8 Alasan Tiket Pesawat Bisa Dijual Murah
Jan 9, 2015
Stop Konsumsi Daging demi Atasi Pemanasan Global? Mari Kaji Kembali!
Jan 26, 2015

Mimpi Universitas Riset dan SPP Mahasiswa S3

5067_1087835475461_8043223_n

“Menjadi Universitas Riset” merupakan visi-misi yang diacanangkan oleh banyak universitas di Indonesia. Menurut saya, target untuk menjadi Universitas Riset tidak akan tercapai jika universitas masih memungut biaya untuk menempuh studi S3.

Lho, bagaimana bisa?

Mari kita renungkan lebih lanjut, pihak manakah yang akan mendapat keuntungan dari hasil penelitian S3: mahasiswa ataukah universitas yang bersangkutan?

Saya pikir, hasil penelitian S3 tidak akan hanya menguntungkan bagi mahasiswa peneliti tetapi juga bagi universitas yang menyelenggarakan program S3nya. Hasil-hasil riset yang (pada umumnya) dikerjakan dengan begitu sungguh-sungguh dan sepenuh hati (bahkan sampai mati-matian –karena kalau tidak demikian sang mahasiswa tidak akan lulus-) tentunya akan banyak membantu sebuah universitas dalam mencapai visi-misi menjadi Universitas Riset.

Dengan keuntungan yang didapat oleh universitas tersebut, maka universitas harus berani untuk tidak memungut sepeser pun biaya dari mahasiswa S3. Bahkan, akan lebih baik jadinya apabila universitas justru mencarikan dana dan atau memberikan bayaran bagi mahasiswa S3 atas pelaksanaan risetnya. Sebagai timbal balik, tiap-tiap mahasiswa S3 harus mampu memproduksi hasil riset yang benar-benar berkualitas.

Jika biaya program S3 adalah gratis, bahkan mahasiswanya pun dibayar, maka akan lebih banyak lagi sumber daya manusia Indonesia yang berminat melanjutkan pendidikan ke jenjang S3. Selain itu, professor yang akan menjadi pembimbing dalam penelitian calon mahasiswa S3 tentu akan betul-betul serius dalam melakukan seleksi (kan sayang sekali jika harus membuang-buang uang untuk kandidat yang tidak betul-betul mumpuni!). Pada akhirnya, para calon peraih gelar S3 di Indonesia akan terdiri dari kandidat-kandidat yang bagus, tak sekedar orang-orang yang mampu untuk membayar SPP dan biaya-biaya lain untuk menempuh program doktoral.

…apakah ini hanya sebatas mimpi, atau dapat diterapkan di Indonesia?

Hehehe

 

 

 

—————————————————————-
Rubrik SerSan, -Serius tapi Santai-, merupakan rubrik terbaru di berandainovasi.com yang berisikan catatan ringan nan menginspirasi pembaca.

Ayo tuliskan komentar Anda untuk menanggapi tulisan SerSan periode 29 Januari- 04 Februari 2015: ‘Mimpi Universitas Riset dan SPP Mahasiswa S3’, komentar terpilih akan mendapatkan buku “The Innovation Killer: How What We Know Limits What We Can Imagine –and What Smart Companies Are Doing About It” karya Cynthia Barton Rabe!

 

Selamat berkontribusi melalui tulisan dan komentar yang membangun!

Dr. M. Abdul Kholiq
Dr. M. Abdul Kholiq

Kepala Seksi Pelayanan Technology dan Kerjasama, Balai Teknologi Lingkungan, BPPT

15 Comments

  1. Sekilas sebenarnya Pak Kholiq, apa kendala kita belum bisa menjadi universitas riset, ? khwatirnya nilai jual dari riset yang kita lakukan belum begitu tinggi, sehingga jumlah perisetnya banyak tetapi hasil yang bisa dijual tidak maksimal, alhasil kampus mengeluarkan banyak dana tetapi timbal baliknya tidak sesuai, dan apakah itu 100% kebijakan universitasnya atau ada peran pemerintah khususnya untuk bisa mencapai mimpi itu pak ?

  2. Bagi saya pendidikan adalah kebutuhan sebagai insan ciptaan Tuhan YME yaitu manusia. Mimpi menjadi universitas riset adalah kenyataan, jika beberapa pihak baik peneliti, dosen pembimbing/promotor, instansi/lembaga yang menjadi wilayah lokasi riset memahami apa arti penting dari sebuah riset. Tentu bisa jika dilakukan sinergisitas antar komponen bangsa sehingga hasil dari riset menjadi bagian dari upaya mencapai tujuan dari berbagai intansi/lembaga.
    Sayang sekali, pendidikan menjadi mahal dari tahun ke tahun. Bangsa ini sebenarnya mampu membiayai warganya jika guru/dosen pembimbing diberikan intensif yang setara dan sepadan untuk menghasilkan insan-insan yang berpendidikan tinggi. Insan Kamil: sebuah isitilah yang sering digembar gemborkan oleh founding fathers kita khususnya Ir. Soekarno adalah tujuan sebagai manusia, sehingga semua pihak yang ingin menciptakan isnan kamil harus bahu membahu demi generasi yang akan datang lebih baik dan bermartabat. Bisa dibayangkan jika biaya proyek yang dikorupsi oleh berbagai pihak digunakan untuk membiayai studi dan riset sudah lebih dari cukup. Bukan memakai uang korupsi, tetapi proyek harus didasarkan pada kebutuhan riil bukan dilebih-lebihkan sehingga digunakan keuntungan oleh pihak-pihak tertentu. Semoga saja kita dapat mewujudkan mimpi menjadi universitas riset dan spp mahasiswa S2, S3 gratis ditengah-tengah himpitan jaman yang semakin edan ini.
    Salam Indonesia,
    Faridh Almuhayat
    Mahasiswa Pascasarjana IPB 2012

  3. Mewujudkan Universitas Riset tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada faktor internal dan ada faktor eksternal universitas yang berpengaruh. Contoh faktor eksternal adalah kebutuhan industri akan hasil riset, baik yang dilakukan di/oleh lembaga litbang atau pun di/oleh universitas. Kalau kebutuhan industri akan hasil riset besar, upaya mewujudkan suatu universitas riset akan semakin mudah, dan demikian juga sebaliknya. Bagaimana kebutuhan industri akan hasil riset di indonesia? Kualitatif saya bisa katakan, masih rendah. Semoga ke depan membaik.
    Contoh faktor internal, ya kualitas dari riset-riset yang dilakukan, apakah sudah sesuai dengan kebutuhan industri/pengguna hasil riset. Kalau sudah sesuai, apakah sudah bisa memberikan solusi/jawaban dari kebutuhan tersebut.
    Masih banyak faktor-faktor yang lain yang bisa dielaborasi. Sayangnya jangkauan saya terbatas dalam melihat/menengok kondisi internal universitas di Indonesia. Mungkin teman-teman dosen dan entitas perguruan tinggi dalam negeri bisa mengealobari lebih banyak. Saya hanya mencoba memberikan suatu (usulan) indikator tercapainya universitas riset, yaitu jika mahasiswa S3 tidak perlu membayar SPP.

  4. Mungkin teman-teman para dosen/civitas akademika dari perguruan tinggi bisa membahas "keluhan" di atas, bahwa biaya pendidikan tinggi semakin tinggi. Saya tidak dalam kapasitas menilai. Tapi, bukannya dana dektor pendidikan sudah 20% dari APBN?

  5. Terus terang, saya menunggu komentar dari para dosen dan civitas akademika yang lain. Saya hanya sekedar melontarkan suatu usulan indikator sekedar suatu univeritas riset. Ini dari pengalaman saya melakukan S3 di LN, di mana saya melakukan riset, dan dibayar sebagai researcher dalam penelitian tersebut. Saya tidak harus membayar SPP. Saya hanya membayar iuran mahasiswa yang itu dipakai untuk kebutuhan mahasiswa sendiri (harga tiket kendaraan umum bulanan yang sangat murah, jauh lebih murah dari tiket bulanan anak sekolah), potongan harga menu makan/minum di kantin, dan kemudahan-kemudahan yang lain.

  6. saya percaya ketika Indonesia fokus dalam peningkatan kapasitas SDM, tidak mungkin tidak pasti akan sangat memperhatikan aspek pendidikan dimana riset turut menjadi bagian penting di dalamnya. Terlebih ketika Indonesia ingin mengejar ketertinggalannya dengan negara-negara yang lain tentu bidang-bidang strategis terkait sudah semestinya berbasis IPTEK dan mengarah ke innovation driven. Dan untuk mewujudkannya tak pelak butuh banyak SDM memadai nan berkualitas, semisal peneliti/researcher.

    Anggaran fungsi pendidikan yang telah mencapai 20% APBN sesuai amanat UUD 1945, hingga pemerintah memiliki program bantuan operasional sekolah (BOS), menyalurkan berbagai beasiswa, dan meningkatkan kesejahteraan guru. Sayangnya, anggaran untuk bidang iptek tetap minim. Padahal pendidikan dan riset menurut saya merupakan satu kesatuan yang saling mendukung satu sama lain tak terkecuali dalam hal dana. Hal tersebut saya rasa sangat krusial dalam konteks ingin mewujudkan visi Indoesia emas tahun 2050. Oleh karena itu, dewasa ini sangat diperlukan konsep pendidikan yang visioner sebagai langkah awal dalam mewujudkan visi tersebut. Dan mungkin hal tersebut bisa tercapai dengan diawali membuat kebijakan gratis biaya SPP. bagi mahasiswa S3 dan akhirnya meluas ke aspek kemudahan-kemudahan yang lain, semoga 🙂

    • abduh38 says:

      To Ari Akbar:
      Menarik tambahannya. terima kasih.
      Sederhana menurut saya, ketika digratiskan, maka orang akan berbondong-bondong untuk mendaftar (bukan hanya karena dia punya duit utk bayar SPP dan biaya penelitian dll), dan ketika kandidat sangat banyak, maka persaingan akan sangat ketat. hanya orang-orang yang qualified yang bisa masuk/diterima.

    • SELAMAT, Ari Akbar! Anda menjadi pembaca Beranda yang komentarnya terpilih sehingga bisa mendapatkan buku “The Innovation Killer: How Wha We Know Limits What We Can Imagine –and What Smart Companies Are Doing About It” karya Cynthia Barton Rabe.

      Redaksi Beranda Inovasi akan segera menghubungi Anda.

      Semangat untuk turut Andil memajukan pendidikan bangsa.
      Kami tunggu kontribusi selanjutnya di Beranda Inovasi!

  7. Pada prinsipnya saya setuju dengan artikel ini. Penggratisan biaya pendidikan jenjang S3 jelas akan meningkatkan kuantitas maupun kualitas peminat S3. Ini akan memantik semangat mahasiswa untuk terus melanjutkan pendidikannya. Usai tamat S1, mereka tinggal memikirkan bagaimana bisa menuntaskan S2, karena setelah itu mereka akan bisa beroleh sesuatu yang sulit untuk tidak dimanfaatkan, S3 gratis. Untuk mengawali, saya pikir pemerintah harus turun tangan dengan cara menentukan beberapa perguruan tinggi untuk program S3 gratis ini, disesuaikan dengan anggaran yang ada. Bagi perguruan tinggi swasta jelas ini pilihan yang cerdas. Ini akan membesarkan perguruan tingginya. Kita sudah jauh tertinggal, dan sekaranglah saatnya.

    • abduh38 says:

      To Betri Wendra:
      Awal bolehlah support pemerintah, tapi kalau itu yang terjadi, usulan saya untuk menjadikan “gratisnya SPP utk mahasiswa S3” menjadi salah satu indikator tercapainya suatu research university belum tercapai.

  8. Kalau saya justru melihatnya dari logika begini, dengan membayar saja, justru penelitian yg dihasilkan tidak berkualitas, pembinaan yg dilakukan prof. Pun tidak dilaksanakan maksimal, apalagi gratis bisa2 tambah tidak berkualitas, tambah jauh dari harapan.

    • abduh38 says:

      to ordinarypeople1:
      saya juga orang biasa 😀
      terkait hal itu, mungkin juga begini, karena merasa sudah bayar, dia bisa seenaknya. Toh dia yang bayar, dan Prof. yg menerima (sebagian) bayaran …:D
      Sebenarnya secara umum, bukan karena gratis terus bisa seenaknya. Di situ saya rasa peran pembimbing sangat penting. Dan kalau sampai itu terjadi, berarti ada yang salah ketika proses seleksi calon mahasiswa.

  9. To Ari Akbar:
    Menarik tambahannya. terima kasih.
    Sederhana menurut saya, ketika digratiskan, maka orang akan berbondong-bondong untuk mendaftar (bukan hanya karena dia punya duit utk bayar SPP dan biaya penelitian dll), dan ketika kandidat sangat banyak, maka persaingan akan sangat ketat. hanya orang-orang yang qualified yang bisa masuk/diterima.

  10. to ordinarypeople1:
    saya juga orang biasa 😀
    terkait hal itu, mungkin juga begini, karena merasa sudah bayar, dia bisa seenaknya. Toh dia yang bayar, dan Prof. yg menerima (sebagian) bayaran …:D
    Sebenarnya secara umum, bukan karena gratis terus bisa seenaknya. Di situ saya rasa peran pembimbing sangat penting. Dan kalau sampai itu terjadi, berarti ada yang salah ketika proses seleksi calon mahasiswa.

  11. To Betri Wendra:
    Awal bolehlah support pemerintah, tapi kalau itu yang terjadi, usulan saya untuk menjadikan "gratisnya SPP utk mahasiswa S3" menjadi salah satu indikator tercapainya suatu research university belum tercapai.

Leave a Reply