Dari Pemuda, Untuk Desa, Demi Ketahanan Pangan Indonesia
Jul 14, 2014
Kafe “Pay As You Feel”: Berdagang Sampah Makanan di Inggris
Jul 16, 2014

Negeri Tempe yang Masih Mengimpor Kedelai: Mungkinkah Meningkatkan Produksi dan Produktivitas Kedelai Lokal?

ookingtackle.blogspot.com/2011/12/tempe-chips-kripik-tempe.html

Siapa tidak kenal tempe, makanan dari kedelai ini memang rasanya pas di lidah orang Indonesia, belum lagi tempe juga merupakan salah satu sumber protein nabati dengan harga yang cukup terjangkau untuk sebagian besar masyarakat Indonesia. Beberapa orang ada juga yang merasa makan tanpa tempe rasanya belum lengkap. Sayangnya, tempe yang kita makan biasanya tidak dibuat dengan menggunakan kedelai lokal. Tempe favorit bangsa kita ini, kedelainya mungkin saja sudah menempuh jarak ratusan kilometer dari negara-negara lain termasuk Amerika.

Pertanyaan “Mengapa Indonesia tidak bisa membuat tempe dengan kedelai lokal?”, “Mengapa produktivitas kedelai di Indonesia masih terhitung rendah dan kalah dengan kedelai impor?” Mari kita coba menjawab persoalan ini satu persatu. Salah satu kendalanya adalah bulir kedelai lokal kebanyakan terlalu kecil, terutama jika ingin digunakan untuk membuat tempe. Sebagai orang yang dulu sempat bertempat tinggal di dekat pabrik tempe, saya tahu betul bahwa seringkali pembuat tempe mengeluhkan kualitas kedelai lokal yang mudah pecah atau hancur ketika dibuat tempe.

kedelai

Gambar 1. Kedelai lokal, bulirnya masih sangat kecil (Dok. Pribadi)

Hal ini juga menimbulkan persoalan lain karena hasil panen petani kedelai menjadi sangat kecil. Dalam sebuah kunjungan saya ke Jember, Jawa Timur petani mengatakan bahwa bertanam kedelai bukanlah hal yang menarik bagi mereka. Dengan luas lahan sebesar 1 ha misalnya, hasil panen maksimal yang bisa diperoleh biasanya hanya sebesar 1,3-1,5 ton itu pun dengan catatan panen berhasil. Harga jualnya? Harga tertinggi memang bisa mencapai Rp 7.500/ kilogram tapi itu lagi-lagi jika hasil panen baik. Kadang ketika hasil panen tidak baik hargnya bisa jatuh sekali menjadi Rp 3000-Rp 5000/ kilogram.

Trend saat ini memang harga jual kedelai lokal di pasaran menjadi lebih murah dibandingkan kedelai impor, tapi karena kualitas kedelai lokal masih kalah jauh dengan kedelai import maka mau tidak mau petani harus membeli kedelai impor. Lagipula, pengusaha yang menggunakan kedelai sudah terlanjur bergantung dengan kedelai impor.

Sebenarnya hal seperti ini bisa diatasi dengan perbaikan bibit. Salah satu inovasi bibit kedelai yang pernah diujicoba di lapangan antara lain kedelai hasil pemuliaan mutasi radiasi yang dikembangkan oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Sebutlah beberapa varietas seperti Tengger, Meratus, Rajabasa, dan Mitani[1]. Bahkan ada varietas terbaru yang diberi nama Gamasugen yang diluncurkan pada tahun 2013 lalu[2]. Varietas-varietas ini jauh lebih tahan dengan hama, termasuk hama karat daun yang biasanya sering menyerang kedelai. Varietas hasil rekayasa ini juga memiliki bulir yang jauh lebih besar dibandingkan bulir kedelai varietas lokal pada umumnya.

[ads1]

Sayangnya, sejak varietas-varietas ini diluncurkan pada suatu tahun tertentu dan diujicobakan kepada petani, varietas itu kemudian menghilang begitu saja. Ketika berkunjung ke Jember misalnya, para petani sebenarnya menyayangkan hilangnya varietas Gamasugen yang sempat mereka peroleh tahun lalu dan berhasil panen namun kemudian mereka tidak pernah mendapatkan benih itu kembali. Mereka pun bertanya-tanya apakah  tidak ada pengembangan lebih lanjut dari varietas tersebut. Saya pun tidak tahu nasib varietas-varietas tersebut, apakah mungkin sebenarnya dipasarkan namun hanya di daerah-daerah tertentu ataukah memang hanya sekadar mahakarya di tingkat laboratorium, tapi yang pasti petani kedelai sebenarnya merindukan varietas-varietas seperti ini.

Masalah lainnya adalah masalah tanah dan lahan. Karena rendahnya produktivitas kedelai dan juga rendahnya harga jual maka petani biasanya menanam kedelai hanya sekedar sebagai tanaman sampingan ketika ada sedikit sisa lahan setelah mereka menanam tanaman lain seperti padi atau jagung. Hal ini diperparah dengan semakin tingginya tingkat konversi lahan dari pertanian menjadi perumahan dan area bisnis. Masalah lainnya adalah ada beberapa daerah yang sebenarnya memang tidak cocok ditanami kedelai, misalnya karena kadar keasaman tanah yang tinggi dan lain sebagainya.

Bukan berarti belum ada penelitian untuk mengatasi hal ini, IPB misalnya memanfaatkan lahan rawa pasang surut untuk bisa ditanami kedelai yang kemudian dinamakan Teknologi Budidaya Jenuh Air (BJA)[3]. Lahan rawa yang tingkat keasamannya tinggi bisa diakali dengan melakukan penambahan zat kapur. Konon jika teknik ini dijalankan dengan baik maka selain mengatasi permasalahan keterbatasan lahan kedelai juga bisa meningkatkan produksi kedelai hingga dua kali lipat.

Kalau begitu praktikan saja di seluruh penjuru Indonesia!Tunggu dulu, dengan luas daerah yang sangat luas, Indonesia juga memiliki karakter lahan dan karakter iklim yang berbeda-beda. Belum tentu teknologi yang berhasil diaplikasikan di suatu daerah bisa berhasil juga diaplikasikan di daerah lain. Masalahnya, pengetahuan petani kita dalam mengelola lahan juga masih terbatas, jangankan paham dan peduli dengan tingkat keasaman tanah atau perubahan iklim, untuk masalah pemupukan saja petani kita seringkali masih melakukannya berdasarkan naluri mereka saja. Maka ini menjadi pekerjaan rumah bagi Kementerian Pertanian dan juga Dinas-Dinas Pertanian di seluruh daerah untuk bisa lebih giat lagi membantu dan menambah pengetahuan para petani, tentu ini juga membutuhkan kesabaran ekstra dan waktu yang cukup panjang, namun hal ini bukanlah hal yang mustahil untuk dilakukan.

Saya bermimpi suatu hari nanti, entah kapan, rakyat Indonesia bisa memakan tempe yang bahan baku kedelainya sebagian besar berasal dari Indonesia sendiri. Dikembangkan dan diolah dengan perpaduan ilmu pengetahuan, kerja keras, dan semangat dari bangsa ini sendiri. Kapan? Semoga tidak lama lagi, semoga.

[1] Pusat Diseminasi IPTEK Nuklir BATAN. Kedelai Varietas Unggul Baru Hasil Pemuliaan Mutasi Radiasi. ISSN 0215-0611

[2] Berdasarkan artikel pada: http://www.tempo.co/read/news/2013/12/04/061534478/Batan-Ciptakan-Varietas-Kedelai-Super-Genjah

[3] Berdasarkan artikel pada: http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/08/29/msa9df-atasi-masalah-kedelai-ipb-punya-solusi-sejak-lama

Marissa Malahayati
Marissa Malahayati
Master di Social Engineering, Environmental Economics Lab., Tokyo Institute of Technology. Sedang mengkaji lebih dalam mengenai dampak perubahan iklim terhadap perekonomian. Blogger, pecinta kucing, penyuka buku dan bunga, senang menggambar.

6 Comments

  1. “Mengapa Indonesia tidak bisa membuat tempe dengan kedelai lokal?”, “Mengapa produktivitas kedelai di Indonesia masih terhitung rendah dan kalah dengan kedelai impor?” Mari kita coba simak penjelasan dari neng Marissa Malahayati berrrikut inii..

    *yeyeye akhirnya makin banyak yg nulis di Beranda Miti.. ayo yg teman2 lain ditunggu kontribusinyaaa yaa ^_^

  2. hahahahaha…. 😀 terima kasih banyak juga MITI mau menampung ide2 dari banyak orang ^O^/

  3. Gambarnya itu lo Riska, membuat pada ngiler

  4. kenapa kamu diam sajaaa, padahal kamu "tahu" :)))

  5. harus ditingkatku biar banyak tempe goreng,tempe bacem,oseng2 tempe..hahhaa

  6. hiya si pendi, nih gw tambahin, tempe mendoan, tempe orek, steak tempe 😀

Leave a Reply