Pemanfaatan Limbah Biomassa Cangkang Kakao Sebagai Sumber Energi Terbarukan
Sep 27, 2013
Call for Contributor Penulis Artikel dan Opini Edisi Oktober
Oct 2, 2013

Pemanfaatan Panas Matahari Melalui Penggabungan Konsep Rumah Kaca dan Sistem Aliran Udara pada Proses Pengeringan Industri Kerupuk

pengeringan kerupuk

Sumber ilustrasi: http://v-images2.antarafoto.com/gec/1339568412/permintaan-kerupuk-12.jpg

Indonesia sebagai negara tropis memiliki kekayaan alam maupun energi yang luar biasa, salah satunya energi yang berasal dari panas matahari. Matahari menjadi salah satu sumber energi yang penting bagi masyarakat Indonesia. Sebagian besar aktifitas masyarakat Indonesia memanfaatkan energi panas yang berasal dari cahaya matahari untuk mendukung kegiatan mereka, seperti kegiatan rumah tangga, pertanian, maupun industri.

Kegiatan industri seperti industri kerupuk mayoritas masih menggunakan sumber energi panas matahari sebagai salah satu bagian penting dalam proses pengeringan kerupuk karena biayanya yang murah sehingga dapat mengurangi pengeluaran produksi. Begitu bergantungnya industri kerupuk terhadap energi matahari, membuat kegiatan produksi akan terganggu manakala terjadi perubahan yang membuat panas matahari tidak maksimal.

Kerupuk merupakan salah satu produk pangan asli Indonesia yang terkenal di kalangan masyarakat. Jenis kerupuk yang beredar di pasaran sangat beragam dan semuanya memiliki satu kesamaan pada proses pembuatannya yakni proses pengeringan. Proses pengeringan bertujuan untuk mengurangi kadar air yang terkandung dalam bahan pangan, menurunkan aktifitas air (Aw) dalam bahan pangan tersebut dan menghambat aktifitas mikroba didalamnya sehingga dapat meningkatkan keawetan produk, serta untuk tujuan ekonomi tertentu seperti mengurangi bobot, meningkatkan cita rasa produk, maupun yang lain (Achanta dan Okos 2000).

Produsen kerupuk baik itu skala menengah maupun bawah pada umumnya masih menggunakan energi panas matahari dalam pengeringan bahan mentah kerupuk yang telah mengalami pencetakan. Hal ini disebabkan beberapa alasan, baik itu karena biaya operasionalnya yang murah, maupun alasan lain yang dapat berhubungan dengan kualitas produk yang dihasilkan. Proses pengeringan menggunakan panas matahari biasa dilakukan selama 6-8 jam jika cuaca cerah, dan selama kurang lebih 3 hari jika pada musim penghujan. Hal inilah yang dapat menentukan kualitas maupun biaya operasional produksi kerupuk dan menjadi permasalahan produsen kerupuk selama ini.

Rata-rata produsen kerupuk skala menengah mengombinasikan panas matahari dan oven dalam proses pengeringan. Dengan cara ini pengeringan produk dapat berlangsung lebih cepat namun menambah biaya operasional akibat pengguanan oven. Sedangkan untuk produsen skala kecil (rumah tangga), mereka tetap memanfaatkan panas matahari meskipun harus menanggung resiko lamanya proses pengeringan dan berdampak pada kelancaran proses produksi.

Pemanfaatan panas matahari secara optimal menjadi hal yang mutlak diperlukan mengingat ketergantungan yang tinggi dari produsen terhadap sumber energi panas terbesar tersebut. Sebuah alat pengering dengan memanfaatkan konsep rumah kaca yang didukung dengan sirkulasi udara didalamnya menggunakan fan, dapat menjadi salah satu pertimbangan sebagai solusi dari permasalahan pengeringan.

Secara garis besar alat yang di desain dengan menggunakan kaca sebagai bahan utama dan mengelilingi membentuk sebuah ruangan kecil seperti lemari, bekerja dengan memerangkap panas yang ada didalam ruangan kaca, sehingga panas matahari yang diterima dapat masuk akan tetapi tidak dapat keluar sehingga udara panas menyelimuti isi ruangan tersebut. Selanjutnya dengan didukung sistem aliran udara menggunakan fan, dapat mengalirkan panas yang telah terperangkap didalam ruangan sehingga panas dapat menyebar merata pada bahan yang dikeringkan.

Kecepatan fan pada alat tersebut dapat diatur untuk menentukan penyebaran panas didalamnya. Penyebaran panas secara merata sangat penting untuk menjaga tingkat keseragaman kualitas produk yang dikeringkan dan mengoptimalkan efisiensi kinerja alat tersebut. Proses pengeringan biasa dengan menjemur bahan mentah menggunakan panas matahari pada musim kemarau membutuhkan waktu rata-rata 6-8 jam dan ketika musim penghujan sekitar 3-4 hari. Akan tetapi dengan memanfaatkan prinsip konsep efek rumah kaca dan sirkulasi panas, dapat lebih mengoptimalkan pemanfaatan panas matahari tersebut sehingga proses pengeringan menjadi lebih cepat. Proses pengeringan dapat diefisienkan hingga kurang lebih selama 3-4 jam.

Dicki Aulia Rochim

Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan, Institut Pertanian Bogor

Referensi

Achanta S, Okos MR. 2000. Drying Technology in Agriculture and Food Science: Quality Changes During Drying of Food Polymers. Science Publisher Inc, United States of America.

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply