Konsep Sustainable City untuk Kota-Kota Besar di Indonesia
Jan 6, 2014
Mau Dibawa Kemana Sampah Elektronik (E Waste)?
Jan 10, 2014

Penerapan Produksi Bersih Menuju Industri yang Berkelanjutan

Masalah lingkungan mulai ramai dibicarakan sejak diselenggarakannya Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup di Stocholm, Swedia pada 15 Juni 1972. Sebenarnya permasalahan lingkungan bukanlah hal yang baru, melainkan sudah muncul sejak lahirnya bumi,  hanya saja karena beberapa sebab maka masalah ini mencuat ke permukaan (Kristanto, 2004). Faktor terpenting dalam permasalahan lingkungan adalah besarnya populasi manusia (laju pertambahan), karena  pertambahan penduduk tinggi maka tinggi juga kebutuhan akan pangan, bahan bakar, pemukiman dan kebutuhan dasar lainnya. Peningkatan tersebut juga akan meningkatkan limbah industri.

clean industry

Sumber Ilustrasi: gettyimages.com

Revolusi industri di Inggris pada abad 17 yang lalu berdampak kepada  berlomba-lombanya industri untuk menghasilkan keuntungan semaksimal tanpa mempedulikan lingkungan. Lingkungan memang mempunyai kemampuan untuk menguraikan limbah yang dihasilkan industri  tetapi linkungan pun mempunyai kapasitas yang terbatas. Akumlasi yang berlebihan karena banyaknya jumlah limbah yang di buang menyebabkan pencemaran lingkungan.

Pada awalnya strategi pengolahan lingkungan mengacu pada pendekatan kapasitas daya dukung lingkungan. Namun kenyataannya, konsep tersebut tergolong sukar untuk diterapkan. Hal ini, dikarnekan adanya kendala yang ditumbulkan. Misalnya perbaikan kondisi lingkungan yang tercemar dan rusak, sehingga memerlukan biaya yang tinggi. Seiring waktu, konsep strategi diubah menjadi upaya pemecahan masalah dengan pengolahan limbah yang terbentuk (end of pipe treatment) dengan harapan kualitas lingkungan bisa lebih baik (Indrasti et al, 2009). Pada era 90-an mulai mengalami perubahan pengolahan yan cenderung upaya preventif atau pencegahan. Kemudian terus berkembang melahirkan prinsip produksi bersih sebagai strategi preventif yang operasional dan terpadu.

Menurut UNEP (United Nations Environment Program) Produksi bersih  merupakan strategi pengolahan yang bersifat preventif dan terpadu. Oleh karena itu, strategi tersebut perlu untuk diterapkan secara terus menerus pada proses produksi dan daur hidup produk dengan tujuan untuk mengurangi resiko terhadap manusia dan lingkungan (UNEP, 2003). Pengolahan produksi bersih juga termasuk pembangunan berwawasan lingkungan, yang dimana komponen biaya, terhadap resiko rusaknya lingkungan harus dimasukkan dalam proses pengambilan keputusan (Kristanto, 2004).

Teknologi bersih merupakan gabungan antara teknik pengurangan limbah pada sumber pencemar dan teknik daur ulang.  Limbah merupakan ketidakefisienan proses produksi. Optimasi proses dapat mengurangi limbah yang dihasilkan. Secara garis besarnya, pemilihan penerapan produksi bersih dapat di kelompokkan menjadi lima bagian, yaitu :

1. Good house-keeping

Mencakup tindakan prosedural, administratif maupun intitusional yang dapat digunakan perusahaan untuk mengurangi terbentuknya limbah dan emisi. Konsep ini telah banyak diterapkan oleh kalangan industri agar dapat meningkatkan efisiensi dengan cara good operating practice yang mencakup

  • Pengembangan program cleaner production (CP)
  • Pengembangan sumberdaya manusia
  • Tatacara penanganan dan investasi bahan
  • Pencegahan kehilangan bahan/material
  • Pemisahan limbah menurut jenisnya
  • Tatacara perhitungan biaya
  • Penjadwalan produksi (Indrasti et al, 2009)

2. Perubahan material input

Bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan bahan berbahaya dan beracun yang masuk atau yang digunakan dalam proses produksi, sehingga dapat juga menghindari terbentuknya limbah B3 dalam proses produksi. Perubahan material input termasuk pemurnian bahan dan subtitusi bahan (Indrasti et al, 2009)

3. Perubahan teknologis

Mencakup modifikasi proses dan peralatan yang dilakukan untuk mengurangi limbah dan emisi, perubahan teknologi dapat dimulai dari yang sederhana dalam waktu singkat dan biaya murah sampai dengan perubahan yang memerlukan investasi tinggi, seperti perubahan peralatan, tata letak pabrik, penggunaan peralatan otomatis dan perubahan kondisi proses (Indrasti et al, 2009).

4. Perubahan produk

Meliputi subtitusi produk, konversi produk dan perubahan komposisi produk (Indrasti et al, 2009).

5. On-site Reuse

Merupakan upaya penggunakan kembali bahan-bahan yang terkandung dalam limbah. Baik untuk digunakan kembali pada proses awal atau sebagai material input dalam proses yang lain (Indrasti et al, 2009).

Penerapan produksi bersih pada industri mempunyai keuntungan diantaranya bertambahnya nilai tambah produk samping yang selama ini hanya dianggap menjadi limbah. Produk samping dapat memiliki nilai lebih jika dilakukan konversi kimiawi maupun biologi yang lebih lanjut. Misalnya tandan buah segar kelapa sawit dapat dimanfaatkan untuk membuat pupuk organik yang digunakan pada perkebunan sawit.  Penerapan produksi bersih secara simultan akan menciptakan keberlanjutan. Keberlanjutan yang berarti industri bersinergi dengan lingkungan dengan memanfaatkannya secara sinambung untuk meningkatkan kualitas hidup.  Keberlanjutan juga berarti meningkatnya efisiensi dalam penggunaan bahan baku, sehingga akan mengurangi biaya bahan baku. Penerapan produksi bersih diharapkan akan mendorong industri khususnya di Indonesia untuk berdaya saing tinggi dan berwawasan lingkungan.

Muhammad Iqbal

Mahasiswa Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor

Referensi:

Indrasti, S., A. M Fauzi. 2009. Produksi Bersih. IPB Press. Bogor

Kristanto, Philip. 2004. Ekologi Industri. ANDI. Yogyakarta

UNEP.2003. Cleaner Production Assessment in Industries. Didalam http://www.uneptie.ora/pc/cp/understanding_cp/cp industries.htm

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi
BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply