk perbaikan kerusakan ekologi dan melakukan gerakan-gerakan lokal yang menumbuhkan sifat konservasionisme pada masyarakat untuk dapat hidup selaras dengan alam, sehingga masyarakat dapat mengubah perilaku mereka untuk mengelola limbah terutama sampah secara benar. Adanya gerakan lingkungan tersebut dapat memudahkan masyarakat dalam mengelola sampah. Salah satunya dapat membuat program yang dapat menguntungkan masyarakat itu sendiri seperti diadakannya konsep asuransi sampah. Konsep asuransi sampah selain memberikan keuntungan bagi masyarakat juga dapat memberikan pengetahuan dan keterampilan mereka dalam memisahkan sampah baik organik maupun non organik.

Perbaikan dari segi ekonomi dapat dilakukan dengan membangun bisnis yang ramah lingkungan (green business) dan perdagangan (green trade) sehingga dapat meminimalisir kerusakan ekologi yang diakibatkan karena sektor ekonomi. Industri-industri yang sudah ada hendaknya membuat suatu kebijakan dimana limbah dari industri tidak mencemari lingkungan. Perbaikan dari segi politik berkaitan dengan kebijakan pemerintah, perbaikan dari segi ini dapat dilakukan dengan pembenahan infrastruktur yaitu menyediakan tempat pembuangan sampah. Dengan adanya ketiga sarana tersebut akan membantu masyarakat untuk mengubah perilaku dalam mengelola limbah terutama sampah. Adanya kerjasama baik dari pemerintah setempat maupun masyarakat dan para pengusaha akan memberikan dampak yang positif untuk perbaikan kerusakan lingkungan. Oleh karena itu harus ada satu langkah awal yang dapat menginisiasi kegiatan tersebut yaitu dengan adanya gerakan ekologi. 

Fitriya Yuli Astanti

Mahasiswa Jurusan Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor

Referensi:

[KLH] Kementrian Lingkungan Hidup. 2012. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 05 tahun 2012 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Jakarta (ID): Kementrian Lingkungan Hidup

Dinas Kebersihan Jakarta. 2001. Upaya peningkatan penanganan sampah melalui kegiatan 3R (reuse, reduce, recycling) dan zero waste. Jakarta : Dinas Kebersihan.

Nozhevnikova, A.N., V.K, Nekrasova, and.V.S. Lebedev. 1993. Microbiological processes in landfills. Wat.Sci.Tech. 27(2):243-251.

Sutamihardja, R.T.M. 2003. Aspek Ilmiah dan Kebijakan Perlindungan Lapisan Ozon. Bogor : Kerjasama IPB, KLH dan UNEP dalam Seminar dan Lokakarya Sosialisasi Program Perlindungan Lapisan Ozon dan Penghapusan Bahan Perusak Lapisan Ozon. 

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi
BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply