Peran Strategis Pemuda Indonesia Pada 2015
Jan 6, 2015
Menjadi Entrepreneur
Jan 8, 2015

Padi Tahan Kekeringan : Sebuah Langkah Berani Menuju Swasembada Beras

1“Dikatakan Dewa Ketut Sadra Swastika dari Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSE-KP), bahwa swasembada beras hanya dapat dicapai tahun 1984 dan 2008. Ironisnya, menurut catatan Slamet Budijanto dan Azis Boing Sitanggang peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB), sampai saat ini Indonesia masih bergantung impor dari beberapa negara lain, khususnya dari wilayah Asia, seperti Vietnam dan Thailand. Bahkan, Bayu Khrisnamurti dosen Departemen Agribisnis IPB, mengatakan bahwa Indonesia telah menjadi negara importir beras terbesar di Dunia”

Indonesia pada dasarnya adalah negara agraris dengan beras sebagai makanan pokok (staple food). Meskipun demikian, setelah 70 tahun merdeka Indonesia belum berhasil mencukupi kebutuhan pangan dari produksi sendiri. Padahal total luas daratan berdasarkan data Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat (Puslittanak), Atlas Arahan Tata Ruang Pertanian Indonesia berskala 1 : 1.000.000,  memiliki luasan sekitar 188,20 juta hektar. Dari total luasan tersebut ternyata hanya  40,20 juta hektar yang termasuk lahan basah (22%), sedangkan sisanya sebagian besar merupakan lahan kering yang mencapai 148 juta hektar (78%). Oleh sebab itu, pengembangan teknologi budidaya padi di lahan kering dapat dipandang sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas padi nasional.

Upaya peningkatan produktivitas padi di lahan kering antara lain dapat dilakukan melalui perbaikan genetik padi tahan kekeringan. Perbaikan genetik didasarkan pada pendekatan konsep pemuliaan tanaman, sehingga didapatkan gen tahan terhadap kondisi lingkungan pertumbuhan yang terbatas airnya, yaitu hamparan lahan yang tidak pernah tergenang, atau digenangi air pada sebagian besar waktu dalam setahun atau sepanjang waktu, sebagaimana didefinisikan oleh Ai Dariah, Achmad Rachman dan Undang Kurnia peneliti dari Balai Penelitian Tanah (Balittanah).

Introduksi padi tahan kekeringan pada lahan kering yang mendominasi 78% daratan Indonesia, sesungguhnya merupakan terobosan besar yang akan mampu mendongkrak produktivitas padi nasional. Disamping itu, produksi padi juga diharapkan akan sepanjang tahun tanpa terhalangi musim kering. Hal tersebut tentu memberikan harapan akan tercapainya ketahanan pangan nasional, sesuai amanat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan.

Penelitian dengan topik padi tahan kekeringan terus berkembang, bahkan Endang Gatri Lestari, peneliti Balai Besar Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB Biogen), telah menguji daya tembus akar padi mutan generasi R1 hasil seleksi in vitro dibawah kondisi cekaman kekeringan -0,97 MPa, pada lapisan campuran vaselin dan parafin (40% : 60%) yang memberikan tingkat kekerasan -1,2 MPa. Penelitian ini dilakukan saat beliau menyelesaikan pendidikan doktornya di Institut Pertanian Bogor.

2

Dokumentasi penelitian Endang Gatri Lestari dapat dilihat pada gambar di atas. Gambar A menampilkan pot plastik yang dilapisi campuran parafin dan vaselin, dimana pot berisi tanaman diletakkan di atas gelas yang berisi larutan hara Yoshida. Gambar B menunjukkan akar yang menembus lapisan dasar pot. Gambar C merupakan diagram jumlah akar yang menembus lapisan dasar pot yang bervariasi antar mutan generasi R1 pada minggu Ke-4 setelah tanam.

3Upaya perbaikan genetik padi tahan kekeringan terus dilakukan, sehingga banyak diantara hasil penelitian yang telah masuk tahap pelepasan. Beberapa hasil pemuliaan padi tahan kekeringan dari Universitas yang telah masuk tahap pelepasan, diantaranya adalah Inpago Unsoed 1. Varietas budidaya (kultivar) Inpago Unsoed 1 selain tahan kekeringan juga memiliki beberapa kelebihan antara lain bersifat aromatik, pulen, umur genjah, dan produksi tinggi, seperti tercantum dalam deskripsi varietas sesuai SK Nomor : 3165/ Kpts/SR.120/7/2011 tanggal 4 Juli 2011, dan sertifikat Hak PVT Nomor : 00233/PPVT/ S/2013 tanggal 12 November 2013.

4Keberadaan Inpago Unsoed 1 tak lepas dari jerih payah kedua Guru Besar (Profesor) dari Universitas Jenderal Soedirman selaku pemulia, yaitu Totok Agung Dwi Haryanto dan Suwarto. Bahkan, tidak lama kemudian telah dikembangkan sister line dari Inpago Unsoed 1, yaitu Inpago  JSPGA  136 dengan kelebihan berupa toleransi terhadap serangan hama wereng, sesuai sertifikat Hak PVT nomor : 00163/PPVT/S/2012. Meskipun baru saja memperoleh hak PVT, kedua kultivar tersebut sangat diminati oleh petani maupun industri. Saat ini, kedua kultivar tersebut sudah bisa dinikmati dan diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat secara umum.

Bagus Herwibawa
Bagus Herwibawa

Bagus Herwibawa, S.P., M.P. merupakan Aktivis Sadar Kelestarian Lingkungan, yang berprofesi sebagai Petani Ramah Lingkungan, Praktisi Pertanian Kota, dan Pemulia Tanaman Padi.

Leave a Reply