Pengaplikasian Konfigurasi Kolom Distilasi Maju sebagai Upaya Peningkatan Efisiensi Energi di Industri
Jul 22, 2013
Produksi Bahan Bakar Minyak (BBM) dari Sampah Plastik
Jul 25, 2013

Pemanfaatan Tar Batubara sebagai Upaya Efisiensi Penggunaan Sumber Energi di Indonesia

batubara(http://satunegeri.com/foto_berita/3916288675502f1afb893de.jpg)

Efisiensi penggunaan dan pemanfaatan sumber energi merupakan isu yang berkembang saat ini, mengingat semakin terbatasnya ketersediaan sumber energi, khususnya sumber energi fosil seperti minyak bumi. Salah satu sumber energi alternatif yang cukup didorong penggunaannya saat ini di Indonesia adalah batubara. Meskipun termasuk ke dalam sumber energi fosil yang tidak dapat diperbarui, penggunaan batubara sebagai sumber energi alternatif terus didorong karena ketersediannya yang masih cukup melimpah dan biaya penggunannnya yang relatif lebih rendah dibandingkan minyak bumi.

Batubara merupakan padatan yang kompleks dan heterogen, yang terdiri atas berbagai jenis senyawa organik dan anorganik. Batubara umumnya langsung digunakan sebagai bahan bakar dalam industri, namun terdapat juga pemanfaatan lain dari batubara seperti gasifikasi batubara (konversi wujud padat batubara menjadi gas) dan likuifaksi atau pencairan batubara. Salah satu proses yang penting dalam pengolahan awal batubara, baik sebelum dibakar, digasifikasi, maupun dilikuifaksi adalah proses dekomposisi termal atau pemanasan batubara (Casal dkk., 2008). Proses ini bertujuan untuk mengurangi kadar air sekaligus menaikkan nilai karbon dari batubara. Proses dekomposisi termal batubara yang umum dilakukan adalah pemanasan batubara hingga mencapai temperatur tinggi atau dikenal juga dengan istilah pirolisis batubara.

Pirolisis batubara selain menghasilkan batubara dengan nilai karbon yang tinggi, ternyata juga menghasilkan produk samping berupa tar. Tar biasanya berwujud cairan hitam yang merupakan campuran kompleks yang tersusun dari berbagai senyawa hidrokarbon berantai panjang. Namun karena aromanya yang tajam dan kurang sedap, tar sering dianggap sebagai limbah (Fardhyanti dkk., 2012). Umumnya, tar batubara dihasilkan dari proses pirolisis pada rentang temperatur 400-600 oC. Tar yang dihasilkan dari proses pirolisis batubara jumlahnya bervariasi namun dapat mencapai 15,8%-berat, bergantung pada temperatur operasi pirolisis dan peringkat batubara (Casal dkk., 2008). Jumlah ini cukup signifikan mengingat produksi dan penggunaan batubara di Indonesia sangatlah besar. Jika diambil contoh data Kementerian ESDM pada tahun 2005, penggunaan batubara di Indonesia mencapai 35 juta ton dengan konsumsi terbesar adalah untuk keperluan pembangkit listrik yang mencapai 25 juta ton. Jika diambil rata-rata 5% saja, dari setiap pembakaran batubara di PLTU setiap tahunnya akan dihasilkan tar batubara sebesar 1,25 juta ton. Jumlah yang sangat besar untuk dimanfaatkan dan akan sayang jika hanya dibuang sebagai limbah.  

Tar batubara diketahui tersusun atas lebih dari 348 jenis senyawa kimia yang pada dasarnya berpotensi untuk dimanfaatkan. Senyawa-senyawa tersebut antara lain: senyawa aromatik benzoid (benzena, toluena, xylen, naftalena, dan antrasena), senyawa fenolik (fenol, kresol, xylenol, katekol, dan resorsinol), senyawa nitrogen heterosiklik (piridin, quinolin, isoquinolin, dan indol), hidrokarbon homosiklik (benzena, toluena, etilbenzena, xylen, naftalena, 1-metilnaftalena, dan 2-metilnaftalena), dan senyawa oksigen heterosiklik (dibenzofuran). Senyawa-senyawa di atas berpotensi untuk dimanfaatkan karena sudah cukup banyak digunakan sebagai bahan baku dalam berbagai industri kimia, seperti sebagai bahan antioksidan, antiseptik, resin, softener, industri plastik, cat, parfum, obat-obatan, dll. (Fardhyanti dkk., 2012). Fenol dan senyawa fenolik pada dasarnya dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang industri kimia, seperti produksi polimer, obat-obatan, bahan peledak, pestisida, stabilizers, dan antioksidan (Caramao dan Filho, 2004).

Studi tentang pemisahan senyawa-senyawa di atas, khususnya senyawa fenolik dari tar batubara telah banyak dilakukan. Umumnya, teknik pemisahan yang dilakukan berupa teknik ekstraksi ataupun teknik distilasi biasa. Pemanfaatan tar batubara ini perlu didorong sebagai upaya dari efisiensi penggunaan batubara sebagai sumber energi sekaligus untuk meningkatkan nilai tambah dari pemanfaatan batubara itu sendiri.    

Oleh Arnold Mateus, Mahasiswa Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri, Institut  Teknologi Bandung (ITB)

Referensi :

Caramao, E. B., Filho, I. do N., 2004. Quantitative analysis of phenol and alkylphenols in Brazilian coal tar. Quim. Nova 27, 193-195.

Casal, M. D., Diez, M. A., Alvarez, R., Barriocanal, C., 2008. Primary tar of different coking coal ranks. International Journal of Coal Geology 76, 237-242.

Ding, Y., Chen, H., Wang, D., Ma, W., Wang, J., Xu, D., Wang. Y., 2010. Supercritical fluid extraction and fractination of high-temperature coal tar. Journal of Fuel Chemistry and Technology 38 (2), 140-143.

Fardhyanti, D. S., Mulyono, P., Sediawan, W. B., Hidayat, M., 2012. Separation of phenolic compounds from coal tar. IPCBEE 38, 145-149.

http://www.tekmira.esdm.go.id (diakses pada 22 Juli 2013).

Li,C., Suzuki, K., 2010. Resources, properties and utilization of tar. Resources, Conservation and Recycling 54, 905-915.  

Yao, T., Zong, Z., Wen, Z., Mukasa, R., Yuan, N., Wei, X., 2012. Separation of arenols from a high-temperature coal tar. International Journal of Mining Science and Technology 22, 243-244.

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

1 Comment

  1. adithya says:

    saya ingin bertanya
    hasil samping pirolisis batubara berupa tar itu prosesnya bagaimana ya ?
    sedangkan batu bara dipanaskan pada suhu tertentu untuk mengurangi kadar airnya, cairan tar tersebut dari mana ? apakah uapnya di semprotkan air ?
    mohon penjelasannya, terima kasih

Leave a Reply