Mengenal Biodiesel
Sep 11, 2013
Global Green Economy Index
Sep 13, 2013

Mikroalga Sebagai Bahan Baku Energi Baru Terbarukan (Bagian I)

mikroalgasumber (https://sphotos-b-ord.xx.fbcdn.net/hphotos frc3/p480x480/528640_10151477901327491_929175113_n.jpg)

Penelitian bahan baku untuk energi baru terbarukan saat ini menjadi semakin meningkat dengan adanya kenaikan harga bahan bakar fosil dan perubahan iklim. Anggaran subsidi energi pemerintah semakin berat sebagai akibat dari ketergantungan masyarakat terhadap penggunaan bahan bakar fosil. Selain itu, dengan semakin meningkatnya isu perubahan iklim global, pengembangan dan penelitian bahan bakar diarahkan pada bahan bakar ramah lingkungan.

Salah satu solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah pengembangan mikroalga. Mikroalga atau yang lebih dikenal sebagai fitoplankton saat ini menjadi salah satu bahan baku biodiesel yang paling menjanjikan untuk dikembangkan (Halim et al 2012). Mikroalga adalah organisme tumbuhan primitif berukuran seluler yang memiliki habitat hidup diperairan diseluruh dunia.

Mikroalga memiliki berbagai keunggulan diantaranya dapat dipanen dalam waktu yang singkat, budidaya yang mudah dan ramah lingkungan. Peneliti dari University of California Museum of Paleontology (2006) membagi mikroalga menjadi empat kelompok berdasarkan pigmen yang dimilikinya yakni jenis Chlorophyceae (alga hijau air tawar), Phaeophytae (alga coklat), Rhodophytae (alga merah), dan Chrysophytae (alga emas). Namun demikian alga yang banyak mendominasi adalah alga hijau.   

Mikroalga memperoleh makanannya dengan mengikat CO2 dan melakukan fotosintesis. Hasil fotosintesis ini dikonversi menjadi energi dan berbagai bahan kimia. Mikroalga laut biasanya dimanfaatkan sebagai komponen dasar produk kimia dalam industri makanan dan farmasi, serta menjadi biomarker untuk mengidentifikasi komponen organik dalam sedimen laut. Selain hal diatas, mikroalga berpotensi menjadi bahan baku pembuatan biodiesel dari kandungan lipid yang dihasilkannya.

Kandungan mikroalga yang dapat digunakan untuk biofuel adalah lipid dan asam lemak, khususnya polyunsaturated fatty acid (PUFA) dengan empat atau lebih ikatan ganda (double bonds) dan fatty acid methyl ester (FAME) (Belarbi et al., 2000 dalam Prabowo 2009). Komponen yang diekstrak dari mikroalga untuk bahan biofuel adalah molekul trigliserida atau lebih dikenal sebagai triasilgliserol (triacylglycerol/TAG) yaitu gliserol yang teresterifikasi dengan tiga asam lemak. Trigliserida dicirikan oleh tiga karbon alkohol (gliserol) dan tiga rantai 18 karbon atau 16 karbon asam lemak. Rantai karbon tersebut adalah asam linoleat, asam stearat, dan asam oleat.

Proses selanjutnya adalah analisis komposisi asam lemak dari mikroalga. Pada proses ini asam lemak yang menjadi perhatian adalah asam lemak jenis C16:0 dan C18:0. Kedua komposisi asam lemak inilah yang akan berpengaruh pada daya bakar (bilangan setana) suatu bahan bakar (Patmawati 2013). Selain itu, asam lemak ini memiliki karakteristik yang hampir mirip dengan petroleum diesel dengan 15 rantai karbon. (SL)

 

Referensi:

Patmawati.  2013.  Produksi Biodisel Secara Transesterifikasi In Situ dari  Mikroalga Chlamydomonas sp. dan Synechococcus sp. yang Dikultivasi dengan Media Teknis [tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Prabowo DA. 2009. Mikroalga Laut Tropis sebagai Bahan Biofuel dalam Mengatasi Pemanasan Global dan Krisis Energi Dunia. Institut Pertanian Bogor

 

Beranda Inovasi
Beranda Inovasi

BERANDA INOVASI adalah portal online yang menyajikan informasi di bidang teknologi inovasi, artikel ilmiah populer, dan isu-isu seputar pangan, energi, serta lingkungan.

Leave a Reply