Profesi SKM Dengan Wajib Pengabdian Masyarakat
Feb 2, 2015
Penemuan Terbaru Pola Chaos dalam Otak Manusia
Feb 9, 2015

Pegasus: Lukisan Berbahan Dasar Bulu Unggas Lokal dengan Aksen Sulam Tapis

IMG_20150124_075605BerandaInovasi.COM – Provinsi Jawa Barat merupakan wilayah yang sangat terkenal dengan kekayaan sumber daya alam, termasuk hewan ternak unggas. Beraneka jenis unggas yang berkembang biak, di antaranya berbagai jenis ayam, itik, angsa, burung hias, dan lainnya. Ayam merupakan jenis unggas yang mendominasi populasi perunggasaan baik di jawa Barat atau pun dalam level nasional. Berdasarkan data Departemen Pertanian (Deptan) tahun 2014, populasi ayam buras, ayam ras pedaging, ayam ras petelur, dan itik di Indonesia tahun 2010-2011 mencapai 2.870.481.000 ekor dan lebih dari 41,05% populasi unggas nasional berada di provinsi Jawa Barat yang mencapai 1.178.233.220 ekor (1).

Bulu merupakan bagian penutup tubuh unggas yang secara umum persentasenya berkisar sebesar 4% dari bobot hidup pada unggas yang berumur 3 minggu dan  7% dari bobot hidupnya pada unggas yang telah berumur lebih dari sama dengan 4 minggu. Bulu merupakan struktur pada unggas yang sifatnya seperti rambut ataupun kuku pada manusia. Saat mengalami kerusakan, bulu tidak dapat memperbaiki sel-selnya yang rusak namun menggugurkannya dan menggantinya dengan tunas-tunas bulu yang baru. Peristiwa tersebut dikenal dengan istilah molting. Di negara yang beriklim subtropis, periode molting dipengaruhi oleh musim yang sedang terjadi dan hanya berlangsung 2 kali dalam setahun. Namun, hal tersebut berbeda dengan karakter molting pada unggas yang berkembang di daerah tropis. Proses molting tidak bergantung pada musim dan dapat berlangsung setiap saat (2).

Saat proses molting unggas dapat menggugurkan hanya beberapa helai bulunya hingga sekitar 70-80% dari total bulunya2. Berdasarkan data populasi unggas nasional tahun 2014, persentase bulu dari bobot badan setiap tipe ukuran unggas, maka dapat dilakukan perhitungan dari data Deptan selama dua tahun tersebut dengan asumsi persentase molting sebanyak 50% dari total bulu, maka didapatkan tiga pengklasifikasian data. Berdasarkan bobot hidupnya, unggas dibedakan menjadi tiga tipe yakni unggas tipe ringan dengan bobot kurang dari sama dengan 1.8 kg, tipe medium dengan bobot kurang lebih sama dengan 2.5 kg, dan tipe berat dengan bobot kurang dari sama dengan 3.0 kg. Jika setiap tipe diasumsikan berjumlah sepertiga dari populasi total maka akan dihasilkan bulu setiap tahunnya sekitar 44000 ton dari unggas tipe ringan, 61117 ton dari unggas tipe medium, dan 73341 ton dari unggas tipe berat. Jumlah limbah yang didapatkan dari hasil perhitungan tersebut merupakan jumlah bahan baku yang sangat banyak ketersediannya untuk dimanfaatkan dan mendapatkan value added. Bulu unggas yang dihasilkan dari proses molting masih minim pemanfaatannya, berbeda dengan limbah bulu dari rumah pemotongan yang basah dan kotor yang telah termanfaatkan dan diolah menjadi tepung bulu untuk pakan meskipun kecernaannya rendah yang hanya mencapai 5%.  Jika limbah bulu proses molting tidak dimanfaatkan atau dibuang tanpa pengolahan maka akan menyumbang mengenai permasalahan pencemaran lingkungan karena bulu unggas memiliki protein keratin yang sulit terurai oleh tanah. Hal tersebut akan berdampak pada pelestarian lingkungan, terutama akan menyulitkan air untuk diserap tanah dan akan menyebabkan kurangnya nutrien dalam tanah yang dibutuhkan oleh alam. Oleh karena itu dalam menjaga keasrian lingkungan, perlu adanya penanganan terhadap limbah bulu unggas. Minimnya pemanfaatan limbah bulu unggas hasil proses molting di Indonesia, menjadikan ide ini sebagai suatu peluang usaha yang menjanjikan.

[huge_it_slider id=”3″]

Selain berfokus pada limbah bulu unggas, Indonesia juga memiki potensi lain yang dapat diangkat menjadi tema karya asli bangsa yakni seni budaya sukunya. Sulam tapis merupakan salah satu seni menyulam yang berasal dari Suku Lampung yang kurang dikenal oleh masyarakat Indonesia di daerah lainnya.   Berlatar pendidikan berbasis pertanian secara luas permasalahan ini dapat diangkat menjadi sebuah gagasan atau ide bisnis dengan judul Pegasus: Lukisan Berbahan Dasar Bulu Unggas Lokal dengan Aksen Sulam Tapis sebagai Solusi Penanganan Limbah Peternakan dan Pelestarian Seni Budaya Suku Lampung”. Usaha ini bergerak di bidang pengelolahan limbah bulu unggas seperti ayam, bebek, angsa, dan jenis unggas lainnya untuk dimanfaatkan kembali menjadi bahan baku hiasan yang bernilai seni tinggi yaitu feathers painting. “Pegasus” yang merupakan akronim dari painting art, livestock, and custom merupakan sebuah inovasi dalam memperkenalkan ternak unggas dan salah satu budaya lokal Indonesia dengan beragam bentuk unik yang tertuang dalam sebuah media lukis. Selain sebagai hiasan yang bernilai seni, inovasi lukisan bulu unggas ini dikembangkan menjadi tapestry dua dimensi yang dikolaborasikan dengan sulam tapis untuk mengangkat kembali seni budaya lokal Suku Lampung agar terus terlestarikan dan semakin dikenal oleh generasi muda Indonesia.

Di samping value berupa nilai seni, pengenalan kekayaan sumber daya alam lokal, kearifan budaya, dan nasionalisme, Pegasus juga memiliki tujuan lain sebagai suatu karya seni berbasis bisnis yaitu menambah manfaat by product dari industri ternak unggas untuk meningkatkan kesejahteraan petani (peternak unggas) dan para seniman serta sebagai sebuah solusi untuk menangani limbah pertanian berupa bulu unggas. Beberapa hal yang membedakan produk hiasan lukisan bulu ungags dengan produk yang lain adalah penggunaan bulu unggas sebagai bahan baku utama lukisan bukan sebagai media lukis. Bulu unggas yang dijadikan bahan baku lukisan dipertahankan keaslian motif serta karakter warnanya tanpa menambahkan pewarna untuk memberikan warna baru. Hal tersebut dilakukan agar tujuan pengenalan berbagai jenis unggas lokal sebagai kekayaan sumber daya alam Indonesia dapat tercapai. Produksi bulu unggas dan sulam tapis menjadi sebuah hiasan juga diharapkan dapat memperkaya keragaman produk asli Indonesia. Produk dibuat dengan standar kualitas yang baik namun dengan harga yang relatif cukup rendah. Hal ini disebabkan bahan baku utama yang digunakan adalah limbah bulu yang ketersediaannya melimpah dan mudah diperoleh. Usaha hiasan feathers painting ini tidak luput dari berbagai risiko yaitu risiko SDM, karena dalam pembuatan lukisan ini dibutuhkan ahli dalam jumlah yang cukup banyak untuk memenuhi permintaan pasar. Bisnis ini dijalankan dengan beberapa strategi khusus penerapan dari 4P (Product, Place, Price, Promotion) yang berbeda dengan para kompetitor lainnya. Dengan demikian bisnis ini diharapkan dapat berjalan dengan baik sesuai dengan visi yang dibawa yaitu “Optimasi Potensi Lokal yang Ramah Lingkungan dan Berbasis Wawasan Budaya untuk Meningkatkan Kesejahteraan dan Perekonomian Rakyat”.

Referensi :

(1) Data Statistik Populasi Unggas Nasional dan Propinsi Jawa Barat , Deptan 2014

(2) A Reference Guide to Gulls of the Americas by Steve N. G. Howell, Jon Dunn, 2007

 

Isma Firliani
Isma Firliani
Mahasiswa Program sarjana, Institut Pertanian Bogor 2012, Departemen Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan yang hobi menggambar sketsa (sketching). Saat ini, menjadi bagian dari Staff of Community Development di UKM Forum for Scientific Studies (Forces IPB) dan Staff of Internal Divison dari Local Commite Indonesian Green Action Forum (IGAF) IPB. Tertarik mengenai penyelamatan lingkungan, pengembangan peternakan, dan sumber energi terbarukan.

2 Comments

  1. Berapa harga satu buah lukisannya? 🙂

  2. Saya juga berkutat dengan limbah bulu ayam seperti anda, jika anda di seni, saya membuatnya menjadi tepung bulu ayam sebagai bahan pakan. selain sebagai bahan pakan saya juga membuatnya sebagai bahan asesories wanita, ini kegiatan sampingan saya selain sebagai pengajar. sukses selalu

Leave a Reply