Global Green Economy Index
Sep 13, 2013
Mengenal Surfaktan
Sep 17, 2013

Mikroalga Sebagai Bahan Baku Energi Baru Terbarukan (Bagian II)

090210_algae_lovley

Sumber: (http://www.oilgae.com/blog/2009/02/stimulus-could-exclude-algae-research.html)

Seperti yang pernah disebutkan sebelumnya, pembuatan biodiesel berbahan dasar mikroalga dapat dipanen dalam waktu yang singkat, budidaya yang mudah dan ramah lingkungan. Untuk memproduksi biodiesel mikroalga secara umum didapatkan dengan dua tahapan. Pertama adalah tahap kultivasi dan kedua adalah tahap produksi.

Tahap kulitivasi skala percobaan dapat dilakukan dengan mengkultivasi 20% kultur segar mikroalga pada 80 liter media menggunakan matahari sebagai sumber cahaya dengan suhu 30-38 oC. Media yang digunakan adalah berupa N dan P dengan perbandingan yang disesuaikan. Pemanenan dapat dilakukan saat OD telah mencapai 0.5. Biomassa basah hasil pemanenan kemudian dikeringkan dengan menggunakan oven. Setelah biomassa dikeringkan dilakukan uji terhadap kadar air, kadar abu, kadar lemak, analisis FFA dan perhitungan rendemen untuk dilanjutkan pada proses pembuatan biodiesel.

Tahap pembuatan biodiesel mikroalga dapat menggunakan dua metode yakni metode mekanik dan metode kimia. Metode mekanik dapat menggunakan pengepresan dan ultrasonic-assisted extraction, sedangkan metode kimia menggunakan chemical solvent oil extraction dan supercritical fluid extraction (Oilgae.com 2013), namun yang paling sering digunakan adalah metode chemical solvent oil extraction. Metode ini menggunakan pelarut kimia untuk mengekstraksi minyak misalnya dengan menggunakan, eter, hexana, atau metanol.

Pada metode ini trigliserida biomassa kering mikroalga diekstaksi menjadi fatty acid metil ester atau biodiesel dengan menuangkan larutan KOH-metanol secara perlahan dan digoyangkan secara kontinyu dengan kecepatan 100 rpm selama 5 jam pada suhu 1000C. Setelah proses tersebut selesai, diamkan hingga dingin kemudian filtrat yang didapatkan dievaporasi dan didekantansi untuk memisahkan biodiesel. Pada lapisan bawah akan didapatkan gliserol sedang pada lapisan atas akan didapatkan biodiesel.  Biodiesel mikroalga kemudian dianalisis kesesuaiannya dengan SNI biodiesel melalui uji bilangan asam, uji densitas, uji bilangan iod, uji bilangan penyabunan, perhitungan rendemen dan perhitungan bilangan setana.

Keunggunlan alga dibanding bahan baku nabati lainnya dalam pembuatan biodiesel adalah proses pengambilan minyaknya dilakukan tanpa penggilingan dan langsung diekstrak dengan bantuan zat pelarut (ekstraksi CO2, ekstraksi ultrasonik dan osmotik) (Juniarto dan Wijayanto 2007). Dengan kandungan 30-70% minyak, mikroalga dapat menghasilkan 58.700 – 136.900 liter biodiesel/ha, lebih besar dibandingkan produktivitas bahan baku lain seperti jagung (172 L/ha), kedelai (446 L/ha), canola (1.190 L/ha), jarak (1.892 L/ha), kelapa (2.689 L/ha) dan kelapa sawit (5.950 L/ha) (Debirmas 2011 dalam Patmawati 2013).

 

Referensi:

Juniarto B dan Wijayanto SA. Optimasi proses pembuatan bioetanol dari mikroalga Chlorella SP. http://eprints.undip.ac.id/36751/1/52.MAKALAH_PENELITIAN1.pdf

Patmawati.  2013.  Produksi Biodisel Secara Transesterifikasi In Situ dari  Mikroalga Chlamydomonas sp. dan Synechococcus sp. yang Dikultivasi dengan Media Teknis [tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

[oilgae]. Algae Oil Extraction. http://www.oilgae.com/algae/oil/extract/extract.html Diakses pada 15 September 2013

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply